KEDIRI, JP Radar Kediri - Kegagalan menggapai mimpi sebagai pesepakbola profesional tak menyurutkan langkah Ansen untuk terus mengabdi pada dunia si kulit bundar.
Melalui Sekolah Sepak Bola (SSB) dan Akademi Triple’s FC dia menyalurkan passionnya. Baginya, kecintaannya dengan sepak bola tak akan pernah bisa tergantikan.
Berdiri di Kabupaten Kediri, Triple’s FC memegang teguh prinsip pembinaan jangka panjang daripada sekadar memburu kemenangan instan.
Klub ini menaungi berbagai kelompok usia secara berjenjang. Mulai dari kelompok umur (KU) 10, 12, 13, 15, 17, hingga tingkat senior.
Baca Juga: Jaring Pemain U17 untuk Tim Sepak Bola Porprov, Skuad Triple’s Kediri Siap Suplai Pemain
“Filosofi pembinaan kita pure dari awal memang berniat membina, bukan sekadar cari prestasi instan,” ujar Ansen.
Konsistensi pembinaan yang diterapkan Triple’s bukan sekadar isapan jempol. Klub ini telah sukses melahirkan banyak pemain professional.
Bahkan, kini menghiasi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Sebut saja gelandang Persik Kediri Krisna Bayu Otto. Lalu, penyerang Garudayaksa FC Septian Satria Bagaskara.
Kemudian ada pula Vava Mario Yagalo yang kini membela Madura United FC. Tak ketinggalan, legenda Persik Kediri Faris Aditama.
Sebagian besar suplai pemain bagi klub lokal seperti Persik dan Persedikab juga berakar dari didikan akademi ini.
Dalam membangun identitas tim, Ansen mengenalkan tagline DNA Triple S sebagai filosofi klub.
Secara taktikal, Triple’s FC memiliki ciri khas permainan pendek yang dinamis dengan mengikuti perkembangan sepak bola modern.
Meski demikian, aspek teknik bukanlah satu-satunya fokus utama. Ansen menekankan pentingnya pembentukan karakter dan attitude.
Hubungan emosional antara pemain dan pelatih pun terus dijaga erat. Bahkan hingga para pemainnya menginjak usia dewasa dan membentuk ikatan kekeluargaan ala alumni sekolah.
Baca Juga: Skuad Triple’s Kediri Tatap Piala Soeratin U13 Jatim, Menang Tipis di Babak Final
Untuk menjaga kualitas pembinaan, jajaran pelatih dikurasi secara ketat. Triple’s Kediri memberdayakan alumni klub yang memiliki lisensi kepelatihan resmi.
Menariknya, manajemen juga kerap merekrut tenaga pendidik atau guru sekolah untuk melatih. Memastikan aspek disiplin dan pedagogi berjalan seiring.
Triple’sm Kediri menerapkan sistem iuran yang sangat terjangkau dengan porsi latihan rutin tiga kali dalam seminggu.
Kelas SSB hanya ditarik Rp100.000 per bulan. Sedangkan kelas akademi sebesar Rp150.000 per bulan.
“Kami concern ke pembinaan, nanti prestasi itu akan datang sendiri. Yang penting disiplin dan konsisten,” teganya.
Di balik kesibukannya mengurus akademi, Ansen mengakui bahwa waktu dan energinya banyak tersita.
Namun, di sinilah peran penting keluarga menjadi fondasi utamanya. Sang istri dan buah hati memberikan dukungan penuh terhadap totalitas Ansen di dunia sepak bola.
Dia menyebutnya sebagai bentuk pengabdian atas cita-cita masa kecil yang belum sempat terwujud.
“Untungnya keluarga sangat paham dan mendukung penuh dengan passion dan hobi saya,” ungkap owner Tell Kopi yang berada di Jl. Mauni No.82, Bangsal, Kec. Pesantren, Kota Kediri itu.
Ke depan, Ansen berharap pembinaan di Triple’s Kediri tidak hanya berdampak pada prestasi olahraga Kediri dan Jawa Timur saja.
Tetapi juga mampu mengangkat derajat ekonomi keluarga para pemain melalui jalur profesional.
Dengan gaji pemain sepak bola profesional yang kini kian menjanjikan, disiplin dan konsistensi menjadi kunci utama bagi anak-anak didiknya untuk menembus skuad tim nasional kelak. (tar)
Editor : Andhika Attar Anindita