KEDIRI, JP Radar Kediri – Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mengimbau masyarakat pengguna kendaraan diesel agar lebih cermat memilih jenis BBM. Imbauan itu disampaikan menyusul masih banyaknya pengendara yang belum memahami kecocokan spesifikasi mesin dengan angka cetane number (CN) pada BBM gasoil.
Dalam unggahan resmi Pertamina, ilustrasi pemakaian charger ponsel yang tidak sesuai dijadikan perumpamaan. Awalnya mungkin tetap bisa digunakan, namun dalam jangka panjang baterai menjadi boros dan perangkat cepat rusak. Hal yang sama berlaku pada kendaraan diesel.
“Pemilihan BBM yang tidak sesuai spesifikasi mesin bisa membuat performa turun, pembakaran tidak optimal, hingga berdampak pada keawetan mesin,” tulis Pertamina dalam keterangan edukasinya.
Pertamina memaparkan beberapa kategori kendaraan diesel beserta rekomendasi BBM yang tepat. Untuk SUV dan MPV diesel keluaran tahun 2012 ke atas yang umumnya sudah menggunakan teknologi common rail, pabrikan mensyaratkan BBM minimal CN 51–53. Produk yang direkomendasikan adalah Pertamina Dex dan Dexlite.
Sementara itu, kendaraan komersial ringan seperti pick-up atau LCV yang masih memakai direct injection dengan tahun produksi 2012 ke bawah direkomendasikan memilih BBM minimal CN 48–51, seperti Biosolar B40 atau Dexlite. Adapun mobil diesel klasik dengan rasio kompresi tinggi memerlukan BBM CN 48 agar pembakaran tetap sempurna.
Pertamina menegaskan bahwa mesin diesel modern memiliki tingkat sensitifitas tinggi terhadap kualitas bahan bakar. Semakin tepat pilihan BBM-nya, semakin optimal pula proses pembakaran di ruang mesin.
“Dengan memilih BBM sesuai rekomendasi pabrikan, mesin akan lebih awet, efisien, dan performanya tetap maksimal,” lanjut keterangan resmi tersebut. Pertamina mengajak masyarakat kembali memeriksa spesifikasi kendaraan masing-masing, termasuk rasio kompresi dan rekomendasi CN dari pabrikan. Langkah itu dinilai penting agar kendaraan tetap bertenaga, hemat, serta tidak menimbulkan kerusakan akibat penggunaan BBM yang tidak sesuai kebutuhan mesin.
Editor : Anwar Bahar Basalamah