Sejak kecil tertarik dengan olahraga. Menuliskan cita-citanya di sebuah buku, ingin menjadi olahragawan yang bisa membanggakan Indonesia. Impian itu kini mulai menampakkan wujudnya.
EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Tak pernah terbesit di benak Wahyu Nian Tri Firmansyah bahwa dirinya akan menjadi pesilat. Yang dia ingat adalah menjadi olahragawan. Yang bisa membanggakan bangsa dan negaranya.
Namun, dari catatan kecil di buku hariannya itu, dia kemudian berusaha menggali potensi diri. Terutama di bidang olahraga.
"Ketika SD saya main sepak bola. Lalu SMP main badminton," kenang pria asal Desa Damarwulam, Kecamatan Kepung ini.
Hingga akhirnya dia kenal silat. Ketika menuntut ilmu di SMA Negeri 1 Kandangan.
"Awalnya sama orang tua tidak boleh (ikut silat). Karena saya pernah pulang dari tanding itu babak belur," ujarnya sambil tertawa.
Tak hanya soal wajah yang babak belur saja yang membuat orang tuanya kurang suka dengan silat. Karena selama ini Wahyu adalah sosok pendiam. Mereka pun tak percaya anaknya akan terjun di dunia beladiri. Namun, setelah upaya kerasnya meyakinkan orang tua, akhirnya langkah Wahyu direstui.
Namun, rasa iba melihat anaknya dipukuli ketika bertanding masih menghantui orang tuanya. Ada cerita lucu ketika sang ayah ingin melihat anaknya bertanding. Namun, tidak berani secara langsung. Hanya mengintip ketika Wahyu berlatih.
"Lihat dari balik pagar. Baru cerita sekarang ini," bebernya.
Demikian pula ketika pertandingan, sang ortu tak pernah sekalipun hadir. Alasannya, tak tega melihat anaknya.
Sejak pelajar, Wahyu sudah bertanding di beberapa kejuaraan nasional (kejurnas) yang memperoleh perunggu. Salah satunya yang berlangsung di Universitas Airlangga. Selain itu juga tampil di ajang tingkat kabupaten.
Dari silat itu dia berkesempatan menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di kampus itu bakat silatnya kian terasah. Di kejurnas tingkat mahasiswa, dia sering mendapat medali emas.
"Pada 2019, di POMNAS (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional, Red) saya dapat perunggu," ujarnya.
Tapi, saat itu dia tidak memperkuat Jatim. Melainkan Jawa Tengah. Bahkan, karena itu pula dia harus berpindah KTP dan KK.
"Sempat nggak boleh sama orang tua, pandangannya kan kalau keluar KK bukan kayak bukan keluarga lagi. Jadi waktu itu agak lama prosesnya," ungkapnya.
Meski begitu, akhirnya Wahyu mendapat lampu hijau dari orang tuanya untuk mengganti KTP. Selanjutnya, pertandingan-pertandingan pun dilakoninya. Terbaru, dirinya lolos dalam babak kualifikasi PON XXI Aceh - Sumat Utara 2024.
"Target tertinggi saya juara PON. Selebihnya bonus," ujar lelaki yang kini juga menjadi pengajar di kampusnya itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah