JP Radar Kediri-Wuat Wa'i merupakan salah satu tradisi adat yang sangat penting dalam budaya Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini merupakan simbol dukungan kolektif masyarakat terhadap generasi muda yang ingin merantau, khususnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di tengah dinamika zaman, Wuat Wa'i bukan sekadar ritual adat, melainkan landasan sosial dan spiritual yang membentuk karakter, ketekunan dan kesuksesan generasi Manggarai di negeri rantau.
Arti dan Asal Usul Wuat Wa'i
Secara etimologis, istilah “wuat” diterjemahkan menjadi “mengirimkan” atau “mendukung”, dan “wa'i” berarti “kaki” atau “melangkah” . Jadi, “Wuat Wa'i” secara harafiah berarti “pengiriman kaki” atau “bekal perjalanan.
Arti dan Tujuan Penerapan
Tradisi Wuat Wa'i mengandung tiga tujuan utama:
- Mohon restu dan perlindungan
Melalui doa dan ritual adat, keluarga berharap agar perjalanan sang anak diberkahi, dijauhkan dari marabahaya, dan dimudahkan dalam perjalanan cita-cita. Doa ini dipersenbahkan kepada Tuhan dan leluhur sebagai bentuk penghormatan dan permohonan penyertaan.
- Menguatkan Solidaritas Masyarakat
Wuat Wa'i merupakan wujud gotong royong masyarakat Manggarai. Warga desa, baik kerabat dekat maupun jauh, berkumpul untuk memberikan dukungan secara sukarela, baik berupa uang, pangan, maupun dukungan moral. Dukungan kolektif ini merupakan salah satu "rahasia sukses" para perantau Manggarai di berbagai daerah.
- menyediakan bekal perjalanan
Tradisi ini juga momentum bagi keluarga untuk mempersiapkan secara nyata kebutuhan sang anak di tanah rantau. Bekal dana Pendidikan, biaya hidup awal, serta nasihat dan pesan moral menjadi modal penting untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri sang perantau.
Proses dan Pelaksanaan Ritual Wuat Wa'i.
Pelaksanaan Wuat Wa'i biasanya melibatkan beberapa komponen adat:.
- Teing Hang Ihe Empo (Memberi Makan kepada Leluhur)
Tradisi ini ibarat penghormatan kepada nenek moyang kita, untuk menghormati dan meminta perwalian. Seringkali kita menggunakan ayam putih (manuk bakok) untuk tujuan ini. Warna putih melambangkan kebersihan, kejujuran, dan harapan baik.
Baca Juga: Peringati Hardiknas, Siswa di Kota Kediri Pakai Baju Adat
Ungkapan filosofis yang lazim muncul adalah:
“Lalong bakok du lakom, lalong rombeng du kolem.”.
Pergilah dengan hati yang putih (suci), pulanglah dengan hati yang penuh warna (kesuksesan).
- Doa dan Nasehat dari Tetua Adat
Seorang tetua adat akan memimpin doa dalam bentuk Tura Manuk dan menyampaikan segala harapan kepada Tuhan dan para leluhur, berharap sang anak dapat berkembang dan menemukan keberhasilan dalam perantauan.
- Kehadiran Keluarga Besar
Baik dari pihak ayah maupun ibu, seluruh keluarga besar berkumpul bersama tokoh adat. Kehadiran mereka menjadi simbol persatuan dan tanggung jawab bersama atas masa depan anak tersebut.
Perkembangan Tradisi di Era Modern.
Seiring berjalannya waktu, Wuat Wa'i seringkali dikemas dalam bentuk yang lebih modern, misalnya:
- Pesta sekolah, yaitu acara syukuran sekaligus penggalangan dana untuk biaya pendidikan.
- Mengumpulkan sumbangan sukarela dari warga sekampung.
- Acara kumpul keluarga sebelum keberanfkatan.
Baca Juga: Jejak Ramadhan di Tanah Jawa. Nyekar, Sarana Penghormatan Leluhur
Meski bentuknya seiring berubahnya zaman, namun nilai-nilai inti tetap dipegang teguh
Nilai-Nilai yang Tertanam dalam Wuat Wa'i
Tradisi ini tidak sekedar memberikan materi kepada anak, namun juga mengajarkan nilai-nilai yang luhur:
- Religiusitas
Mengandalkan pertolonga Tuhan dan restu leluhur sebagai kekuatan spiritual dalam menapaki perjalanan hidup.
- Bekerja keras
Anak-anak yang menjalani Wuat Wa'i diberikan semangat yang kuat untuk berjuang mengharumkan nama keluarga dan kampung halamannya.
- Solidaritas Sosial
Wuat Wa'i memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong masyarakat Manggarai. Semua orang merasa terlibat demi masa depan generasi muda.
- Cinta dan Tanggung Jawab
Dukunga keluarga baik berupa doa, materi, maupun arahan, menjadi bukti nyata kasih sayang dan harapan masa depan anak.
Bagi banyak orang Manggarai, Wuat Wa`I bukan sekedar upacara adat, melainkan “modal awal” untuk sukses dirantau. Dukungan moral dan material dari kelurga serta komunitas menciptakan motivasi yang kuat untuk berprestasi. Anak yang diutus merasa membawa harapan dan doa dari kampung, sehingga ia berusaha keras untuk tidak mengecewakan orang-orang yang mendukungnya.
Inilah yang membuat Wuat Wa`I sering disebut sebagai rahasia kesuksesan generasi muda Manggarai: kekuatan spiritual, solidaritas, dan kerja kera yang terbangun sejak sebelum Langkah kaki meninggalkan kampung halaman.
Baca Juga: Kekuatan Mistis Roh Leluhur pada Bambu Gila di Maluku
Emerensiana Jufianti Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian