Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sayur Lodeh Tujuh Rupa: Bergizi Tinggi, Bisa Perkuat Imun

adi nugroho • Jumat, 3 April 2020 | 21:59 WIB
sayur-lodeh-tujuh-rupa-bergizi-tinggi-bisa-perkuat-imun
sayur-lodeh-tujuh-rupa-bergizi-tinggi-bisa-perkuat-imun

Akhir-akhir ini, sayuran yang satu ini bikin heboh. Sayuran lodeh tujuh rupa. Ada juga yang menyebutnya sayur lodeh antipagebluk. Santapan bersantan asal Jawa Tengah yang lezat dan bergizi ini memanglah penangkal virus. Kok bisa?


 


          Menurut sejarahnya, sayur lodeh ini digunakan masyarakat Jawa khusus untuk pagebluk atau masa untuk menolak bala, sehingga msayrakat dianjurkan memasak sayur lodeh 7 macam sayuran.  


          Untuk pengertiannya sendiri, tujuh atau pitu dalam bahasa Jawa memiliki arti ‘pitulungan’ yakni memohon bantuan kepada Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, dalam menangkal wabah yang ada, masyarakat Jawa akan membuat dan memakan sayur tersebut secara bersama-sama.


          Salah satu penyedia masakan sayur lodeh di Kediri bisa ditemui di Rumah Makan Mirasa 2, sayuran ini akan dihidangkan dengan nasi liwet yang hangat sebagai pendamping.


          Pemilik rumah makan tersebut menerangkan kalau sayuran ini terdiri dari tujuh sayuran. “Terdiri dari Kluwih, terong, kacang panjang, tempe, kulit melinjo, daun melinjo, dan tempe,” terang Yuyun Masita.


          Untuk pengolahannya sendiri, Yuyun menjelaskan       caranya sangat sederhana. Seperti membuat lodeh biasa. Terdiri dari bawang merah, bawang putih, daun salam, lengkuas, santan, garam, dan gula. “Yang pertama bawang merah putih diiris kemudian direbus bareng santan, daun salam, laos, kalau sudah mendidih masukkan tempe dahulu rebus sampai matang,” ujarnya. Khusus bahan yang mudah empuk dimasukkan dibagian akhir beserta garam, dan gula.


 


 


Kenapa tujuh sayur ini yang dimaksud? Ini penjelasannya..


1. Kluwih : Kluwargo luwihno anggone gulowentah gatekne (Keluarga harus lebih diurusi dan diperhatikan)


2. Cang Gleyor (Kacang Panjang) : Cancangen awakmu ojo lungo-lungo (Ikatlah dirimu jangan pergi-pergi)


3. Terong: Terusno anggone olehe manembah Gusti ojo datnyeng (Lanjutkan beribadah kepada yang maha kuasa, jangan kalau butuh saja)
4. Kulit Melinjo: Ojo mung ngerti njobone, ning kudu ngerti njerone babakan pagebluk (Jangan hanya lihat dari luar, tetapi harus mengetahui yang ada di dalam bencana)
5. Waluh (Labu): Uwalono ilangono ngeluh gersulo (Hilangkan sifat mengeluh)
6. Godong So (Daun Melinjo): Temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah (Berkumpulah dengan orang-orang yang saleh dan orang pintar)
7. Tempe: Temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah (Yakinlah dalam memohon pertolongan sang pencipta)

Editor : adi nugroho