KEDIRI, JP Radar Kediri– Marcos Reina mendapat banyak pengalaman baru di kompetisi Tanah Air. Dia menyebut, hal-hal baru yang dijumpainya membuat dirinya berkembang.
Hanya saja, dia juga punya opini tersendiri mengenai pemain lokal.
“Saya akan mencoba jujur terkait apa yang saya pikirkan,” kata pelatih asal Spanyol itu saat memulai mengutarakan pendapatnya.
Menurutnya, antara pemain lokal dengan asing sejatinya memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda. Pun terkait dengan kondisi fisiknya. Hanya saja, ada satu poin yang menjadi perhatiannya. Adalah mentalitas.
“Saya pikir pemain Indonesia punya kualitas, juga fisik yang bagus, tetapi menurut saya satu hal yang membuat mereka sulit naik level itu tentang mentalitas,” beber Marcos.
Dia melihat ada suatu kebiasaan pemain lokal yang sulit dipahami olehnya. Yang mana, para pemain seringkali mempertimbangkan faktor keluarga saat ingin mengambil keputusan. Menurutnya, situasi itu menjadi hal baru baginya. Hal yang sulit dipahami oleh Marcos.
Menurut Marcos, pemain lokal sepertinya merasa bahwa kebersamaan dengan keluarga yang paling utama. Dia tak mengerti dengan hal tersebut.
“Di Spanyol, Argentina, Brazil, terkadang sepak bola adalah hal yang paling penting. Sehingga mereka terus mengejar (karir sepak bola), tak peduli mereka bermain untuk siapa dan dimana,” jelentrehnya.
Menurutnya, hal tersebut menjadi perbedaan mencolok yang dirasakannya setelah berkarir di Tanah Air. Selain hal itu, secara kualitas maupun fisik pemain tidak ada perbedaan jauh.
“Jadi mereka punya kualitas, fisik yang bagus, tetapi kadang masalahnya ada di mentalitas,” ujar pelatih berusia 41 tahun itu.
Menariknya, nama Rizki Ridho cukup membuatnya terkesan. Marcos menyebut, pemain berseragam Macan Kemayoran-julukan Persija Jakarta itu memiliki mentalitas yang bagus.
“Jika memang harus bertarung dia akan bertarung. Yang mana pemain lokal itu terkadang memang terlalu baik, tetapi dia (Ridho, red) terus bertarung apapun risikonya,” ucap pelatih asal Spanyol itu.
Menurutnya, hal itu yang membuat Ridho menjadi pesepakbola top meskipun berstatus sebagai pemain lokal.
“Sebenarnya pemain lainnya mungkin juga punya kualitas sama, tetapi mereka tidak punya mentalitas tersebut,” katanya.
Mungkin, Marcos merasa performa pemain lokal masih kurang greget. Padahal, secara kualitas tak jauh berbeda. Apapun itu, Marcos menekankan kembali bahwa apa yang disampaikan itu adalah opini pribadinya.
“Mentalitas untuk menjadi super profesional, jadi bagaimana sepak bola harus menjadi yang paling penting. Ini adalah opini saya, dari apa yang saya lihat,” tandasnya. (em/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita