JP RADAR KEDIRI Ritual Barong Wae merupakan salah satu tradisi adat yang sakral dan bermakna mendalam dalam kehidupan masyarakat Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ritual ini tidak sekadar menjadi peristiwa seremonial, melainkan cerminan kearifan lokal yang memadukan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis. Melalui Barong Wae, masyarakat Manggarai menekankan penghormatan mereka terhadap udara sebagai sumber utama kehidupan serta menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.
Makna dan Tujuan Ritual Barong Wae
Secara etimologis, kata “barong” berarti mengundang, sedangkan “wae” berarti udara. Dengan demikian, Barong Wae dapat dimaknai sebagai ritual untuk “mengundang” atau menghadirkan udara sebagai sumber kehidupan. Udara bukan sekedar kebutuhan fisik untuk minum, memasak, atau mencuci, tetapi juga sebagai unsur sakral yang memiliki kekuatan membersihkan secara spiritual dan menopang keberlangsungan hidup manusia.
Ritual ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada roh penjaga mata air yang dikenal sebagai Mori Dewa Wae, serta kepada Mori Kraeng, Tuhan sebagai pencipta dan penguasa alam semesta. Selain itu, Barong Wae bertujuan untuk memohon kehausan terhadap sumber air agar tidak surut, sekaligus menjadi pengingat kolektif akan kewajiban menjaga kelestarian alam dari eksploitasi yang berlebihan.
Baca Juga: Mitos Hewan di Malam 1 Sura, Pertanda Alam dari Dunia Leluhur
Dalam tradisi Manggarai, keberadaan mata air bahkan menjadi syarat utama berdirinya sebuah kampung adat “Beo”. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya udara dalam sistem nilai dan struktur kehidupan masyarakat Manggarai.
Kaitan Barong Wae dengan Upacara Adat Lain
Ritual Barong Wae tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian penting dari rangkaian upacara adat Manggarai. Salah satunya adalah upacara Penti , yakni upacara syukuran atas hasil panen dan pergantian tahun baru adat. Dalam konteks ini, Barong Wae menjadi simbol rasa terima kasih atas menyampaikan udara yang memungkinkan kehidupan pertanian berjalan dengan baik.
Selain itu, Barong Wae juga dilakukan dalam upacara Congko Lokap, yaitu syukuran atas pembangunan rumah adat “Mbaru Gendang” yang baru. Kehadiran ritual ini menegaskan bahwa kehidupan sosial, spiritual, dan ekologis masyarakat Manggarai saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Tahapan dan Tata Cara Pelaksanaan Ritual
Pertunjukan Barong Wae dipimpin oleh seorang pemimpin ritual adat yang disebut Tongka . Ritual ini berlangsung melalui beberapa tahapan yang sarat makna simbolik, antara lain:
Baca Juga: Sucikan Alam, Umat Hindu Kota Kediri Gelar Mecaru
Teing Cepa dan Kepok Ruha
Tahap awal berupa penyiapan dan persembahan sirih, pinang, serta telur sebagai simbol penghormatan dan pembuka komunikasi dengan roh penjaga mata air.
Cau Manuk
Tongka memegang ayam jantan “manuk lalong” yang akan dijadikan hewan kurban. Ayam melambangkan kehidupan dan pengorbanan sebagai bentuk kesungguhan permohonan.
Torok
Pembacaan doa- doa adat yang berisi ungkapan terima kasih, permohonan berkat, serta harapan akan keseimbangan dan keharmonisan hidup.
Teing Hang
Pemberian sesajen berupa nasi, daging, dan tuak kepada roh penjaga mata air, yang diletakkan di atas batu datar di sekitar sumber udara.
Pakai Nger Satu Gendang
Tahap penutup berupa perjalanan kembali dari mata air rumah adat “Mbaru menuju Gendang”, yang menandai puncak sekaligus ritual penyempurnaan.
Baca Juga: Tari Dolalak Diselingi Ritual untuk Sembuhkan Penyakit dan Temukan Orang Hilang
Makna Filosofis dan Sosial
Secara filosofis, Barong Wae menempatkan udara sebagai simbol kehidupan, kesuburan, dan kesejahteraan. Ritual ini mencerminkan pandangan kosmologis masyarakat Manggarai tentang pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam semesta, leluhur, dan Sang Pencipta.
Dari sisi sosial, Barong Wae memiliki fungsi mempererat ikatan kebersamaan dalam komunitas. Ritual ini menegaskan prinsip kesetaraan, di mana setiap anggota masyarakat memiliki hak yang sama atas udara sebagai sumber kehidupan. Selain itu, Barong Wae juga menjadi sarana pendidikan nilai, mentransmisikan kearifan lokal dan ajaran spiritual kepada generasi muda.
Barong Wae sebagai Kearifan Lokal Ekologis
Di tengah tantangan modern seperti eksploitasi sumber daya alam dan krisis lingkungan, ritual Barong Wae dapat dipandang sebagai bentuk kritik budaya yang halus namun tegas. Melalui ritual ini, masyarakat Manggarai menegaskan komitmen untuk menjaga kelestarian mata air dan keseimbangan ekosistem. Unsur-unsur budaya seperti musik, nyanyian, dan doa adat memperkaya nilai estetika ritual sekaligus memperkuat pesan ekologis yang dikandungnya.
Ritual Barong Wae merupakan perwujudan kearifan lokal masyarakat Manggarai dalam menjaga hubungan spiritual dan ekologis dengan sumber air. Lebih dari sekedar tradisi adat, Barong Wae merupakan sistem nilai hidup yang menekankan harmoni, penghormatan terhadap alam, dan tanggung jawab kolektif terhadap keinginan kehidupan. Ritual ini menjadi bukti bahwa budaya lokal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam dan memperkuat identitas komunitas di tengah perubahan zaman.
Baca Juga: Jejak Ramadhan di Nusantara, Ritual Balimau Menyucikan Diri dari Tanah Minang
Penulis adalah Emerensiana Jufianti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian