JP Radar Kediri - Desa Kambingan juga memiliki banyak seniman berbakat. Salah satunya adalah Warjianto, seorang pengrajin barongan asal Dusun Ngatup. Ketertarikannya pada dunia pembuatan barongan bermula sejak 2015.
Uniknya, keahlian memahat kayu menjadi bentuk barongan tersebut ia pelajari secara otodidak. Kini, karyanya banyak dibeli untuk keperluan pentas atau koleksi pribadi.
“Sehari-hari jualan pentol, buat barongan itu hanya hobi saja di sela-sela berdagang,” ungkap Warjianto. Selain barongan ia juga kerap mengasah kreativitasnya dengan membuat karya lain. Seperti wayang krucil. Meski masih terbatas untuk koleksi pribadi.
Baca Juga: Kreatif! Pemuda Asal Desa Jagung Kediri Ini Bikin Jamang Barongan Kesenian
Proses pembuatan satu buah barongan membutuhkan waktu yang bervariasi. Berkisar antara satu hingga dua bulan. Namun, jika dikerjakan secara intensif, satu karya bisa rampung dalam waktu dua minggu. Pesanan yang datang mayoritas dari daerah Malang hingga Jawa Tengah. Baik untuk keperluan pentas maupun koleksi.
Harga satu barongan dibanderol mulai dari Rp 2 juta. Tergantung tingkat kesulitan ukirannya. “Untuk bahan baku sendiri menghabiskan biaya sekitar Rp 750 ribu,” bebernya.
Baca Juga: Ki Wawan Andriono, Dalang Wayang Kulit yang Mampu Menembus Segala Keterbatasan
Demi menjaga kualitas, Warjianto hanya menerima maksimal satu pesanan dalam sebulan. Bahan baku yang digunakan juga bukan sembarang kayu. Yaitu menggunakan kayu waru dan kayu cangkring. Kedua jenis kayu ini dipilih karena memiliki serat yang kuat dan tidak mudah pecah saat dipahat maupun dimainkan.
Kecintaan Warjianto pada seni jaranan tidak berhenti pada pahatan kayu. Ia juga mendirikan grup jaranan BernamaNew Putro Jenggolo. Kelompok ini beranggotakan sekitar 50 anak usia SMP hingga SMA. Grup tersebut telah pentas di berbagai daerah. Seperti Jombang, Blitar, hingga Malang.
Editor : Andhika Attar Anindita