Ini Sosok Maulia Martwenty Ine, Ketua PN Kota Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Kamis, 2 Maret 2023 | 20:21 WIB
(Foto: Habibah A. Muktiara)
(Foto: Habibah A. Muktiara)
Sebagai penegak hukum, pengalaman Maulia Martwenty Ine sudah banyak. Sebelum menjadi ketua Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri seperti sekarang ini dia sempat menjadi wakil ketua. Namun, meskipun demikian, hasratnya untuk belajar terus meninggi. Salah satunya adalah rencana belajar ke Negeri Tiongkok untuk meraih gelar doktor.

“Mei nanti saya berangkat ke China (Tiongkok, Red),” kata hakim yang biasa disapa dengan panggilan Ine ini.

Di Negeri Panda, perempuan 47 tahun ini mengikuti program doktoral khusus tentang hukum Internasional. Yang merupakan kerjasama China Asean Legal Research Center (CALRC).

“Ini tinggal ujian saja, harus langsung tatap muka,” imbuhnya.

Sebelum menjadi siswa program ini, Ine harus melewati serangkaian seleksi ketat. Yang seluruhnya menggunakan bahasa Inggris. Termasuk sesi wawancara oleh pihak Southwest University Of Political Science and Law dan (CALRC).

Ketat dan sulitnya bisa dilihat dari jumlah yang lolos. Dari angkatan keempat, hanya dua hakim yang terpilih.

“Surat tugas tahun 2019 dan sebelum Oktober tahun ini harus lulus,” kata perempuan kelahiran 1976 ini.

Ine mengatakan bahwa hukum internasional sangat menarik. Salah satunya tentang nikel. Dalam kasus terbaru, Indonesia kalah dalam gugatan soal nikel di WTO. Selain masalah nikel, yang menarik lagi adlah perang Rusia dan Ukraina. Meskipun PBB turun, perang berlanjut hingga saat ini.

Wanita kelahiran Surabaya ini juga mempelajari sistem hukum di Tiongkok, tempatnya belajar. Bila dibandingkan dengan Indonesia, sistem hukum negara tersebut memiliki banyak perbedaan. “Salah satunya adalah dalam pengambilan sumpah saksi,” kata Ine.

Meskipun perkuliahan menggunakan bahasa Inggris, Ine tetap mempelajari bahasa Tiongkok. Dia mengatkaan, pelafalan perlu hati-hati. Karena beda pengucapan akan membuat makna berbeda.

Selama menjadi hakim, ada sesuatu yang membuat Ine miris. Yaitu soal prostitusi.

“Jika dulu prostitusi dilakukan secara sembunyi sekarang terang-terangan,” kata alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya.

Karena itu, Ine juga mempelajari bagaimana para pelaku prostitusi beroperasi. Dan, hal tersebut membuatnya kaget.  Karena kebanyakan yang menjual diri karena dituntut oleh gaya hidup.

Fenomena ini membuatnya merasa miris. Karena hanya karena gawai, banyak yang mau melakukan hal tidak terpuji.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
radar kediri berita terkini berita viral berita terbaru berita hari ini