JP Radar Kediri – Menyambut bulan Sura, warga di Desa Sugihwaras, Ngancar dan beberapa desa lainnya di lereng Gunung Kelud menggelar larung sesaji. Jika acara massal baru digelar Minggu (28/6) nanti, pelarungan sesaji hingga beberapa jenis hewan kemarin digelar terbatas. Hanya diikuti puluhan tokoh desa dan adat saja.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, larung digelar sekitar pukul 07.30 kemarin. Selain sejumlah tokoh adat, ada 10 kepala desa di lereng Kelud yang mengikuti acara tersebut. “Larung sesaji hari ini memang digelar terbatas. Bukan untuk umum,” kata Camat Ngancar Moh. Muthoin tentang kegiatan budaya yang tanpa publikasi tersebut.
Lebih lanjut Muthoin menuturkan, tradisi larung sesaji di kawah Kelud merupakan warisan leluhur. Digelar setiap bulan Sura dan dilestarikan oleh generasi terdahulu.
“(Larung sesaji) menjadi simbol permohonan keselamatan dan keberkahan bagi warga Ngancar serta masyarakat Kabupaten Kediri. Ini kearifan lokal yang bahkan sudah ada sejak saya belum lahir,” kata Muthoin.
Larung sesaji, terang Muthoin, sekaligus juga jadi sarana doa dan ungkapan rasa syukur. Terutama atas limpahan berkah yang diterima warga di lereng Kelud.
Senada dengan Muthoin, Pj Kepala Desa Sugihwaras Mariana Dwi Noventi mengungkapkan, dalam larung sesaji kemarin mereka menyiapkan sejumlah ubarampe yang dilarung ke kawah. Mulai dari kepala, jeroan, hati, kulit, dan kaki dari kambing kendit. Kemudian, tokoh adat desa juga melepaskan ayam cemani atau ayam dengan kulit dan bulu hitam itu bersama aneka nasi dan lauk pauknya.
Baca Juga: Hadiri Kirab 1 Suro di Desa Menang Pagu, Kapolres Kediri Tekankan Pentingnya Pelestarian Budaya
“Prosesi doa dipimpin oleh pinisepuh Desa Sugihwaras. Diawali dengan doa kejawen atau aliran kepercayaan, kemudian disambung dengan doa secara Islami,” terang Mariana.
Terkait pembatasan peserta yang turun ke area kawah, Mariana menyebut pihaknya memang hanya memberi akses kepada peserta ritual saja. Adapun wisatawan maupun masyarakat umum hanya diperbolehkan menyaksikan acara dari pagar pengaman dekat Terowongan Ganesha.
“Pembatasan dilakukan sesuai rekomendasi pos pengamatan gunung api terkait risiko gas belerang beracun yang sewaktu-waktu bisa meningkat,” papar Mariana.
Baca Juga: Tradisi Jamasan Keris Masih Lestari di Kediri, Warga Rogoh hingga Rp 10 Juta Saat Bulan Suro
Jika larung sesaji yang digelar kemarin dilakukan secara terbatas, menurut Mariana pihaknya akan menggelar larung sesaji lanjutan pada Minggu (28/6) nanti. Sebanyak sepuluh desa di lereng Kelud akan membawa tumpeng nasi dan gunungan hasil bumi raksasa.
Pemdes juga akan menggelar berbagai jenis pertunjukan. Mulai tari-tarian, pentas jaranan, hingga reog. “Nanti akan lebih besar lagi,” jelas Mariana.
Sementara itu, meski pemdes memberlakukan pembatasan akses untuk masyarakat umum, puluhan warga dan wisatawan yang sedang berada di puncak Kelud tak melewatkan agenda tahunan tersebut. Mereka mengikuti rangkaian acara hingga berakhir sekitar pukul 09.00 kemarin.
Editor : Andhika Attar Anindita