KEDIRI, JP Radar Kediri- Museum Sri Aji Joyoboyo mulai soft launching pada akhir Desember 2025. Museum yang terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu itu jadi pusat edukasi sejarah Kediri.
Tak hanya berisi benda-benda arkeologi, museum yang tahun ini dilanjutkan pembangunannya itu akan dilengkapi dengan etnografika pula.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi mengatakan, di 2026 ini pihaknya kembali melakukan optimalisasi museum.
“Belum klir 100 persen untuk arkeologikanya. Ada pengecatan yang belum selesai. Ada detailing lampu, detailing bingkai dan tempat-tempat yang belum ada pengamannya,” kata Mustika memerinci item pembenahan.
Selain museum yang berisi benda-benda arkeologi, menurutnya nanti juga akan dibuka museum etnografika. Sehingga, masyarakat atau pengunjung tidak hanya belajar tentang sejarah Kabupaten Kediri saja.
Baca Juga: Edisi Khusus 1.222 Tahun Kabupaten Kediri: Ini Bukti Bumi Daha Jadi Pusat Magang Raja-Raja Jawa
Melainkan juga bisa melihat prototipe batik, jaranan, tiban, caplokan, dan banyak kesenian lain di Kabupaten Kediri. Demikian pula keris yang bisa dipamerkan di museum temporer.
“Tahun ini kami ubah DED (detail engineering design) agar museum arkeologi bisa nyambung lurus ke museum etnografika,” tutur Mustika tentang terobosan Pemkab Kediri untuk memudahkan pengunjung belajar tentang Kediri.
Pasca-Idul Fitri ini, menurut Mustika Disparbud Kabupaten Kediri sudah menggagas kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri.
Pelajar dari berbagai daerah di Kabupaten Kediri akan berkunjung secara bergiliran ke museum. Dengan cara demikian, diharapkan anak-anak juga mulai memahami sejarah Kabupaten Kediri.
Terpisah, Staf Direktorat Sejarah dan Permuseuman Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Novi Bahrul Munib menyebut, selain mengoperasikan museum sebagai pusat edukasi sejarah, Pemkab Kediri juga harus terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya.
Hal tersebut juga sesuai dengan UU No. 05/2017 tentang Pemajuan Kebudayan. “Jika Jogjakarta dan Bali bisa maju dengan pengembangan dan pengemasan budayanya, seharusnya Kediri juga bisa,” tandas Novi.
Apalagi, saat ini Bandara Dhoho sudah beroperasi. Ke depan koneksi juga akan semakin mudah dengan beroperasinya jalan tol.
Kabupaten Kediri menurutnya harus beradaptasi dengan berbagai infrastruktur tersebut. Dengan tagline Kediri Berbudaya, menurutnya citra budaya Kediri tidak boleh luntur karena kemasannya yang justru kurang berbudaya.
“Kediri Berbudaya tidak hanya membicarakan seni dan candi. Tapi semua aspek. Teknologi juga bagian dari budaya. Bagaimana perkembangan Kediri, entah kegiatan ekonomi, sekolah, dikemas dengan cara teknologi modern dipadukan dengan karakter budaya yang ada. Jangan sampai meninggalkan budaya,” pesannya.
Baca Juga: Edisi Khusus 1.222 Tahun Kabupaten Kediri: Mengulik Reformasi Istana-Rakyat ala Prabu Jayabaya
Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama, menurut Novi adalah bagaimana budaya tetap berkembang. “Melestarikan budaya itu wajib. Tapi 1000 tahun lagi generasi yang akan datang akan melihat apakah kita sekadar meneruskan budaya atau berbudaya (membangun budaya),” tegasnya.
Kabupaten Kediri menurut Novi sudah memiliki pokok-pokok pikiran kebudayaan sejak tahun 2022 lalu. Namun, dokumen tersebut menjadi tidak berarti jika tidak dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Tagline Kediri Berbudaya sudah selaras dengan UU Pemajuan Kebudayaan. Tapi ini harus ditindaklanjuti. Harus berkesinambungan,” imbuhnya. (Asad M.S/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita