JP Radar Kediri - Di Dusun Tondowongso, Desa Gayam terdapat situs bersejarah peninggalan Kerajaan Medang berupa struktur candi dan arca.
Situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 2006 dan terus dipelihara hingga kini.
Arca yang ditemukan pertama kali adalah Arca Siwa Catur Muka pada akhir tahun 2006, yang saat ini telah disimpan di Museum Jayabaya.
Penemuan awal itu bermula dari laporan warga. Dulunya wilayah ini adalah tanah tegalan yang sulit subur.
“Saat pemilik lahan menggali untuk mencari sumber air, ia justru menemukan arca serta struktur bangunan candi,” ungkap Juru Pelihara Situs Tondowongso, Edi Saputro.
Baca Juga: Pemdes Tirulor Kediri Dukung Wisata Religi dengan Melakukan Pemugaran Situs Bersejarah
Situs tersebut kini berada di bawah pengelolaan Pemkab Kediri, setelah dilakukan proses pembebasan lahan pada tahun 2009.
Situs Tondowongso diperkirakan berasal dari era Kerajaan Medang atau zaman Mpu Sindok.
Edi menyebut bangunan ini dulunya merupakan candi pemujaan, merujuk pada temuan berbagai arca dewa-dewa di lokasi tersebut.
“Area yang sudah digali saat ini luasnya sekitar 9.700 meter persegi. Namun, menurut penelitian, diperkirakan luas keseluruhan bangunan candi bisa mencapai 17 hektare,” terang Edi.
Keunikan lain dari situs ini adalah adanya sumber air di sekitar fondasi candi yang sering menggenang.
Meski sumber tersebut biasanya akan mengering saat musim kemarau tiba.
Terkait perawatan, Edi rutin menyapu area situs, merawat tanaman, serta menjaga struktur bangunan agar tetap kokoh.
Dia mengatakan bahwa kondisi struktur bangunan cukup rawan roboh setelah lama tertimbun dan kini kembali terbuka.
Oleh karena itu, pihak pengelola mulai memasang atap pelindung secara bertahap menyesuaikan ketersediaan anggaran.
Momen paling ramai biasanya terjadi saat anak-anak sekolah mencari bahan tugas. Mereka sering kali datang mulai pukul 11 siang hingga sore hari.
“Biasanya dari komunitas pecinta sejarah, anak sekolah, hingga tamu jauh dari Bali dan Jakarta. Bahkan, pernah ada kunjungan arkeolog dari 14 negara ke sini,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita