KEDIRI, JP Radar Kediri- Kerajaan Panjalu yang menjadi cikal bakal Kediri mengajarkan banyak hal. Dipimpin oleh sembilan raja mulai tahun 1042 sampai tahun 1222 Masehi, kerajaan yang berpusat di Daha itu mengajarkan bahwa persatuan akan selalu menjadi kunci kemenangan. Sebaliknya, perpecahan membuat kerajaan yang berkuasa selama 180 tahun itu runtuh.
Adalah keputusan Raja Kahuripan Airlangga yang menjadi awal berdirinya Kerajaan Panjalu. Menyadari potensi konflik perebutan kekuasaan antara dua putranya, putra Raja Udayana Bali itu memutuskan untuk membagi dua kerajaannya.
Yakni, Kerajaan Panjalu di bagian barat yang berpusat di Daha (Kediri) untuk Sri Samarawijaya. Serta Kerajaan Jenggala di sebelah timur dan berpusat di Kahuripan (Sidoarjo) untuk Mapanji Garasakan.
Menjadi Raja Panjalu yang pertama, Sri Samarawijaya memerintah sejak tahun 1042-1051 Masehi. “Tidak banyak catatan tentang pemerintahannya yang ditemukan. Baik itu di prasasti atau di kakawin,” kata Novi Bahrul Munib, staf Direktorat Sejarah dan Permuseuman, Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan.
Baca Juga: Dalam Sebulan Kunjungan Museum Sri Aji Joyoboyo Kediri Tembus Ribuan
Dari sembilan raja Kerajaan Panjalu, hanya tiga raja yang nama dan pemerintahannya muncul di banyak prasasti. Yaitu, Raja Sri Bameswara yang memerintah di tahun 1112-1135 Masehi, Raja Sri Aji Jayabaya di tahun 1135-1159 Masehi, dan Raja Kertajaya di tahun 1194-1222.
Masa keemasan Kerajaan Panjalu berada di pemerintahan Sri Aji Jayabaya. Tak hanya terkenal akan karya-karya sastra besar di zamannya, pemerintahan Raja Jayabaya berhasil menyatukan kembali Kerajaan Panjalu dan Kerajayaan Jenggala.
Keberhasilan penyatuan Kerajajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala tersebut diabadikan dalam Prasasti Hantang dengan slogan Panjalu Jayati atau Kediri Menang.
“Ada beberapa keistimewaan dari peristiwa itu (keberhasilan penyatuan Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala),” sambung Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan (DK4) Kabupaten Kediri Imam Mubarok.
Setelah kemenangan itu, rakyat Kediri diperbolehkan makan makanan raja. Tidak hanya itu, rakyat jelata juga diperbolehkan menggunakan kayu nangka dan kayu jati yang keduanya berwarna kuning atau emas.
Sebelumnya, segala sesuatu yang berwarna kuning atau emas tidak boleh digunakan oleh masyarakat.
“Sebelumnya, segala sesuatu yang berwarna emas itu milik raja. Tidak boleh digunakan oleh masyarakat biasa,” ungkap pria yang akrab disapa Barok itu.
Memegang pemerintahan selama 24 tahun, Raja Jayabaya juga dikenal welas asih. Setelah berhasil menyatukan Jenggala dan Panjalu, Jayabaya juga memberi ampunan kepada rakyat yang kedapatan mencuri namun bersedia mengembalikan barang yang dicuri di tempat yang sama.
“Tidak dikenai hukuman. Itu salah satu perbuatan welas asih-nya Prabu Jayabaya,” lanjut Barok.
Pada masa Sri Aji Jayabaya, kerajaan tidak hanya kuat secara militer. Melainkan perkembangan sastranya juga pesat. Salah satu yang terkenal adalah munculnya Kakawin Bharatayudha oleh Empu Sedah dan empu Panuluh.
Di sisi lain, Panjalu juga menjadi pusat perdagangan maritim dan agraris di sepanjang aliran Sungai Brantas. Hingga kini Prabu Jayabaya dikenal dengan ramalan Jangka Jayabayanya.
Baca Juga: Pengunjung Wajib Tahu! Ini Alasan Pemkab Kediri Tata Ulang Museum Sri Aji Joyoboyo
Selain di era Prabu Jayabaya, Kediri juga kembali memasuki zaman keemasan di era Prabu Kertajaya. Salah satu bangunan di era Raja Kertajaya yang masih ada hingga sekarang adalah Candi Palah atau Candi Penataran di Kabupaten Blitar.
“Di halaman Candi Penataran ada prasasti yang menceritakan tentang Raja Kertajaya,” sahut Novi lagi.
Tak hanya Prasasti Palah di Candi Penataran, menurut Novi juga ada Prasasti Kamulan yang menceritakan tentang peperangan. Bagi Novi, era pemerintahan Raja Kertajaya ini merupakan ironi.
Sebab, selain Kerajaan Kediri kembali meraih kejayaannya, di masa pemerintahannya pula Kerajaan Panjalu ini berakhir. Yakni, setelah menelan kekalahan akibat diserang pasukan Tumapel pimpinan Ken Arok.
Pria yang merupakan Penasihat Komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri (Pasak) itu menegaskan, peperangan demi peperangan yang mewarnai pergantian raja-raja di Kerajaan Panjalu tidak terlepas dari perpecahan internal yang terjadi di sana.
“Semua kerajaan (runtuh) kebanyakan karena konflik internal, perebutan tahta, peredaman oposisi yang kurang baik, hingga karena dendam dari keluarga yang dulu pernah dikalahkan,” paparnya sembari mencontohkan konflik perebutan tahta di Keraton Solo yang masih ramai hingga sekarang.
Belajar dari berbagai periode kepemimpinan raja-raja di Kerajaan Panjalu, mereka berhasil menyatukan kembali Kerajaan Panjalu dan Jenggala karena berhasil menyatukan rakyat dan menciptakan suasana yang kondusif di jajaran pemerintahannya.
Baca Juga: Permak Wajah Museum Sri Aji Joyoboyo, Pemkab Gelontor Rp 6 Miliar untuk Membangun Fasad
Sebaliknya, perpecahan dan peperangan menjadi penyebab runtuhnya kerajaan. Generasi muda Kediri, menurut Novi bisa banyak belajar dari sejarah Kediri untuk kembali meraih kejayaan.
“Dengan tagline Kediri Berbudaya, semua aspek dan ruh kebudayaan harus dilestarikan dan dikembangkan untuk bersama-sama dan selaras meraih kembali kejayaan,” tandasnya. (Asad M.S/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita