SMAN 2 Nganjuk tidak hanya dikenal sebagai gudangnya prestasi akademik dan non-akademik di Kabupaten Nganjuk. Namun, Smada Nganjuk juga terkenal dengan sekolah terinovatif. Berbagai inovasi keren diciptakan Smada.
Kondisi geografis Smada yang berada di dataran rendah membuat sekolah ini rawan tergenang jika hujan deras. Namun, hal itu bisa diatasi Smada. Dengan inovasi yang diprakarsai Kepala Smada Dr Rita Amalisa, Smada membuat embung. “Saya membuat embung dengan ukuran 2 meter x 2 meter,” ujar Rita saat ditemui wartawan koran ini pada Jumat (28/5).
Dengan adanya embung tersebut, air hujan langsung masuk. Kemudian, air dialirkan ke halaman belakang sekolah. Sehingga, tidak membuat genangan sekolah.
Sukses membuat satu embung tersebut dilanjutkan dengan pembangunan embung yang kedua. Istimewanya embung kedua ini berada di sekitar rindangnya pohon trembesi. Kemudian, dijadikan sarana outbound. Sehingga, mirip dengan Trunyan di Bali. “Bapak dan ibu guru menyebutnya Trunyan mini,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain mencegah banjir dan genangan, inovasi embung ini sebagai salah satu bukti nyata Smada adalah sekolah Adiwiyata nasional. Sehingga, kelestarian alam sangat diperhatikan.
Tak hanya embung, Smada juga memiliki kandang burung raksasa. Kandang dengan diameter 10 meter dan tinggi 10 meter ini sebagai sarana refreshing siswa, karyawan dan guru Smada. Burung-burung, seperti lovebird hingga perkutut ada di sana. Dengan ukuran yang besar, burung-burung tersebut bisa berkembang biak.
Untuk kegiatan belajar dan mengajar, Smada juga memiliki inovasi saat pandemi Covid-19. Tidak diizinkannya pembelajaran tatap muka (PTM) di awal pandemi Covid-19 tersebut membuat Smada membuat studio mini. Fasilitas di studi mini sangat komplet. Guru bisa melaksanakan kegiatan belajar secara daring. Kemudian, siswa juga bisa menggunakan studio mini untuk podcast.
Agar siswa semakin kreatif, Rita mengatakan, Smada meluncurkan 'E-Yearly Book' pada 24 April 2021. Konten mulai dari foto-foto hingga desain E-Yearly Book tersebut ditangani siswa sendiri. Jadi, siswa bisa mendownload dan mencetaknya secara gratis jika ingin menjadikannya sebagai album kenangan. “E-Yearly Book di Smada ini adalah yang pertama di Indonesia,” klaim Dr Rita.
Istimewanya E-Yearly Book ini diluncurkan sebelum pengumuman kelulusan pada 3 Mei lalu. Padahal, biasanya buku kenangan bisa jadi setelah pengumuman kelulusan.
Untuk wisuda tahun ini, Smada menerapkan protokol kesehatan (prokes) sangat ketat. Aula Graha Adyatama Smada yang memiliki kapasitas 750 orang hanya diisi 355 wisudawan. Yaitu, 288 siswa IPA dan 67 IPS. Semua peserta wisuda wajib memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun.
Yang menarik, di wisuda tersebut Kepala Smada Dr Rita Amalisa memberi hadiah laptop untuk peraih nilai tertinggi. Siswa yang mendapat hadiah laptop itu adalah Alexander Andry dari kelas XII MIPA 1. Selain itu, Smada juga memberikan hadiah uang pembinaan kepada siswa-siswa berprestadi. “Hadiah laptop ini memotivasi siswa agar rajin belajar,” ujarnya.
Saat ini lulusan Smada sudah banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit di Indonesia. Total ada 142 siswa yang lolos dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Istimewanya, Smada ini juga mengajak seluruh warganya memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Salah satu caranya adalah menyalurkan zakat fitrah dan zakat mal ke daerah-daerah terpencil dan jarang mendapat perhatian. Dengan dipimpin Dr Rita, panitia menyalurkan zakat ke Dusun Sumbernongko, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret; Dusun Bendil, Desa/Kecamatan Berbek; hingga Desa Duren, Kecamatan Sawahan; dan Desa Blongko, Kecamatan Ngetos. (ik3/adv/tyo)
Editor : adi nugroho