KEDIRI, JP Radar Kediri - Di saat banyak anak seusianya larut dengan gadget, Lusiana Sinta Candra Kirana memiliki hobi yang bertolak belakang: membaca buku. Tak hanya berbuah wawasan yang luas, berbagai prestasi pun digenggam gadis asal Desa Plosolor, Plosoklaten itu.
Kegemaran membaca Lusiana Sinta Candra Kirana tumbuh sejak kecil. Saat duduk di bangku SD, dia sudah membaca berbagai macam buku. Selain buku pelajaran, dia juga membaca berbagai buku ilmu pengetahuan umum.
"Suka aja membaca buku. Dengan membaca aku merasa senang," aku gadis 17 tahun itu tentang kegemarannya membaca buku yang terpelihara hingga sekarang.
Selain menimbulkan rasa gembira, membaca buku juga membuat gadis kelahiran 2006 silam ini berwawasan luas. Bonusnya, alumnus SDN Plosolor ini menjadi juara kelas sejak kelas I sampai kelas VI.
Berbekal gelar juara, gadis yang akrab disapa Shinta ini menjajal kemampuan dengan mengikuti olimpiade matematika. Di lomba pertamanya itu, keberuntungan belum menghampiri. Putri pasangan Sukri dan Siti Maskip ini hanya berhasil masuk 15 besar.
Menelan kekalahan yang membuatnya menyerah. Sebaliknya, dia justru terpacu untuk terus belajar. "Memang dari kecil diajarkan orang tua tidak boleh terpaku pada hasil. Namun kepada prosesnya,” lanjut Shinta sembari menyebut dirinya semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik.
Hari-harinya pun kembali diisi dengan belajar dan membaca. Agar tidak jenuh, sesekali dia menyelingi dengan membaca karya sastra maupun fiksi. Tidak jarang juga membaca komik. "Suka baca karya fiksi sama komik juga, buat menyelingi. Kan nggak terus-terusan belajar," akunya sambil tertawa.
Kegigihannya belakangan berbuah gemilang. Saat di bangku SMP, dia berhasil mengukir banyak prestasi. Baik tingkat daerah hingga tingkat nasional.
"Semua itu jadi pengalaman agar bisa jadi lebih baik," tutur Shinta bangga.
Dia mencontohkan keikutsertaannya dalam Olimpiade Nasional IPS. Meski belum meraih juara I, saat itu dia berhasil membawa pulang medali perak atau juara II. Di SMP pula, Shinta membawa pulang medali perunggu untuk Olimpiade Nasional Sejarah. “Ikut Olimpiade Nasional IPS lagi di SMP dan mendapat medali perak,” urainya.
Deretan prestasi terus menghampiri saat dia duduk di bangku SMK. Siswi SMKN 1 Ngasem ini masih terus mengoleksi medali olimpiade. Terutama di bidnag ilmu sosial dan matematika.
Shinta mengaku mendapat kepuasan saat dia berhasil mengerjakan soal matematika dengan benar. “Rasanya seperti bisa melewati tantangan. Itu bikin candu,” paparnya sembari tertawa.
Di bangku SMK pula, Shinta tertantang untuk mempelajari hal baru. Jika biasanya dia membaca buku tentang ilmu pengetahuan umum, kali ini dia membelajari buku-buku filsafat. “Filsafat itu merupakan induk ilmu, saya jadi tertarik untuk memperdalam itu,” terangnya.Seolah tak puas dengan satu bidang, Shinta tidak hanya menabung prestasi akademik. Melainkan dia juga moncer di bidang non-akademik. Seperti di cabang olahraga renang, badminton, lompat jauh, hingga lari. "Pernah juga ikut lomba tari dan juara dua," akunya.
Semua lomba dilakoni dan dijajal. Shinta mengaku ingin mengasah semua potensi yang dimiliki. "Saya merasa tertantang untuk bisa mendalami banyak hal. Kita tidak boleh mengesampingkan sesuatu," jelas gadis yang bercita-cita menjadi dosen matematika atauilmu sosial itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah