Di antara Anda mungkin ada yang pernah melihat obrolan podcast-nya Deddy Corbuzier di channel Youtube miliknya “Close The Door” yang terkenal itu. Channel tersebut hingga kini punya 17,6 juta subscriber. Oleh Deddy, acara ngobrol-ngobrol itu dikembangkan menjadi sebuah entitas bisnis. Dibikin lah perusahaan bernama PT Dektos Digital Corbuzier (DDC) yang secara khusus berfokus pada podcast dan entertainment yang diproduksi Deddy.
Baru-baru ini, DDC mendapatkan suntikan dana investasi dari Crazy Rich Rudy Salim, melalui Prestige Corp, perusahaan miliknya. Deddy mengklaim, valuasi DDC mencapai Rp 1 triliun. Dia berharap, dengan adanya suntikan fulus investasi dari Rudy Salim, nilai valuasi DDC naik menjadi empat kali lipatnya.
Kesuksesan itu berawal dari dua keberhasilan Deddy. Pertama, dia berhasil dalam membangun “personal branding” tentang dirinya. Kedua, dia berhasil membangun “brand image” tentang acara podcastnya “Close The Door”.
Khusus untuk “personal branding”, ada sejumlah kaidah di dalam kajian marketing. Misalnya, “personal branding” merupakan sebuah kegiatan yang dapat mengontrol cara pandang atau persepsi orang lain terhadap seseorang. Sehingga dengan melakukan “personal branding”, maka seseorang dapat mempengaruhi pandangan orang lain terhadap dirinya sesuai dengan kehendaknya.
Selain itu, “personal branding” adalah segala sesuatu yang ada pada diri Anda yang menjual dan membedakan, seperti pesan Anda, pembawaan diri dan taktik pemasaran.
Di awal-awal kemunculannya, Deddy dikenal sebagai pesulap (magician) dan mentalist yang secara penampilan, berbeda dengan lainnya. Rambut, alis, mata, dan bentuk kepalanya dibikin sangar dengan dominasi warna hitam. Saya masih ingat, keponakan saya yang waktu itu baru berumur 4 tahun, kalau melihat wajah Deddy di TV sering menangis ketakutan.
Gaya bicara Deddy ketika tampil juga dibikin seperti sangat serius. Cenderung tegang. Artikulasi suaranya, dan intonasi suaranya dibikin sangat jelas, tegas, dan selalu membuat orang merasa penasaran.
Citra dan pembawaan Deddy seperti ini lah yang secara konsisten dia munculkan di setiap kali penampilannya. Selama bertahun-tahun. Sehingga membentuk “personal branding” yang sangat kuat tentang sosok Deddy Corbuzier. Begitu namanya disebut, orang dengan mudahnya membayangkan tentang wajahnya, gaya rambutnya, alisnya, sorot matanya, dan gaya bicaranya. Ini lah “personal branding”.
“Personal branding” Deddy sebagai host semakin kuat ketika mengasuh acara “Hitam Putih” di salah satu televisi swasta. Para bintang tamu yang diundang di acaranya itu kebanyakan punya nilai unik. Gaya bertanya Deddy yang ceplas-ceplos, seakan tanpa direncanakan, dan lugas, menjadi kekuatannya di acara tersebut. Sehingga rating acara “Hitam Putih” sempat menduduki rating tertinggi untuk jenis acara talk show.
Kemudian Deddy terjun total menjadi Youtuber. Dia bikin podcast “Close The Door”. Konsepnya, dia mengundang bintang tamu untuk diajak ngobrol. Dengan kekuatan “personal branding”-nya, dia membangun “brand image” untuk podcastnya “Close The Door” itu.
Di antara “brand image” yang ingin dibangun Deddy terkait podcastnya “Close The Door” itu adalah: podcast-nya itu untuk semua segmen. Mulai segmen orang paling awam, hingga paling intelek. Temanya pun umum. Kebanyakan tema yang sedang viral, atau menjadi perbincangan luas. Bintang tamu yang diundang sangat beragam. Mulai dari bintang tamu yang kontroversial, hingga bintang tamu yang intelektual. Bintang tamu kalangan professional, ulamak, kyai, artis, hingga pejabat. Yang penting bagi Deddy, tamu yang dia undang dan diajak ngobrol bermanfaat bagi yang menyaksikan. Bermanfaat di sini, bisa bermanfaat karena menghibur, bisa juga bermanfaat karena mengedukasi dan memotivasi.
Dalam setiap obrolannya, Deddy terkesan bertanya mengalir begitu saja. Dia sepertinya tak menyiapkan pertanyaan lebih dulu. Penampilan Deddy pun terkesan apa adanya. Meskipun dia mewawancarai pejabat penting sekelas Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, penampilan Deddy tidak lantas formal. Tetap pakai topi, kacamata hitam, dan T Shirt ketat.
Dalam mewawancarai bintang tamunya, Deddy tidak menghakimi, tidak menyakiti dan tidak memihak ketika mengangkat topik yang dianggap sensitif. Intinya, Deddy tahu cara menarik untuk bertanya. Ini lah yang membuat “Close The Door” menjadi podcast yang berbeda dengan lainnya. Dan semakin banyak diminati. Oleh semua kalangan. Tak terkecuali generasi milenial.
Jadi, apa pun itu, jika digarap serius, konsisten, dan punya nilai deferensiasi yang tinggi, maka akan bisa dijadikan entitas bisnis yang menggiurkan. Kisah Deddy Corbuzier di atas adalah buktinya.
Jika “Close The Door”-nya Deddy diibaratkan sebagai produk, dia punya dua keunggulan utama. Pertama, kekuatan “personal branding” dari si empunya produk. Kedua, kekuatan “brand image” dari acara “Close The Door”. Menurut Kapferer, “brand image” adalah semua sinyal yang datang dari produk, jasa, dan komunikasi yang dicakup oleh merek dan ditafsirkan oleh konsumen.
Dua kekuatan itu lah yang akhirnya menjadi daya tarik Deddy Corbuzier dan podcast-nya “Close The Door”, hingga menarik perhatian investor. Anda ingin seperti Deddy Corbuzier? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : adi nugroho