JP Radar Kediri – Di luar gegap gempita lapangan hijau, Piala Dunia 2026 juga mencatatkan sejarah baru dari sisi bisnis. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) diperkirakan membukukan pendapatan sekitar US$15 miliar atau setara Rp269,1 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.940 per dolar AS) sepanjang penyelenggaraan turnamen jumlah tertinggi sepanjang sejarah gelaran Piala Dunia.
Angka tersebut disampaikan langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, kepada seluruh asosiasi anggota, sebagaimana dilaporkan The Guardian pada Senin (20/7/2026). Capaian ini jauh melampaui target awal FIFA yang semula hanya dipatok sekitar US$11 miliar atau sekitar Rp197,34 triliun artinya FIFA meraup tambahan pendapatan sekitar US$4 miliar atau setara Rp71,76 triliun dari proyeksi semula.
Didorong Tiket, Hospitality, dan Pasar Jual Beli Kembali
Lonjakan besar dalam pendapatan FIFA ini terjadi di tengah antusiasme luar biasa masyarakat terhadap gelaran Piala Dunia 2026, yang untuk pertama kalinya diselenggarakan bersama oleh tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sekaligus diikuti 48 negara peserta jumlah terbanyak sepanjang sejarah turnamen.
FIFA menyebut, sumber pendapatan terbesar datang dari penjualan tiket pertandingan dan paket hospitality bagi penonton. Selain jalur penjualan resmi, transaksi di pasar penjualan kembali (secondary market) turut menyumbang kontribusi besar. Dalam skema tersebut, FIFA mengantongi komisi dari kedua belah pihak yang bertransaksi, dengan biaya sebesar 15% dari penjual dan 15% dari pembeli untuk setiap transaksi yang dilakukan melalui platform resmi FIFA.
Tiket VIP Tembus Rp619 Juta per Orang
Tingginya permintaan membuat harga tiket, khususnya untuk laga puncak, melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menjelang partai final antara Spanyol dan Argentina di Stadion MetLife, New Jersey, FIFA bahkan masih memasarkan paket VIP dan hospitality premium. Salah satu paket paling eksklusif, Trophy Lounge, dibanderol hingga US$34.500 atau sekitar Rp619 juta per orang.
Tingginya minat terhadap paket-paket premium tersebut mencerminkan besarnya pasar korporasi dan penonton yang menginginkan pengalaman eksklusif dalam menyaksikan laga puncak turnamen. Kondisi ini sekaligus menegaskan bahwa sektor hospitality kini menjadi salah satu tulang punggung utama pendapatan Piala Dunia.
Baca Juga: Ramalan Shio Kambing Pekan Ini: Dompet Mesti Dijaga, Jangan Sampai Layar Laptop Bikin Mata Lelah!
Perkuat Posisi Infantino di Tengah Kontroversi
Rekor finansial ini turut memperkuat posisi Gianni Infantino di tengah sejumlah kontroversi yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026, termasuk polemik pencabutan sanksi kartu merah terhadap penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, yang sempat memicu kritik dari sejumlah asosiasi sepak bola Eropa. Meski begitu, lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA dilaporkan telah menyatakan dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA yang akan digelar Maret 2027.
Standar Baru Menuju Piala Dunia 2030
Kesuksesan finansial sekaligus penyelenggaraan Piala Dunia 2026 turut memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai calon kuat tuan rumah edisi mendatang. Edisi 2038 pun disebut masih terbuka untuk proses pencalonan negara penyelenggara berikutnya.
Rekor pendapatan yang tercipta sepanjang Piala Dunia 2026 ini diperkirakan akan menjadi standar baru bagi penyelenggaraan turnamen selanjutnya, termasuk Piala Dunia 2030 yang rencananya akan digelar di tiga benua sekaligus enam negara Spanyol, Portugal, Maroko, Argentina, Paraguay, dan Uruguay.
Penulis : Zebita Rizqi Priyangga, mahasiswa magang dari
Universitas Negeri Yogyakarta
Editor : Mahfud