Sowan Sendang hingga Parangkusumo, Guru Sabdo Roso Jalani Tirakat Jaga Warisan Leluhur

Syaikhu Aliya Rahman • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 13:13 WIB
Foto: Dok. Guru Sabdo Roso
Foto: Dok. Guru Sabdo Roso

KEDIRI, JP Radar Kediri — Menurut Abdul Latif atau yang dikenal sebagai Guru Sabdo Roso sowan dalam tradisi Jawa bukan untuk meminta sesuatu. Sowan ia jalani sebagai bagian dari tirakat. Yakni menjalani puasa, berdzikir, dan mendoakan semua makhluk di setiap sumber air yang ia datangi. 

Pengajar kawruh asal Kabupaten Kediri ini sedang memulai tirakat selama tiga pekan pada 30 September hingga 21 Oktober 2026. Dalam laku itu ia akan sowan ke sejumlah sendang di Kediri, lalu mengakhiri perjalanan di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta. 

"Sowan itu bukan untuk meminta. Kita datang untuk menghormati, berterima kasih, dan mendoakan. Sendang itu sumber hidup yang diwariskan leluhur," ujar Latif yang akrab disapa Guru Sabdo Roso ini.

Salah satu sendang yang lekat dengan perjalanan batinnya adalah Sendang Tirto Kamandanu di kompleks petilasan Sri Aji Joyoboyo, Desa Menang, Kecamatan Pagu. Ia berharap tirakat ini juga mengingatkan warga untuk ikut merawat sendang-sendang di Kediri.

Baca Juga: Museum Sri Aji Jayabaya Kediri, Menjadi Salah Satu Destinasi Wajib Bagi Para Pengunjung!

"Menjaga sendang itu bagian dari memayu hayuning bawana, menjaga keselarasan alam. Minimal jangan dikotori," katanya.

Foto: Dok. Guru Sabdo Roso
Foto: Dok. Guru Sabdo Roso

Kawruh untuk Semua Keyakinan

Latif mengajarkan kawruh, yakni pengetahuan batin Jawa untuk mengenal diri. Ia menegaskan ajarannya tidak mengajak orang berpindah agama dan bisa dijalani oleh pemeluk keyakinan apa pun.
Laku yang ia ajarkan antara lain semedi suwung atau duduk hening, laku luhuring budi, olah rasa, dan latihan napas Nafas Roso dengan pola 4-4-6. Materi itu ia bagikan melalui komunitas Nafas Batin di grup Whatsapp, aplikasi di Google Play Store, dan siaran langsung di TikTok yang kini mencapai 43,1 ribu pengikut.

Sebelum mengajar, Latif dulunya adalah trainer produksi dan quality assurance di dua perusahaan manufaktur sekitar enam tahun, lalu lima tahun menjadi manajer proyek di perusahaan perangkat lunak. “Basic digital itu sudah ada untuk saya jadikan metode pembelajaran untuk pengguna medsos,” ungkapnya.  

Baca Juga: Larikan Arca Durga ke Museum Sri Aji Jayabaya Kabupaten Kediri

Perjalanan spiritual Guru Sabdo Roso berlangsung panjang dan penuh liku. Ada masa naik ada masa jatuh justru mengubah jalan hidupnya. Dari memperbaiki diri demi ego menjadi tanggung jawab dan welas asih untuk sesama. Dua dunia itu kini bertemu. Disiplin mutu dari pabrik dan kemampuan membangun sistem dari software house ia pakai untuk menata ajaran leluhur menjadi jalur belajar yang runtut, terbuka, dan bisa diakses siapa saja lewat gawai pintar atau gadget.

Perjalanan Tirakat Jadi Bahan Buku

Tak hanya itu, pengalaman selama tirakat ia tuangkan dalam satu bab tentang welas asih di buku Kawruh Pitulung yang sedang ia susun melalui penerbit Gurusabdo Pustaka.

Latif juga menekankan bahwa tirakat bukan jalan pintas. Ia kerap menolak permintaan "buka aura" maupun pengobatan alternatif, dan selalu menganjurkan orang yang sakit untuk berobat ke tenaga medis lebih dulu.
"Daya itu bukan milik guru. Semua dipinjami Gusti. Tugas kita hanya menjalani laku dengan tulus," pungkasnya.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
Guru Sabdo Roso Abdul Latif Parangkusumo Petilasan Sri Aji Jayabaya Sendang