KEDIRI, JP Radar Kediri - Warga Desa Kapas, memiliki tradisi yang rutin digelar setiap tahun. Warga setempat biasa menyebutnya nyadran. Acara yang dilaksanakan setiap bulan Suro ini menjadi momen penting bagi warga desa. Salah satunya untuk menghormati leluhur.
Tradisi ini selalu diadakan di Punden Mbah Mertojoyo dan Mbah Karto Pawiro. Kedua sosok tersebut dipercaya sebagai leluhur yang memiliki andil besar. Mbah Mertojoyo diyakini sebagai sosok yang pertama kali melakukan babat alas atau membuka lahan di Desa Kapas. Sementara Mbah Karto Pawiro merupakan kepala desa pertama di sana.
“Tujuannya ya untuk kirim doa ke leluhur dan nguri-nguri (melestarikan, red) budaya. Kita merasa berterima kasih terhadap leluhur kita, tanpa mereka kita bukan apa-apa,” ungkap Saman, 53, Juru Kunci Punden setempat.
Rangkaian acara nyadran meliputi pembersihan makam, ziarah, hingga kenduri. Acara ini selalu diikuti seluruh warga. Mereka datang membawa makanan masing-masing. Di bawah pohon Trembesi raksasa yang sudah ada sejak zaman dulu, warga duduk bersama. Tak lain untuk memanjatkan doa.
Tradisi tersebut juga dilakukan bersamaan dengan acara Bersih Desa. Warga berkumpul untuk bersedekah dan makan bersama sebagai wujud rasa syukur. Saman menegaskan tidak ada perlakuan khusus atau ritual mistis dalam merawat punden tersebut. “Perawatannya ya hanya bersih-bersih rutin saja,” tegasnya.
Melalui tradisi nyadran ini, Saman berharap semangat gotong royong dan penghormatan kepada leluhur dan budaya desa tetap terjaga. Apalagi di tengah gempuran teknologi dan kemajuan zaman.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian