JP RADAR KEDIRI - Di lereng Gunung Kelud, tradisi nyadran masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi tersebut tidak hanya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas keberadaan sumber mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.
Salah satu tradisi nyadran dilakukan masyarakat di kawasan Mbah Sumber, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Warga setempat menyakralkan lokasi tersebut karena keberadaan sumber mata air yang dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.
Saat tim ekspedisi berkunjung ke lokasi tersebut, sumber mata air berada di tempat yang cukup tersembunyi. Dari akses jalan menuju puncak Kelud, perjalanan masih harus ditempuh sekitar 100 meter melalui jalan setapak. Di sisi kanan jalan terdapat jalur lahar, sementara kawasan sekitarnya ditumbuhi pohon-pohon bambu yang telah berusia ratusan tahun.
Di lokasi tersebut terdapat dua sumber mata air. Mbah Ronggo mengatakan, sumber mata air yang berada di sebelah barat dikenal sebagai sumber air Mbah Abdurrahman. Sementara itu, sumber mata air di sisi timur merupakan sumber air Mbah Siti Aminah.
Baca Juga: Dampak Letusan Anak Gunung Krakatau, Ratusan Orang Batal Terbang dari Bandara Dhoho Kediri
Bagi masyarakat Sugihwaras, sumber mata air tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan mereka. Selama ini, warga memanfaatkan air dari sumber tersebut untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari konsumsi hingga pengairan.
Menurut cerita yang berkembang secara turun-temurun, Abdurrahman dan Siti Aminah pernah tinggal cukup lama di sekitar sumber mata air tersebut. Keduanya dipercaya sebagai penjaga sumber air di Sugihwaras.
Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, keduanya disebut moksha di tempat tersebut. Karena itu, warga menganggap kawasan tersebut sebagai petilasan Mbah Abdurrahman dan Mbah Siti Aminah.
Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat Dusun Mulyorejo memiliki tradisi nyadran setiap kali memiliki hajat. Tradisi tersebut dilakukan dalam berbagai kegiatan, seperti sunatan, pernikahan, maupun syukuran biasa.
Biasanya, keluarga yang memiliki hajat menyiapkan uba rampe dan beberapa jenis makanan. Makanan tersebut kemudian dibawa ke Mbah Sumber untuk digunakan dalam doa bersama. Setelah prosesi selesai, makanan tersebut dimakan bersama di lokasi.
Menurut Mbah Ronggo, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan sumber mata air dianggap sebagai berkah besar karena menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Sugihwaras.
Selain menjadi bentuk rasa syukur, tradisi nyadran juga menjadi pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber mata air. Dengan adanya tradisi tersebut, warga diharapkan terus merawat sumber air sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Kelud.
Di sisi lain, tradisi nyadran tidak hanya dilakukan di kawasan Mbah Sumber. Tradisi serupa juga dilakukan di sejumlah lokasi di wilayah Sugihwaras dan sekitarnya.
Menurut Camat Ngancar, Ngaseri, masyarakat di wilayah tersebut masih menjaga sejumlah tradisi nyadran. Salah satunya dilakukan di Dusun Sugihwaras.
Selain di Mbah Sumber, tradisi nyadran juga dilakukan oleh warga Dusun Jambon. Sama seperti di Mbah Sumber, masyarakat menyiapkan uba rampe dan berbagai jenis makanan dalam pelaksanaan tradisi tersebut.
Beberapa makanan yang disiapkan di antaranya nasi putih, sayur-sayuran, ayam lodo, tempe, tahu, serta berbagai jenis buah-buahan. Namun, waktu pelaksanaan nyadran di setiap lokasi berbeda.
Di Mbah Sumber, tradisi nyadran dilakukan setiap Jumat Kliwon dan biasanya dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Sementara itu, tradisi nyadran di Jambon dan Sugihwaras dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 10 Suro dan digelar pada malam hari.
Di Kecamatan Ngancar, tradisi nyadran sebenarnya dilakukan di banyak tempat. Salah satunya berada di Desa Sempu. Di wilayah tersebut, masyarakat menggelar tradisi nyadran di Sumber Banteng.
Baca Juga: Tiga Gempa Tektonik Jauh Terekam di Kelud, Pengunjung Dilarang Dekati Kawah, Begini Statusnya
Pelaksanaan tradisi tersebut dilakukan setiap menjelang bulan Suro. Sama seperti tradisi nyadran di sejumlah lokasi lainnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berbagai tradisi yang masih dijaga masyarakat lereng Gunung Kelud tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal Kediri. Tradisi nyadran juga turut melengkapi berbagai kegiatan budaya yang berkembang di kawasan Kelud, termasuk acara yang menyertai larung sesaji dalam Festival Kelud yang menjadi agenda tahunan wisata Pemerintah Kabupaten Kediri.
Keberadaan tradisi nyadran menunjukkan bahwa kawasan Gunung Kelud tidak hanya menawarkan pesona alam, tetapi juga memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang masih dijaga oleh masyarakat setempat. Di tengah perkembangan wisata Kelud, tradisi tersebut tetap menjadi pengingat bahwa sumber kehidupan masyarakat lereng gunung juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Kanzul fikri ahmadi - UIN Syekh wasil kediri
Editor : Shinta Nurma Ababil