JP Radar Kediri- Kemenangan 2-0 United atas City bukan sekadar faktor keberuntungan, melainkan hasil dari disiplin posisi yang ketat.
Carrick tampak mengadopsi pendekatan counter attack yang sangat efektif menghadapi gaya high-press milik Pep Guardiola.
Carrick menyadari bahwa Manchester City selalu bermain dengan garis pertahanan yang sangat tinggi untuk mengurung lawan. Di sinilah Bryan Mbeumo memainkan peran kunci.
Mbeumo tidak banyak terlibat dalam duel fisik di tengah. Melainkan terus mencari celah di antara bek tengah City.
Begitu bola direbut, Carrick agaknya telah menginstruksikan anak asuhnya untuk mengarahkan bola secepat mungkin ke Bruno Fernandes.
Bruno, dengan visinya segera melepaskan umpan vertikal yang memanfaatkan kecepatan lari Mbeumo.
Gol pertama adalah bukti nyata. Mbeumo tidak mencoba menggiring bola terlalu lama. Namun langsung menendang bola dengan kaki kirinya dan membuat Donnarumma tak berkutik.
Gol pertama adalah soal kecepatan dan timing. Sedangkan gol kedua sedikit berbeda. Umpan cut back menjadi senjata ampuh membelah pertahanan City.
Carrick memberikan kebebasan bagi Matheus Cunha untuk bergerak melebar. Hal ini memaksa bek sayap City keluar dari posisinya.
Saat Cunha berhasil mengirimkan umpan tarik, Dorgu berada di posisi yang tepat karena para bek City tak menyadari keberadaannya.
Kunci kemenangan ini juga terletak pada pertahanan. Carrick menginstruksikan para pemainnya untuk memperketat lini tengah dan belakang.
Hal ini membuat City terus berputar-putar di luar kotak penalti tanpa bisa melepaskan tendangan berbahaya.
Hal ini yang akhirnya memicu frustrasi dan celah bagi United untuk melakukan serangan balik. Carrick berhasil mengubah wajah United menjadi tim yang sangat pragmatis namun mematikan.
Dengan menempatkan pelari cepat seperti Mbeumo dan pemain yang memiliki timing tepat seperti Dorgu.
United menunjukkan bahwa penguasaan bola City tidak berarti apa-apa jika transisi bertahan mereka rapuh.
Editor : Andhika Attar Anindita