JP Radar Kediri- Manchester United akhirnya disebut bakal melepas salah satu kipernya, Andre Onana ke klub Turki, Trabzonspor.
Kiper asal Kamerun tersebut akan menghabiskan satu musim ke depan di Süper Lig, kompetisi kasta tertinggi sepak bola Turki.
Keputusan ini sekaligus menjadi titik balik dalam karier Onana yang terhitung baru membela Setan Merah setelah direkrut dari Inter Milan.
Langkah ini memang bukan kejutan besar bagi pecinta sepak bola. Sejak awal musim, sinyal perpisahan Onana sudah menguat.
Penampilan inkonsisten selama musim debutnya di Old Trafford membuat posisinya di bawah mistar kerap menjadi sorotan tajam. Baik dari media maupun para suporter United yang dikenal vokal.
Situasi ini makin rumit dengan langkah manajemen klub yang terlihat aktif memburu penjaga gawang baru sejak jendela transfer dibuka.
Kedatangan kiper muda Belgia, Senne Lammens, menjadi indikator kuat bahwa Onana tidak lagi menjadi pilihan utama Ruben Amorim.
Dilansir dari jurnalis sepak bola kenamaan Fabrizio Romano, kepindahan Onana bukanlah permanen. Melainkan hanya pinjaman.
Bahkan kesepakatan peminjaman Onana ke Trabzonspor disebut tidak disertai dengan klausul kewajiban membeli.
Artinya, setelah musim 2025/2026 berakhir, Onana akan kembali ke Manchester United. Kecuali ada kesepakatan baru antara kedua belah pihak.
“Tidak ada kewajiban membeli,” kata Romano, menegaskan bahwa ini adalah murni langkah sementara.
“Tidak ada kewajiban membeli,” kata Romano, menegaskan bahwa ini adalah murni langkah sementara.
Namun, banyak pihak menduga bahwa ini adalah bentuk exit strategy yang disusun rapi. Baik oleh agen sang pemain maupun oleh manajemen klub.
Sebaliknya, bagi Trabzonspor, ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan pemain berkelas dunia tanpa harus mengeluarkan biaya transfer besar di awal.
Salah satu aspek menarik dari kisah kepindahan Onana adalah dugaan tekanan eksternal yang turut berperan.
Baik media Inggris maupun suporter Manchester United secara konsisten mengkritik performa Onana. Terutama setelah sejumlah blunder fatal yang terjadi di musim lalu.
Dalam atmosfer klub sebesar Manchester United, kritik semacam itu adalah hal biasa. Namun, tidak semua pemain bisa mentoleransi tekanan tersebut dengan baik.