KEDIRI, JP Radar Kediri - Badannya tegap, dengan tinggi dan berat badan yang ideal. Sangat pas dengan perannya di klub yang dia bela, Persedikab, saat ini. Menjadi bek tengah. Yang bertugas menahan gempuran para penyerang lawan.
Dan, kepiawaian sosok bernama lengkap Yohanis Don Bosco Sakliressy ini patut diapresiasi. Musim ini klubnya hanya dua kali kebobolan. Itupun dari titik penalti, bukan dari permainan terbuka.
Di luar itu, ada cerita menarik dalam kiprahnya di sepak bola. Karena Don Bosco tergolong telat berkarir sepak bola.
“Saya telat jadi pesepak bola profesional. Baru berkarir di usia 25 tahun,” ucapnya, sambil duduk-duduk di mess pemain, di Kelurahan Pare, Kecamatan Pare.
Pemain yang akrab disapa Bosco itu punya alasan. Pertama, fasilitas sepak bola di desanya-Desa Tasye, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara-nyaris tidak ada. Baik itu lapangan atau sekolah sepak bola (SSB). Bila ingin bermain bola, dia harus ke luar desa. Yang jaraknya sepuluh menit ditempuh dengan kendaraan bermotor.
“Karena Senin sampai Sabtu harus sekolah, jadi bermain bola hanya Minggu. Itupun setelah pulang dari gereja,” tambah pemain yang kini berusia 29 tahun ini.
Saat tamat SMA, Bosco memutuskan kuliah. Di Universitas Khairun di Kota Ternate. Jurusan yang dia ambil adalah pendidikan fisika.
Nah, saat di Ternate inilah Bosco bertemu banyak orang yang juga cinta sepak bola. Dia pun diajak bergabung ke salah satu klub amatir. Sering mengikuti pertandingan antarkampung alias tarkam. Melalui tarkam inilah kemampuannya diasah.
Sisi buruknya, kuliahnya keteteran. Jatah delapan semester harus dia lalui hingga 12 semester! Problemnya adalah, saat pembuatan skripsi sangat lama.
“Saya macet di skripsi. Bukan karena malas tapi karena terlalu sering ikut tarkam,” kenangnya, sembari tersenyum.
Meskipun tertatih, Bosco akhirnya menyelesaikan kuliahnya. Kemudian kembali ke kampung halaman. Di tempat asalnya itu dia sempat menjadi guru fisika di salah satu SMA negeri. Meskipun tak lama, hanya delapan bulan saja. Sebab, ada klub Liga 5 yang meminangnya. Klub itu, PS Siak, memintanya bergabung.
Bosco pun menyanggupi. Meskipun, awalnya sempat minder. Bagaimana tidak, dirinya tak pernah mendapat bekal sepak bola sejak kecil. Ditambah usianya saat itu sudah 25 tahun. Usia yang terbilang telat berkarir di sepak bola.
Bosco pun semakin bimbang. Memilih antara karirnya sebagai guru atau pesepak bola. Dia berdiskusi dengan kedua orang tuanya. Tak disangka, sang ayah yang juga seorang guru memberi izin. Membuatnya mantap memilih karir sebagai pemain bola.
“Luar biasa senangnya saya dapat izin untuk jadi pemain bola,” aku pemain yang mengidolakan Sergio Ramos ini.
Total, ada empat klub yang sempat dia bela sebelum merapat ke Persedikab. Mulai dari PS Siak, Serpong City, Perseter Ternate, dan Persihalbar Halmahera Barat.
Bahkan sebelum memastikan ke Bledug Kelud, ada lima klub yang meminangnya. Satu di antaranya adalah klub Liga 2. Namun Bosco menolak. Pikirnya Persedikab adalah pilihan yang tepat.
“Istri saya juga langsung setuju saat saya ingin gabung Persedikab,” tandasnya.
“Saya ingin bawa Persedikab lolos Liga 2,” ucapnya, menyuarakan ambisi di hatinya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah