Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sanggar Tari Nawasena Kediri, Wadah Kreativitas Anak Muda Lestarikan Seni Tradisional

Diana Yunita Sari • Rabu, 6 Mei 2026 | 21:49 WIB
Anggota Sanggar Nawasena tengah berlatih tari tradisional (Diana Yunita)
Anggota Sanggar Nawasena tengah berlatih tari tradisional (Diana Yunita)

JP Radar Kediri - Desa Pehwetan, Kecamatan Papar punya banyak potensi unggulan. Salah satunya di bidang seni budaya. Di sana, ada sanggar kesenian yang diinisiasi oleh anak muda. Selain mewadahi potensi warganya, juga untuk melestarikan kesenian daerah. 

Ada cukup banyak pelaku kesenian di desa ini. Potensi itu salah satunya diwadahi oleh Sanggar Tari Nawasena. Sanggar yang berdiri sejak 2022 itu jadi tempat warga belajar dan menggeluti berbagai kesenian tradisional. Utamanya karawitan, tari, dan perdalangan. 

Mulanya, sanggar itu diinisiasi oleh Adam Putra Destiranda, 25. Sejak didirikan, anggota sanggar itu sudah banyak tampil di berbagai panggung seni. Sebelum dikenal seperti sekarang, sanggar ini hanya membuka kelas karawitan dengan sedikit murid yang mayoritas perempuan. Memasuki tahun 2026, sanggar ini berkembang pesat dengan menambah kelas pedalangan dan tari. 

Baca Juga: Begini Sepak Terjang Sanggar Tari Saraswati di Desa Bangsongan Kayenkidul Kediri

"Dulu saya ikut sanggar lain, lalu ingin membuat komunitas seni sendiri dan mengajak anak-anak muda lainnya," ujar Adam, yang juga Ketua Umum Sanggar Seni Nawasena.

Seluruh aktivitas sanggar pun berlangsung di rumahnya yang berlokasi di depan kantor Desa Pehwetan. Di awal pendiriannya, sanggar itu bahkan tak punya gamelan sendiri dan harus menumpang di rumah warga lain untuk berlatih. Seiring waktu, sanggar tersebut sudah memiliki alat musik yang lengkap. Anggotanya pun terus bertambah hingga mencapai lebih dari 100 orang. Mulai dari anak-anak usia SD hingga dewasa. Termasuk dari kalangan guru-guru.

“Sanggar mulai banyak dikenal karena dulu setiap aktivitas latihan, rutin direkam dan diunggah ke akun TikTok dan Instagram,” lanjutnya.

Di sana, latihan digelar seminggu sekali untuk setiap kelas. Saking banyaknya kelas, hampir setiap hari selalu ada aktivitas kesenian di sanggar itu.

Baca Juga: Sanggar Tari Prameswari di Desa Papar Kediri Ini Jadi Wadah Kreativitas dan Pelestarian Budaya

"Pelatih awalnya saya sendiri, kemudian anggota senior diajak untuk menjadi pelatih juga. Jadi, kami tidak mendatangkan pelatih dari luar," jelas Adam.

Karena pelatih yang juga anak muda, banyak anggota yang nyaman belajar di sana. Mereka tidak merasa canggung dan bebas bertanya. Kini, Sanggar Nawasena semakin merambah berbagai panggung. Termasuk mengisi acara pernikahan hingga luar kota.

“Kelas di sanggar ini tidak dikelompokkan berdasarkan jenjang usia. Melainkan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota,” ungkapnya, soal salah satu keunggulan di sana.

Meski sudah banyak tampil di berbagai daerah, namun sanggar ini tetap berbaur dengan lingkungannya di Desa Pehwetan. Mereka punya agenda tahunan yang dijuluki Nawasena Art Festival. Acara yang digelar di Lapangan Desa Pehwetan itu rutin dilaksanakan untuk memperingati hari ulang tahun sanggar. Melalui festival itu, warga sekitar dapat menyaksikan langsung penampilan bakat dari para anggota sanggar.

Editor : Andhika Attar Anindita
#desa pehwetan #kabupaten kediri #Sanggar tari #melestarikan budaya jawa #seni budaya