2021 adalah tahun kejayaan TikTok. Sebab, di tahun itu, TikTok menyalib Google sebagai situs yang paling banyak dicari. Merujuk data yang diungkap Cloudflare, sejak 10 Agustus 2021, Tiktok berhasil bertengger di peringkat pertama dari 10 besar situs paling banyak dicari. Peringkat kedua hingga ke sepuluh, berturut-turut adalah: Google.com, Facebook.com, Microsoft.com, Apple.com, Amazon.com, Netflix.com, YouTube.com, Twitter.com dan WhatsApp.com.
Padahal, tahun 2020, peringkat pertama adalah Google.com. Dan TikTok berada di peringkat ke-tujuh. Namun, dalam hitungan tak sampai setahun, TikTok akhirnya melejit, menjadi peringkat pertama mengalahkan Google dan Facebook.
Berdasarkan hasil riset dari Sensor Tower, TikTok berhasil menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak didownload. Penggunanya pun tersebar di lebih dari 150 negara. Jumlah pengguna aktif TikTok di seluruh dunia, diperkirakan mencapai lebih dari 800 juta orang. Jauh melampaui Twitter (340 juta pengguna) dan Pinterest (320 juta pengguna).
Dan, Indonesia menjadi negara yang jumlah pengunduh TikTok-nya terbanyak. Dengan pertumbuhannya yang begitu pesat, banyak brand-brand di Indonesia yang semakin tertarik untuk beriklan di TikTok melalui TikTok Ads. Di antaranya Gojek, BukaLapak, dan Traveloka. Selain itu, tempat-tempat kuliner, serta tempat-tempat rekreasi juga semakin banyak yang beriklan di TikTok. Ini lah yang disebut dengan TikTok Marketing.
Media massa mainstream, baik cetak, elektronik maupun online, juga punya akun TikTok secara resmi. Termasuk media yang saya pimpin. Salah satu yang khas dari TikTok adalah, kebanyakan peminatnya atau pengunduhnya adalah dari kalangan generasi milenial. Khususnya dari kalangan generasi Z (generasi yang lahir antara 1996 -2012).
Ada lima jenis iklan yang terdapat di TikTok:
Pertama, In-Feed Video. Yakni, iklan yang muncul dan berbaur dengan konten lain di FYP (For You Page, adalah tab yang berisi kumpulan video pendek berdurasi 15 detik hingga 3 menit yang muncul di timeline TikTok).
Kedua, Brand Takeover. Ini adalah iklan yang muncul ketika pengguna baru membuka aplikasi TikTok. Tampilannya full screen, dan durasinya antara 3-5 detik.
Ketiga, Hashtag Challenge. Ini adalah tantangan yang diberikan kepada para pengguna TikTok untuk membuat video tentang tema tertentu. Iklan “hashtag challenge” biasanya ditaruh di bagian teratas. Atau, setidaknya hampir di paling atas halaman. Dengan jenis iklan ini, Anda bisa menantang para kreator konten untuk membuat video dengan tema tertentu. Dan videonya harus menggunakan hashtag (#) yang telah ditentukan. Seperti yang dilakukan Guess, brand fashion terkenal. Mereka menantang para creator konten untuk menampilkan gaya sekeren mungkin dengan menggunakan Denim Guess dengan menggunakan hashtag: #inmydenim.
Keempat, Branded Augmented Reality (AR). Anda mungkin termasuk yang terhibur dengan adanya filter dan stiker. Dua hal ini merupakan sesuatu yang menarik perhatian pengguna TikTok. Dan Anda juga bisa menggunakannya di iklan Branded AR. Dan Anda bisa menawarkan filter dan stiker buatan Anda sendiri.
Kelima, TopView Ads. Yakni, iklan yang bisa dilihat di puncak feeds. Artinya, iklan Anda akan menjadi video pertama yang dilihat pengguna TikTok di feeds mereka. Ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan brand awareness.
Jadi, TikTok demikian cepatnya bermetamorfosis menjadi sebuah platform yang semakin disukai, dan dianggap semakin efektif untuk menyampaikan pesan, baik yang bersifat idealis maupun pragmatis. Baik yang serius, maupun yang guyonan. Baik yang hardselling, maupun yang soft selling. Dan TikTok menurut saya adalah bentuk modifikasi dari Personalized Marketing. Yakni metode yang digunakan penjual untuk memasarkan produk secara pribadi atau individual. Maksunya, produk yang ditawarkan langsung bisa diterima oleh orang per orang secara personal. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/ IG:kum_jp/ disarikan dari berbagai sumber).
Editor : adi nugroho