Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Syekh Ihsan Jampes

adi nugroho • Senin, 3 Januari 2022 - 17:52 WIB
syekh-ihsan-jampes
syekh-ihsan-jampes



Berziarah ke makam Syekh Ihsan bin Muhammad Dahlan, di Kampung Jampes, Gampengrejo, Kabupaten Kediri, ingatan saya pun melayang 89 tahun lalu. Saat itu, tepatnya pada 28 Desember 1932, Syekh Ihsan berhasil menyelesaikan salah satu kitab karyanya yang berjudul “Sirajut Thalibin”, dalam bahasa Arab, dan diselesaikan hanya dalam waktu sekitar delapan bulan. 


Hingga saat ini, “Sirajut Thalibin” adalah satu-satunya kitab syarah (komentar dan penjelasan) atas Kitab Tasawuf “Minhajul Abidin” karya Imam Ghazali, yang paling populer dan beredar luas di penjuru dunia Islam. 


“Sirajut Thalibin” hingga kini masih dipelajari dan ditekuni masyarakat muslim secara luas di penjuru bumi, karena dianggap mempunyai nilai yang tinggi. Sehingga dijadikan bacaan wajib untuk mahasiswa pasca-sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Titik tekannya pada kajian tasawuf dan akhlak. 


Dan sudah sejak setengah abad silam, “Sirajut Thalibin” juga beredar di negara-negara non-Islam seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Terutama di kampus-kampus negara-negara itu yang ada jurusan Filsafat, Theosofi, dan Islamologi. 


Saya lagi-lagi membayangkan, betapa hebatnya Syekh Ihsan, yang mampu menulis kitab dalam Bahasa Arab dengan kemampuannya menguasai Bahasa Arab yang sangat matang. Meski tak pernah belajar dan bermukim di Makkah atau negeri-negeri Arab lainnya. Dan, dalam waktu delapan bulan itu mampu menyelesaikan “Sirajut Thalibin” yang terdiri dari 1.000-an halaman. Saya rasa, belum ada penulis meskipun di era sekarang, yang mampu menandingi kehebatan Syekh Ihsan. 


“Sirajut Thalibin” dicetak pertama kalinya pada 1936 oleh penerbit dan percetakan “An Banhaniyah” di Surabaya. Bekerja sama dengan sebuah percetakan “Mustafa Al Baby Halabi” di Kairo, Mesir. Ini adalah percetakan besar yang terkenal banyak menerbitkan buku-buku Ilmu Agama Islam karya ulama-ulama besar abad pertengahan. Pada periode berikutnya, “Sirajut Thalibin” dicetak oleh “Darul Fikr”, sebuah percetakan dan penerbit besar di Beirut, Lebanon. Jadi, kalau bukan kitab yang berkualitas dan berbobot, mana mungkin penerbit besar mau mencetak dan menerbitkannya. 


Saya termasuk yang menyesal, karena baru tahu kehebatan Syekh Ihsan. Kalau saya tidak dipindah ke Kediri, mungkin saya tidak akan mengenali kehebatan Syekh Ihsan. Ternyata, pondok Al Ihsan, Jampes, dekat dengan kantor saya di Kediri. Dan ternyata, makam Syekh Ihsan, juga dekat dengan kantor saya. 


Ceritanya, ketika awal-awal saya bertugas di Kediri Juni tahun lalu, ada seorang penelepon menghubungi saya. Nomornya tidak saya kenal. Dia pun tidak mau menyebutkan namanya. Tapi, ketika berbicara dengan saya melalui telepon itu, gayanya sok akrab. Dia waktu itu berpesan kepada saya: “Jangan kemana-mana dulu, jangan bertemu siapa-siapa dulu, jika belum sowan ke makamnya Mbah Ihsan Jampes,” kata si penelpon itu. 


Hingga kini, saya tidak tahu, siapa yang menelepon saya itu. Saya hubungi berkali-kali, nomornya tidak lagi bisa dihubungi. Dari si penelepon inilah saya mengenal pertama kalinya nama Syekh Ihsan. Dan ternyata beliau ulama besar, dan menurut sejumlah kiai yang saya tanyai, beliau juga seorang waliyullah. Makamnya banyak didatangi oleh para peziarah yang menjalani tirakat tertentu.


Tapi, sayangnya, eksistensi serta kehebatan dari Syekh Ihsan kurang diperlakukan secara semestinya oleh pemerintah daerah. Padahal, beliau adalah “mutiara” milik Kabupaten Kediri. Gara-gara kitab “Sirajut Thalibin” yang dia tulis, nama kampung Jampes mendunia. Berarti nama Kediri juga mendunia. Raja Faruk yang saat itu memimpin Mesir, sekitar 1934 pernah mengirim utusan ke Jampes, hanya untuk menemui Syekh Ihsan. Melalui utusannya itu, Raja Faruk minta agar Syekh Ihsan bersedia mengajar di Al Azhar University, Kairo. Tapi, permintaan itu ditolak secara halus oleh Syekh Ihsan. 


Sayangnya, makam Syekh Ihsan, menurut saya kurang diistimewakan. Di pintu masuk jalan menuju ke makam Syekh Ihsan, hanya ada papan tulisan yang terkesan dibuat sekadarnya. Itu pun papannya, catnya sudah memudar. 


Seharusnya, di kompleks pemakaman Syekh Ihsan dibikinkan tempat khusus, berisi narasi yang menceritakan tentang riwayat, kiprah, serta kitab karya-karya Syekh Ihsan. Kalau perlu, kitab-kitab yang pernah ditulis Syekh Ihsan didokumentasikan ke dalam tempat khusus semacam perpustakaan. Dengan begitu, generasi muda akan terus mengenal dan mengenang kebesaran nama, kealiman, dan keistimewaan dari Syekh Ihsan. Mengapa hal-hal seperti ini tak dilakukan? Apakah tidak tahu kehebatan dan keistimewaan dari Syekh Ihsan, atau tidak mau tahu? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : adi nugroho
#kurniawan muhammad #kum #catatan awal pekan