Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Edisi Khusus 1.222 Tahun Kabupaten Kediri: Ini Bukti Bumi Daha Jadi Pusat Magang Raja-Raja Jawa

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 27 Maret 2026 | 08:23 WIB
tahun-depan-ada-rencana-ekskavasi-situs-adan-adan
Situs Adan-Adan menjadi salah satu bukti peninggalan bersejarah di Kabupaten Kediri.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Dari sekian banyak situs peninggalan Kerajaan Kediri, Situs Adan-Adan di Desa Adan-Adan Gurah merupakan yang terbesar.

Pemerhati Sejarah M. Zainal Fachris menyebut, situs yang hingga saat ini belum diekskavasi secara menyeluruh itu merupakan yang paling monumental. 

“Di sana (Situs Adan-Adan) ada makara yang luar biasa istimewa dan bagus,” ungkap pria yang akrab disapa Fachris itu. Menurutnya, situs di Kecamatan Gurah itu sekaligus jadi salah satu bukti kebesaran Kediri di masa lampau.

Dari banyak makara yang ditemukan, menurut Fachris tidak ada yang sehalus dan sedetail makara di Situs Adan-Adan. “Belum pernah melihat yang sebesar dan seindah itu,” lanjutnya.

Bukti kebesaran Kediri di masa lampau juga didapati dari temuan jobong atau bak batu dari Nambaan. Demikian pula temuan arca-arca di situs Gurah yang berasal dari Kerajaan Kediri.

Fachris meyakini masih banyak situs peninggalan Kerajaan Kediri. Namun, situs tersebut terpendam letusan dahsyat Gunung Kelud selama beberapa periode. 

Baca Juga: Edisi Khusus 1.222 Tahun Kabupaten Kediri: Mengulik Reformasi Istana-Rakyat ala Prabu Jayabaya

Selain peninggalan berupa benda atau situs, menurut Fachris Kerajaan Kediri juga mewariskan karya sastra dari era Raja Sri Aji Jayabaya.

“Jangka Jayabaya itu tidak terkenal saat zaman Kerajaan Kediri. Tapi terkenal mulai zaman Mataram Islam,” tuturnya. 

Jangka Jayabaya, terang pria yang juga guru sejarah di MAN 2 Kota Kediri itu, banyak digubah oleh para pujangga keraton Solo. Gubahan merekalah yang membuat Jangka Jayabaya menjadi sangat terkenal.

 “Sampai sekarang belum ada yang bisa meyakinkan Jangka Jayabaya asli yang mana (dari banyaknya gubahan pujangga di era Ronggo Warsito),” bebernya.

Selain Jangka Jayabaya, cerita Calon Arang juga merupakan karya dari Kediri yang melegenda. Kebesaran Jayabaya juga membuat banyak raja Mataram Islam yang mengiblatkan genealogi mereka sebagai keturunan Jayabaya.

“Zaman setelah Kerajaan Demak ke Mataram Islam itu merujuknya ke Kediri,” tandasnya.

Hingga saat ini menurutnya Kediri masih diyakini sebagai tanah yang sangat keramat. Dia mencontohkan, hampir semua raja di Jawa Timur, mulai Raja Wisnuwardana dari Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara dari Singasari, Patih Gajahmada dari Majapahit, semuanya pernah ‘magang’ di Bumi Daha.

Baca Juga: Dalam Sebulan Kunjungan Museum Sri Aji Joyoboyo Kediri Tembus Ribuan

Yakni dengan menjadi yuwaraja atau raja muda dan di-training di Kerajaan Kediri. Demikian pula Patih Gajahmada yang pernah menjadi patih muda di Kerajaan Kediri. “Kediri itu jadi jonggring salaka. Tempat pendadaran keilmuan,” jelasnya.

Dengan jejak sejarah yang panjang itu, menurut Fachris sudah saatnya Kediri muncul kembali. Berjaya kembali. Kediri harus menjadi pusat literasi, pusat pengetahuan, dan pusat kekuasaan. “Sudah saatnya generasi Kediri sekarang tampil. Kediri sudah seharusnya menjadi barometer,” urainya. (Asad M.S/ut)

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#raja #situs adan adan #jawa #sri aji jayabaya #kerajaan kediri