Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri M. Ridwan membenarkan adanya kenaikan harga beras tersebut. Dia menjelaskan, situasi ini tidak hanya terjadi di Kota Kediri tetapi meluas di beberapa daerah lain. Dan sekarang sudah menjadi perhatian pemerintah pusat.
“Kami diminta untuk mengecek pasokan di daerah masing-masing,” ujar pria yang akrab disapa Ridwan itu.
Menurutnya, pasokan di Kota Kediri saat ini terbilang aman. Pun dengan distribusi dan produksinya. Hanya saja, pihaknya menengarai adanya kenaikan permintaan menjadi penyebab harga melambung tinggi.
Tingginya permintaan itu disebabkan karena momen adanya tradisi saat hari Raya Idul Adha yang di masyarakat Jawa dikenal dengan bulan besar. Di bulan ini, biasanya masyarakat banyak menggelar hajatan seperti resepsi pernikahan.
“Masyarakat juga punya gawe (hajatan, red). Ini juga mendorong naiknya permintaan,” tambah Ridwan.
Selain permintaan meningkat juga tingginya harga gabah juga turut membuat harga beras mengalami peningkatan. Sesuai dengan kebijakan dari pemerintah pusat, harga pembelian pemerintah (HPP) adalah sebesar Rp 6.500.
Praktis, pihak swasta akan menawarkan harga lebih tinggi dari HPP tersebut. “Harga beras ikut terkerek naik,” tambahnya.
Selanjutnya, Ridwan menjelaskan bahwa pihaknya akan tetap turun ke lapangan. Pihaknya akan memastikan apa yang menjadi penyebab tingginya harga beras saat ini. Apakah dimungkinkan adanya kecurangan di lapangan atau hal lain.
“Untuk saat ini belum ada informasi penimbunan,” tegasnya.
Terpisah, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan (KTNA) Kota Kediri Yohan Pramuda Arifianto menjelaskan bahwa pembelian gabah kering oleh swasta berada di kisaran Rp 7.300 – Rp 7.400. Sehingga, hal ini pun turut mendorong tingginya harga beras saat ini.
“Pihak di luar pemerintah pasti beli di atas HPP dari pemerintah,” katanya.
Terlepas dari itu, Yohan menyebutkan bahwa produksi padi mulai menurun. Pasalnya, para petani sudah mulai berganti tanaman sejak April lalu. Mengingat ketersediaan air yang mulai berkurang lantaran memasuki musim kemarau.
“Rata-rata petani beralih ke tanaman jagung,” ujarnya.
Sementara, Yuni Kartika, salah satu pedagang beras eceran di Kecamatan Mojoroto mengaku bahwa dirinya kulakan beras di harga Rp 13.000. Praktis dia menjualnya di atas harga tersebut. Antara Rp 13.500 – Rp 14.000.
“Beras di selepan (penggilingan, red) banyak yang kosong,” ungkapnya. Sekarang stoknya sudah mulai kosong.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian