JP Radar Kediri - Desa Sukorejo terus berupaya menjaga kearifan lokal melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Dua agenda utama yang rutin digelar adalah kirab budaya tahunan dan tradisi tolak pagebluk pertanian. Hal ini sejalan dengan slogan desa.
Kirab budaya ini telah resmi masuk dalam agenda tahunan Kabupaten Kediri. Prosesi kirab dimulai dari balai desa menuju Situs Calon Arang. Jaraknya sekitar dua kilometer.
Acara rutin dilaksanakan setiap tanggal 10 Sura atau menyesuaikan dengan hari libur sekolah. Tujuannya agar anak-anak desa dapat ikut berpartisipasi.
“Ya tujuannya nguri-nguri budaya. Kalau bukan warga sendiri, ya siapa lagi (yang melestarikan),” ungkap Kepala Desa Sukorejo Supandi.
Berdasarkan sejarah lisan, Calon Arang dikisahkan sebagai seorang janda sakti yang pernah singgah di Desa Sukorejo.
Hal itu dibuktikan dengan penemuan arca dan pusaka di lokasi tersebut beberapa tahun silam. Kegiatan kirab ini masif dilakukan dalam lima tahun terakhir.
Peserta kirab didominasi oleh pemuda-pemudi desa yang mengenakan atribut pakaian Jawa lengkap. Sekitar 150 peserta berjalan kaki menempuh rute dua kilometer.
Dalam barisan tersebut terdapat pembawa pusaka, sembilan gadis pembawa jamu gendong, empat gunungan hasil bumi, serta satu gunungan putri berisi tumpeng.
“Jamu gendong itu simbol bahwa Calon Arang dulunya adalah seorang tabib. Sementara pusaka yang dikirab nantinya akan disimpan kembali di lokasi situs,” jelasnya.
Sesampainya di situs, prosesi dilanjutkan dengan pemasangan dupa, doa bersama, hingga pembagian tumpeng putri.
Sebelumnya, empat gunungan hasil bumi menjadi rebutan para peserta kirab dan penonton. Sayuran dan buah-buahan dari gunungan tersebut dipercaya masyarakat dapat membawa berkah.
Kini, pengunjung Situs Calon Arang tidak hanya berasal dari Kediri. Tetapi juga wisatawan nasional hingga mancanegara.
Selain kirab budaya, pemdes juga melestarikan tradisi tolak bala untuk menjaga sektor pertanian. Prosesinya dengan menyembelih kambing kendit setiap malam 1 Suro.
Daging kambing dibagikan kepada warga sekitar. Sedangkan bagian kepala dan kaki ditanam di persimpangan serta sudut-sudut jalan desa.
“Tradisi ini dipercaya sebagai tolak bala agar hasil panen warga bagus dan terhindar dari hama,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita