Sudah sekian hari hujan tak bertandang datang. Padahal, setahun lebih hari-hari selalu basah. Tetapi, belakangan cuaca seperti rindu. Sering tak tentu. Begitu kontradiksi, banjir di belantara nusantara justru tak ada habisnya. Pembawa berita riuh dengan headline banjir di mana-mana. Pemerintah sibuk berkeringat dengan bala bantuan. Tak lupa pula, relawan membumbung mengebul bersama asap dapur umumnya. Di sini, hujan tetap saja pada egonya, ia tak bertandang.
Kenapa hujan tak kunjung datang jua kemari? Apakah hujan takut membangkitkan kenangan para bujangan? Hingga membuat para gadis menyesali kekasih yang telah pergi? Dengan alasan mengadu nasib, melanjutkan lembaran studi, atau malah diam-diam menikah dengan pacar barunya?
Malam begitu padam. Lagi-lagi, butiran awan tak membentuk hujan. Secangkir kopi seduhan malam yang tumpah, beberapa baris percakapan, pun sofa sederhana berajut aroma hujan sudah aku persiapkan.
“Apa mungkin semua sia-sia?”
Seperti ketika aku bertanya kabar ihwal lesung pipimu nan goda di senin pagi dengan sedikit tambahan manis mentari. Lalu, semua sekadar berlalu, mengalir di nadi-nadi sungai, menjadi sedimentasi, menganak sungai, merapat menuju hilir, serta berakhir begitu saja di lautan berjuluk samudra. Sejenak kabur serta menjelma jadi partikel beruap di samudra imajinasiku. Kejamnya, itu semua tak menjadikan hujan. Tak lantas dengan cuma-cuma ia rela bertandang. Hanya kerontang malam dengan sedikit embun rampasan dari ujung dedaunan. Bukan hujan.
Meski hujan tetap pada pendirian untuk tak bertandang. Anehnya, permukaan bumi dengan kerontangnya terbanjiri juga. Bagaimana bisa? Toh, hujan tak kunjung datang belakangan hari. Aku jadi khawatir. Terlalu khawatir malah.
“Bagaimana cara menangkal luapan banjir tak diharapkan seperti ini?”
Tanah murka berwujud retak oleh dahaga sirna sudah. Ternyata, banjir purnama telah tak terbendung. Ini waspada. Bisa jadi, butuh segala penampung dengan kerlap purnama yang terpantul sempurna. Apakah selama ini memang belum pernah dibangun penampung istimewa untuk menampung tumpahnya sinar purnama di atas permukaan bumi? Atau barangkali ide ini belum pernah terfikirkan? Ini bahaya. Bayangkan, bagaimana luapan yang akan ditimbulkan? Hujan sinar rembulan itu murni jatuh dari langit. Bukan rekayasa akal manusia. Apalagi sampai jutaan kristalin garam sebagai pemicu hujan. Bukan, bukan itu. Ini memang nyata hujan, tak ada campur tangan. Apalagi tanganmu nan mucuk eri [1] itu. Rasanya aku paling tak ikhlas. Karena itu memang tak mungkin. Menakar ikhlas memang tak segampang membayangkan tahi lalat di dagu kirimu nan goda. Seolah ini jadi pelengkap. Betapa bibirmu yang amat perawan dan setitik warna hitam di dagu adalah goda teramat centil bagiku.
“Ahh, Tuhan tetap saja dengan selera estetika-Nya sendiri memang,” gumamku.
Banjir purnama belumlah usai. Masih saja, pembawa berita riuh dengan headline banjir dimana-mana. Pemerintah sibuk berkeringat dengan bala bantuannya. Tak lupa pula, makin banyak manusia menulis sajak. Tentang purnama yang tak kunjung purna.
Penampung-penampung dengan kerlap purnama yang terpantul sempurna perlu dibangun segera. Apakah harus dilakukan studi mendalam guna menentukan efektivitas pembangunnya? Aku rasa tidak.
“Bangun saja bendungan itu menghadap perasaan seseorang yang sedang tak punya pacar,” pikirku kala itu.
Pendar purnama begitu sempurna. Ia hadir tak sendirian, membawa serta hujan sinarnya. Jatuh membabi-buta pada permukaan bumi pun asa atas dirimu. Ia masih terus mengalir, dari hulu ke hilir. Dari abai jadi segumpal hati yang terlaknat kekal dalam rindu. Dari sungai-sungai menuju rumah muara serta dari aliran pengharapan menuju danau kesetiaan. Maka dari itu, manusia nihil pacar harus dibangunkan beragam tampungan. Biar pendar purnama bermuara dengan benar. Tidak salah nampan. Tidak menggenang di jalan berlubang, menyuburkan ilalang tak bertuan, apalagi menjadikan kalut seseorang yang mudah gamang. Termasuk pula ihwal kerinduaan, ia harus dikirim dengan alamat benar. Malam pula yang menjadikan kerinduan amat jantan. Sungguh, sekali lagi ini memang fenomena alam. Tak ada campur tangan.
Membaca air mukamu yang menyala-nyala pada galeri buah tangan adalah caraku menambah perbendaharaan kosakata tentang “kamu” dalam kamus bahasa.
Barangkali, sejalan aku mengenalmu, lema dalam kamus bahasaku akan bertambah. Banyak kata yang bisa aku perdayakan, saat rindu jahat melaknat. Tuhan masih tetap bersikukuh dengan selera estetika-Nya sendiri.
“Bagaimana aku akan munafik dengan tahi lalat di dagu kiri, sepasang lesung pipi, kacamata berbingkai hitam, serta sepasang bibir membentuk senyum centil nan goda ini?,” tatapan mataku kosong.
Karena memang lelaki ini serba “kosong”.
“Barangkali aku bisa meminjam sesuatu agar abadi,” batinku berkata kuat.
***
Matahari makin surut. Angin berkemas kembali menuju peraduan. Berkumpul, setelah seharian sibuk menyapu keringat para pemilik kerinduan. Menunggu hari perjumpaan. Enyah dari setiap detiknya. Tak ketinggalan, siluet wajahmu begitu goda menyusul. Aku benar-benar sibuk di masa seperti ini. Aku harus segera mengemasi manja, pupil kasih, serta sedikit manis di sudut kiri dagumu.
Jingga pada magrib rupanya terus tergelincir. Aku semakin mempercepat langkah. Awan sedikit enyah hari ini. Entah sedang menyelimuti hati siapa, yang jelas jingga memilih emas hari ini.
“Jangan sampai ada yang ketinggalan,” pikirku.
Kepak anak kelelawar makin kencang. Semua harus segera masuk dalam koper hitam.
Akhirnya aku benar-benar siap menyambut hilangnya matahari. Koper hitamku telah penuh. Aku siap menentengnya. Menghadapi malam yang sedikit lebih panjang daripada biasa. Kadangkala, perasaan pandai dalam membangun situasi. Menjadikan semua tak seperti biasa. Kalut, cemas, kangen, serta gemas menjadi sosok hantu gentayangan yang tak mau pergi. Bahkan, tak berusaha untuk hinggap pada rumah lain.
Di sudut kamar yang gelap, aku pandangi benar-benar koper canvas hitam milikku. Ada semacam gerakan yang entah dari mana sumbernya.
“Apa ini?,” kudekati saja.
Kamar yang gelap serta sedikit pengap akibat tumpukan kardus memperlambat langkah.
“Apa barangkali karena bertuliskan ‘rindu’ ini, ya?”
Kedua kalinya, aku dibuat bingung.
“Dari mana asal tulisan ini?,” aku sibak saja kardus-kardus yang tak jelas asalnya.
Rasa ingin tahu akhirnya menggerakkan langkah kaki lebih cepat. Menyibak tumpukan kardus yang semakin tak karuan. Gulita makin berantakan dengan kardus-kardus bertuliskan “rindu”.
Koper hitam berhasil kubuka. Angin begitu kuat menyeretku menuju lembah. Entah, energi dari mana yang menyeretku. Begitu kuat. Aku melewati sebuah jalan bertanah, terseret pada sisi semak yang entah tak tahu itu dimana, bahkan tubuhku sempat terbentur pada pagar sebuah rumah. Aku tak sempat mengenali alamat pagar bercat biru itu. Kalau tak salah lihat, sepintas aku melihat wajah seorang gadis begitu ranum. Seperti mimpi di tengah malam, kadang ingat, tapi banyak pula kadar lupanya. Sudahlah, aku tak sempat berfikir siapa gadis itu. Apakah ia juga pemilik pagar biru? Yang jelas remuk telah melemparku pada ranjang di sebuah kamar.
“Aku mengenal tempat ini,” kuyakinkan diriku sendiri.
Sedikit remang ditambah gamang. Aku mengamati lingkungan sekitar. Kukenali sudut kiri dari tubuh.
“Bukankah ini rak buku dikamarku?,”
“Dan ini, deretan album fotomu,” imbuhku.
Maaf, aku haruslah jujur adanya. Sebelum terseret pada arus yang amat kuat dari koper hitam. Aku secara diam-diam sering mencetak garis-garis senyum pipimu. Aku simpan dalam album yang diam-diam juga, aku beli dari sebuah toko tak bernama. Harusnya aku berucap “terima kasih”, toko tak bernama telah sukses membantu mengemasi manjamu. Semua itu aku simpan rapi di salah satu sudut kamar ini. Barangkali bisa jadi selimut buat sembunyi, ketika aku takut akan kehadiran kekasihmu seberang sana. Ini bukan soal takut jadi orang ketiga, penganggu, atau malah jadi pengusik lena berkekasih. Aku tegaskan, bukan soal itu. Sebenarnya, bisa saja aku menjadi pemutus mata rantai mimpi milikmu dengan lelakimu. Apalagi kebisingan kota telah memisahkan kalian. Bisa saja, semua itu aku lakukan. Tetapi, kali ini aku benar tak sampai hati. Bukan aku lemah, penakut, pun pengecut. Aku cuma ingin meminjam sesuatu dari lelakimu saja. Pikirku sudah cukup.
Guyuran purnama masih saja tak henti. Kesekian kali hujan tak bertandang. Barangkali di luar sana ada sepasang kekasih tak menghendaki. Mereka sibuk melepas asmara, duduk bercengkerama, secangkir teh untuk berdua, lalu intim pada guyuran purnama. Hangat memang.
“Barangkali ini sebabnya,” aku berangan-angan.
Purnama yang kentara membuatku merebahkan diri pada ranjang untuk sementara. Langit-langit plafon dengan motif bunga, entah dari jenis apa semakin memenuhi pandang. Selain itu, hanya ada pertemuan langit-langit dengan dinding yang begitu lekat. Sorot purnama tanpa permisi masuk dari sela-sela kaca jendala yang sengaja memang aku buka. Barangkali angin yang bertiup membawa kembali dari pusaran misterius koper yang menghisapku. Nyatanya, langit-langit tak sanggup jadi isolasi panas dari penjuru atap. Compang-camping aku dibuatnya.
Seketika, dari atap langit-langit yang berbunga serta bercat putih di kamar itu muncul sesosok wajah. Bukan main kagetku. Tak bisa aku kenali. Kupicingkan mataku kuat-kuat. “Wajah siapa ini?,” masih saja aku belum mampu mengenali.
Sorot purnama yang tak karuan membias ke arah motif bunga-bunga.
“Astagaaaaa,” bukan main kagetku.
Lewat lembut sorot purnama, aku mengenalinya.
“Aku mengenali. Iya, aku benar-benar mengenalinya”
Purnama telah membuatmu makin lekat manja. Aku pikir purnama itu putih dan memang Tuhan dengan estetika-Nya menciptakan satu warna saja, yaitu putih.
“Tetapi, engkau menjelma ranum manis anggur di langit-langit kamar ini,” pikirku.
Engkau menjelma sempurna di antara wajah malam. Dekapan angin lembut, bisikan hewan malam, rintikan embun dari telapak dedaunan, serta guyuran purnama sungguh latar idaman nan sempurna.
Pupil kasihmu belum menjadi bagian sempurna yang aku sebutkan berikutnya. Ia hadir pada setiap motif bunga di langit-langit putih cerah ini. Sedikit tahi lalat manis di sudut kiri dagu beradu bersama motif bunga-bunga.
Aku suka mengulangi, pekerjaan ini membuatku hafal setiap abjad yang ada pada wajahmu nan amat goda itu. “Aku ingin bertemu dengan kekasihmu.”
Bukan untuk merayu, menggerutu, apalagi untuk menjamahmu secara serbu. Bukan itu. Aku tak ingin engkau mendengarnya. Cukup obrolanku serius dengan kekasihmu. Aku takut engkau menjelma daun kuping di sekitar pertemuan kami.
***
“Aku ingin meminjam pacarmu,” sebaris kalimat berlari dari mulutku. “Untuk apa?”
Ekspresi geram kekasihmu menyergapku dengan amat cepat. Persis seperti api yang menjilat-jilat. Maka, aku buang muka saja bersama daun telinga yang memang sengaja tak sempat aku tinggalkan di depan kekasihmu. Buat apa? Karena memang aku tak butuh jawaban apapun, selain potretmu yang semakin membara di perapian asaku.
Malam yang basah semakin mengguyur langit-langit fiksi buatanku. Aku selalu suka dengan manis merah wajah manjamu, dua pupil di masing-masing mata, sepasang lekuk lesung pipi, mawar merah yang kerapkali merekah di bibir, serta sepotong dagu dengan tahi lalat yang membuatku gemas dengan cukup beralasan. Aku suka dengan keramaian wajamu di setiap titik di langit-langit malam ini. Maka dari itu, besar hasratku meminjammu, bukan untuk memilikimu. Aku tak ingin memiliki. Aku hanya sudi menjadi peminjam. Bukankah seorang peminjam punya beban cicilan? Bukankah seorang peminjam wajib menebus tagihan? Bukankah pula seorang peminjam punya kewajiban mengembalikan? Benar, bukan?
Lagi pula, bisa saja perapian imajiku berbeda rupa, kalau-kalau aku memilikimu. Tidak, aku tak ingin memiliki.
Karena aku tahu, keramaian wajahmu pada setiap titik di langit-langit malam ini akan berbeda rupa. Telaga di wajahmu tak lagi bersolek menjadi hijau yang sempurna. Tertutup kabut gunung yang datang membabi buta. Telaga selalu cantik dengan hiasan dedauanan yang amat cemara. Sayangnya, di tepian ia menjuntai bukan kepada surya. Bahkan, ikan-ikan tak lagi betah menjadi penghuni telagamu yang amat cemberut. Aku menolak memiliki. Benar-benar tak kusukai. Cukupkah mendedikasikan seluruh diriku menjadi peminjammu. Sungguh cukup. Aku hanya berhasrat meminjam, bukan untuk memiliki. Camkan!
Malam dengan lingsir selalu menjadi halte untuk menunggu. Dengan begitu, aku bisa mengucap salam lalu merayu Tuhanku. Mendamba menjadi pendoa pada malam sempurna dengan rekahan purnama. Sembari berucap, “Bolehkah aku meminjam pacar dan malam, Tuhan?” (penulis bisa ditemui di afryadichandra@yahoo.com)
(Karanggayam, April 2017)
[1] Mucuk Eri (bahasa Jawa) adalah jari-jemari yang ramping seperti pucuk duri. Biasanya sebagai perlambangan perempuan cantik dengan jari yang lentik.
Editor : adi nugroho