JP Radar Kediri – Laga final Piala Dunia 2026 yang berakhir dengan kemenangan 1-0 Spanyol atas Argentina di Stadion MetLife, New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, menyisakan dua kisah emosional yang bertolak belakang dari kedua kapten dan pahlawan pertandingan.
Kapten Argentina Lional Messi tak kuasa membendung air matanya begitu wasit Slavko Vincic meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga. Momen tersebut menandai kegagalan Albiceleste mempertahankan gelar juara dunia yang mereka raih di Qatar 2022.
Sesaat setelah peluit dibunyikan, Messi sempat duduk terpaku di tengah lapangan dengan tatapan kosong sebelum akhirnya beranjak dan menjatuhkan diri sambil menutup wajahnya dengan tangan. Ia kemudian dikerumuni rekan setim maupun pemain Spanyol yang mencoba menenangkannya. Air mata Messi kembali pecah saat menerima medali runner-up, dan mengalir lagi ketika ia menyaksikan trofi Piala Dunia diserahkan kepada Spanyol.
Usai pertandingan, dengan suara bergetar, Messi mengakui keunggulan tim lawan. "Rasanya sedih sekali, tapi jujur, Spanyol memang bermain lebih baik," ucapnya.
Laga tersebut kemungkinan besar menjadi partai puncak terakhir Messi di ajang Piala Dunia. Pemain berusia 39 tahun itu mencatatkan sejarah sebagai pemain tertua yang tampil di final Piala Dunia, sekaligus menyamai rekor tiga kali bermain di final turnamen ini bersama legenda Brasil, Cafu.
Sepanjang laga final, Messi tampil kurang bersinar karena diisolasi ketat oleh pertahanan Spanyol ia bahkan hanya melakukan satu sentuhan bola dalam 15 menit pertama pertandingan. Meski demikian, torehannya sepanjang turnamen tetap mengesankan dengan delapan gol dan empat assist, menjadikannya salah satu tulang punggung utama skuad Argentina hingga langkah mereka terhenti di partai puncak.
Baca Juga: Dibalik Sosok Rodri Pemain Terbaik Piala Dunia 2026, Sosok Unik Sarjana Bisnis
Di kubu yang berseberangan, kebahagiaan menyelimuti penyerang Spanyol Ferran Torres yang tampil sebagai pahlawan kemenangan lewat gol tunggal pada menit ke-106 babak tambahan waktu. Pemain Barcelona itu masuk sebagai pemain pengganti sebelum memecah kebuntuan lewat tembakan kaki kiri yang tak mampu dijangkau kiper Argentina, Emiliano Martinez.
Usai laga, Torres enggan mengklaim gol tersebut sebagai pencapaian pribadi semata. "Pada akhirnya, gol itu menjadi milik 47 juta orang, bukan hanya milik saya ataupun 26 pemain," katanya, sebagaimana dilansir laman resmi FIFA.
Baca Juga: Siapa Pemain Terbaik Piala Dunia 2026? Intip Profil Rodri Sang Maestro Spanyol yang Juga Sarjana
Sepanjang turnamen, Torres sempat menjadi salah satu pemain yang mendapat sorotan karena penampilannya dinilai kurang konsisten. Namun momen golnya di final membuat kritik tersebut seketika sirna. Ia menyebut kemenangan ini seperti sudah menjadi bagian dari takdir tim.
Gol Torres sendiri lahir dari rangkaian serangan matang: berawal dari umpan silang Pedro Porro ke tiang jauh, disambut sundulan umpan Nico Williams, sebelum akhirnya dituntaskan Torres dengan sepakan keras yang tak terbendung.
Dengan kemenangan ini, Spanyol resmi mengukir sejarah sebagai satu-satunya negara yang mampu menjuarai Piala Eropa dan Piala Dunia secara beruntun sebanyak dua kali sebuah pencapaian yang sebelumnya juga mereka torehkan pada periode 2008–2010. Sementara bagi Argentina, kekalahan ini membuka kembali pertanyaan besar mengenai masa depan Lionel Messi bersama timnas, yang hingga kini belum dijawab secara tegas oleh sang kapten.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Senin 20 Juli 2026 Turun Tipis, Cek Rinciannya Disini
(Artikel ditulis oleh: Zebita Rizqi Priyangga, mahasiswa magang dari Universitas Negeri Yogyakarta)
Editor : MahfudSumber : Antara News