Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Tak mudah bagi Wahyu Endah mencapai puncak karirnya saat ini. Lahir dan besar dari keluarga sederhana di sebuah desa kecil di Nganjuk. Dia berjuang menggapai cita-citanya sebagai dokter.
Sebagai dokter muda yang memulai karir di kota besar, banyak terobosan yang ia bawa kembali ke kampung halaman. Semuanya bermuara pada satu tujuan. Yakni, memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.
Wahyu Endah meniti karirnya sebagai dokter mata di Rumah Sakit (RS) Universitas Airlangga Surabaya (UNAIR). Di sana, dia banyak menyerap ilmu-ilmu tentang dunia kesehatan. Khususnya kesehatan mata. Begitu tiba saat ia kembali ke kampung halaman, Nganjuk dan Kediri, pengalaman itu yang coba disalurkannya. Jadi terobosan dunia kesehatan mata yang belum diterapkan di Kota Tahu ini.
“Ternyata informasi tentang kesehatan di masyarakat, terutama mata, masih jauh kurang dibanding Surabaya,” ujar perempuan berusia 36 tahun itu.
Salah satunya pemahaman tentang operasi katarak. Banyak masyarakat terlambat penanganannya karena ketidaktahuan mereka sendiri. Selama ini, operasi katarak dianggap momok. Bahkan tak jarang, dianggap tak bisa sembuh. Itu yang mendorong ibu anak satu ini gencar menggaungkan edukasi kesehatan mata dan screening secara rutin kepada masyarakat.
“Waktu saya ke sini, saya menggalakkan soal operasi mata yang one day langsung pulang. Sekarang banyak orang yang lebih berani operasi katarak karena memang nggak menakutkan. Pakai laser, 15 menit langsung selesai dan langsung pulang,” imbuh dokter yang mulai berkarir di RSUD Gambiran sejak Januari 2023 itu.
Melihat pasiennya kembali bisa membuka ‘jendela dunianya’ itu membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Sebagaimana yang selalu dicita-citakannya sejak kecil. Yakni, menjadi orang yang memberikan manfaat bagi orang lain.
“Awalnya saya enggak tahu ternyata sekolah kedokteran itu mahal. Tapi akhirnya alhamdulillah sejak kecil dapat beasiswa,” kenangnya.
Jika ditarik ke belakang, perjalanannya memupuk karir memang tak gampang. Dia lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Di sebuah desa bernama Sambiroto. Desa kecil di Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. Sebagai anak perempuan satu-satunya, dia dibesarkan dengan penuh kasih. Meski dengan keterbatasan ekonomi. Namun begitu, itu tak membatasi dukungan kedua orangtuanya untuk bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya.
“Orang tua saya meskipun orang biasa, ingin anaknya berpendidikan. Ibu saya nggak pernah bilang ‘Jangan sekolah, Ibu nggak punya uang’. Bahkan dulu untuk belanja sehari-hari saja harus berhutang,” ungkapnya sembari berurai air mata.
Setelah menyelesaikan pendidikan dokter di Universitas Brawijaya Malang, tak serta merta melanggengkan karirnya. Dia dan suaminya yang sama-sama dokter muda, berjuang bersama untuk bisa melanjutkan pendidikan spesialis. Selama merantau di Surabaya, mereka harus mendaftar sebagai abdi negara demi bisa membiayai sekolah spesialis di UNAIR Surabaya.
“Karena kalau sudah PNS (pegawai negeri sipil, red) kan dapat gaji tiap bulan. Kalau tidak ya nggak bisa melanjutkan sekolah. Untuk makan berdua saja ngirit-ngirit,” tuturnya.
Kini, hidup dan karirnya sudah jauh lebih baik. Istri dari Dokter Imam Mahbub Zamzami, dokter spesialis jantung di RSUD Gambiran itu menjadi dokter praktek di dua RS dan satu klinik mata. Selain mengabdi sebagai dokter, ia juga terus menyibukkan diri sebagai ibu sembari terus menggaungkan edukasi tentang kesehatan mata.
“Sebagai perempuan kita harus punya mental baja. Jangan putus asa meski kita berasal dari background apapun,” pesan Endah.