Jumlah karyawan di Tajimas Group kini mencapai ribuan pekerja. Padahal, saat awal dirintis pada tahun 2005 silam hanya ada lima orang karyawan. Pemasarannya pun dilakukan sendiri. Lewat warung-warung sekitar.
“Di awal-awal kami memulai usaha dengan berdagang aneka kebutuhan di Desa Tirukidul. Orang tua berjualan tembakau, lalu kami berpikir untuk menjadikan tembakau sebagai produk rokok,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bunda Ria ini.
Pada awalnya, usaha ini digerakkan dengan modal yang sangat minim. Itu dari hasil pinjaman BPR. Karena kurang pengalaman dalam hal rokok, modal tersebut habis dalam waktu kurang dari dua bulan. "Dengan berbekal semangat dan dorongan orang tua akhirnya kami menemukan cita rasa rokok sesuai yang diinginkan dan diterima masyarakat," tandas perempuan yang kini tinggal di Dusun Bangunrejo, Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri tersebut.
Modalnya habis. Tetapi permintaan pasar banyak. Mereka akhirnya memutuskan berhutang tembakau dan cengkeh dari teman-teman sang orang tua. Kebetulan, sudah menjadi pedagang tembakau sejak muda. Dari hutang bahan baku itu diolah dan di produksi menjadi batang rokok dan dijual. Lalu, hasil penjualan untuk membayar hutang bahan baku tersebut.
"Alhamdulillah perusahaan kami berkembang pesat awal 2006. Bahkan selama enam bulan setelah berdiri karyawan kami mencapai hampir seribu orang," kenangnya.
Dari parbrik lama dengan tempat yang masih mengontrak, untuk mengejar produksi maka karyawan harus bekerja tiga shift dalam 24 jam. Dengan perkembangan market yang besar, akhirnya mereka bisa membeli tanah dan membuatnya menjadi pabrik sendiri. Yang mana saat ini menjadi pabrik utama.
Bunda Ria menegaskan, dengan industri padat karya yang dia geluti tentu banyak menyerap tenaga kerja. Baik dari Desa Pranggang maupun dari desa-desa sekitar. "Saya membayangkan bilamana setiap desa punya industri padat karya di bidang apa saja, tentu akan sangat membantu ekonomi warga desa tersebut. Dan dapat mengatasi permasalahan pengangguran yang saat ini perlu kita antisipasi bersama," tegasnya.
Menurutnya, pihak terkait bisa memberikan fasilitas khusus bagi pengusaha yang mau membuka usaha di desa. Dengan seperti itu, harapannya desa-desa menjadi kuat dan Kediri menjadi hebat. Kediri memiliki banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk menarik investor masuk. Tentu harus dikemas agar saat investor masuk bisa lebih aman dan menguntungkan. "Dengan hadirnya investor ke desa, maka desa lebih kuat dan Kediri hebat," tegas Bunda Ria.
Dibalik orientasi bisnis, Bunda Ria mengungkapkan, Tajimas Group memiliki misi menyerap tenaga kerja untuk mengurangi kemiskinan. Dia telah membuktikan, dengan tekad dan usaha yang kuat akan membawa pada kesuksesan. Cita-cita memberdayakan masyarakat pun dapat direalisasikan. Tak hanya sekadar ucapan belaka. Namun, ada bukti nyata.
Jadikan Hasil Bumi sebagai Produk Industri
Di balik keindahan desa-desa di Kabupaten Kediri, tersimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Salah satunya hasil perkebunan. Para pelaku usaha di desa memiliki kesempatan emas untuk meraih kesuksesan. Yakni dengan mengelola hasil bumi secara cerdas dan kreatif. Peluang inilah yang ditangkap dengan baik oleh H. Denny dan Bunda Ria.
Selain hasil dari pengolahan tanaman tembakau dan cengkeh, H. Denny dan Bunda Ria menangkap peluang hasil bumi lainnya. Yaitu kopi yang diproduksi menjadi bubuk bermerek Mutiara.
Keinginan Bunda Ria berawal dari melihat potensi hasil bumi dari daerah sekitar ditempat tinggalnya. Yaitu di kaki Gunung Kelud yang banyak menghasilkan kopi berkualitas. Pada zaman penjajahan Belanda dulu, kopi lereng Kelud dikenal di belahan dunia dengan nama Java Coffee. Dari sini, timbul keinginan untuk mencoba hasil bumi berupa kopi yang diolah menjadi kopi sangrai dan kopi bubuk Mutiara.
Dari awal hanya usaha kecil-kecilan, sekarang kopi Mutiara sudah banyak dikenal. Bukan hanya di Kabupaten Kediri saja tetapi juga dikenal di daerah lain. Terkait dengan itu, masih banyak lagi hasil bumi dari masyarakat yang bisa diolah menjadi produk industri.
Harapannya, pemerintah bisa memberikan bimbingan pada masyrakat dalam mengolah hasil bumi menjadi produk industri. Sehingga, industri yang mengolah hasil bumi dari masyarakat bisa tersebar di desa-desa. Dengan seperti itu, bisa mempersingkat rantai distribusi dari petani ke pabrik.
Editor : Anwar Bahar Basalamah