KEDIRI, JP Radar Kediri - Agenda Piala Soeratin U17 menuai polemik. Peserta dibuat geram dengan Asosiasi Provinsi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI) Jawa Timur.
Pasalnya, jelang pelaksanaan kompetisi, datang surat yang mengejutkan semua pihak. Mulai dari pengenaan biaya hingga penundaan jadwal kompetisi.
Pada Rabu (5/8), Asprov PSSI memberitahukan bahwa setiap peserta harus membayar Rp 6 juta untuk 'biaya gotong royong'. Biaya itu disebut akan dipergunakan untuk membayar perangkat pertandingan yang bertugas.
Sejatinya, banyak peserta yang menyadari bahwa kebutuhan anggaran untuk kompetisi memang besar. Namun, permasalahannya adalah bahwa pemberitahuan itu diberikan secara mendadak. Kurang dari seminggu pelaksanaan kompetisi.
Baca Juga: Dzaki Asraf Tak Gentar Bersaing, Rasakan Semangat Baru di Persik Kediri
“Informasinya itu mendadak, kenapa nggak saat manager meeting," sesal Mursalim, Pelatih Kepala FC Pare.
Selama ini, dia mengaku bahwa gelaran Piala Soeratin U17 di Jawa Timur memang tidak memungut biaya ke peserta. Sehingga, kabar tersebut sebetulnya mengecewakan.
Namun, di sisi lain, dia menyadari bahwa menggelar kompetisi tanpa adanya sponsor merupakan hal yang berat. Dia juga sempat mendengar bahwa di daerah lain sudah terlebih dahulu mengenakan biaya administrasi untuk mengikuti Piala Soeratin.
“Ya nggak apa-apa kalau harus bayar, tapi informasinya kok nggak kemarin-kemarin gitu lho,” keluhnya lagi.
Serupa, Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kediri Tomi Ari Wibowo juga menyesalkan hal yang sama. Meskipun ketentuan itu tak berlaku untuk timnya lantaran status Inter Kediri U17 yang merupakan tuan rumah.
Baca Juga: Bienvenido, Marcelo Djalo, Persik Resmikan Tembok Kokoh Asal Spanyol
“Anggarannya bertambah karena biaya akomodasi dan konsumsi perangkat pertandingannya dibebankan ke kami (tuan rumah, Red),” ungkap Tomi.
Belum tuntas mengenai 'biaya gotong royong', Asprov PSSI Jawa Timur kembali memberi kabar mengejutkan pada Jumat (7/8) sore. Adalah bahwa gelaran kompetisi Piala Soeratin ditunda.
Padahal, jadwal kompetisi beserta venue telah disepakati bersama akan berlangsung serentak pada 10 Agustus besok. Itupun ada grup yang memulainya di tanggal 9 Agustus.
Sontak, para peserta pun banyak yang melayangkan protes. Pasalnya, penundaan jadwal tersebut berkaitan erat dengan pemesanan tempat penginapan peserta bukan tim tuan rumah. Bukan masah penginapan saja, tetapi juga konsumsi dan kendaraan.
“Kalau FC Pare mainnya kan di Jombang, kami memang PP (pulang pergi). Tetapi kan ada tim lain yang venue-nya jauh harus ke Banyuwangi, pasti mereka sudah pesan penginapan, armada, dan lain-lain. Jadi ini ramai di grup WA,” beber Mursalim saat dihubungi Jumat (7/8) sore.
Sementara itu, penundaan jadwal ini juga merugikan bagi tim-tim tuan rumah. Pasalnya, mereka juga harus mengurus ulang perijinan dan kebutuhan pertandingan yang lain.
“Memang kacau ini,” tandas Mursalim. (em/tar)