JP Radar Kediri - Raja Keraton Surakarta, Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, wafat pada usia 77 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Indriati, Solobaru, Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Minggu (2/11).
Peristiwa ini menandai berakhirnya satu era kepemimpinan Keraton Solo yang berdiri sejak abad ke-18 silam. Putra Sulung PB XII ini menjadi figure penting sebagai suksesor perjalanan nyawa kerajaan Surakarta Hadiningrat di tengah perubahan zaman. Berikut daftar nama Raja Keraton Surakarta dari masa ke masa.
Paku Buwono II (1745-1749)
Paku Buwono II dikenal sebagai raja pertama Kasunanan Surakarta sekaligus raja terakhir dari Kerajaan Mataram Kartasura. Ia lahir dengan nama Raden Mas Prabasuyasa, putra dari Amangkurat IV. Pada masa pemerintahannya terjadi peristiwa besar bernama Geger Pecinan, yang akhirnya membuat pusat kerajaan dipindahkan dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745. Paku Buwono II wafat pada 1749 dan takhtanya kemudian diwariskan kepada putranya.
Paku Buwono III (1749-1788)
Raden Mas Suryadi naik takhta pada 15 Desember 1749. Ia adalah raja Jawa pertama yang secara resmi dilantik oleh pihak Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) melalui wakil mereka.
Pada masa pemerintahannya lahir Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Ia memerintah selama hampir empat dekade hingga wafat pada 1788.
Paku Buwono IV (1788-1820)
Sri Susuhunan Pakubuwono IV lahir pada 2 September 1768 dengan nama Raden Mas Subadya, putra dari Pakubuwono III dan Gusti Kanjeng Ratu Kencana, yang merupakan keturunan Sultan Demak. Ia naik takhta pada usia 20 tahun untuk menggantikan ayahnya dan memerintah lebih dari tiga puluh tahun.
Paku Buwono V(1820-1823)
Sri Susuhunan Pakubuwono V lahir dengan nama Raden Mas Sugandi, putra Pakubuwono IV dan permaisuri KRAy Handoyo, yang merupakan putri Adipati Cakraningrat dari Madura. Ia naik takhta untuk menggantikan ayahnya.
Masa pemerintahannya terbilang singkat, hanya sekitar tiga tahun sebelum wafat. Meski demikian, Pakubuwono V dikenal mendukung pelestarian budaya Jawa dan kesenian. Salah satu warisan penting dari pemerintahannya adalah lahirnya karya sastra Jawa besar, Serat Centhini.
Paku Buwono VI (1823-1830)
Sri Susuhunan Pakubuwono VI lahir dengan nama Raden Mas Sapardan dan naik tahta sebagai Susuhunan Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada usia 16 tahun, menggantikan ayahnya, Pakubuwono V.
Pemerintahannya berlangsung di tengah tekanan kuat dari kekuasaan kolonial Belanda, yang kerap campur tangan dalam urusan istana dan wilayah kerajaan. Pakubuwono VI dikenal dengan julukan "Sinuhun Bangun Tapa" karena kegemarannya melakukan tapa brata, mencerminkan sisi spiritual dan tradisional seorang raja Jawa.
Paku Buwono VII (1830-1858)
Sri Susuhunan Pakubuwono VII lahir dengan nama Raden Mas Malikis Solikin, putra Pakubuwono IV. Ia naik takhta menggantikan keponakannya, Pakubuwono VI, yang diasingkan oleh pihak kolonial Belanda.
Masa pemerintahannya tergolong relatif tenang bagi Keraton Surakarta, setelah rangkaian konflik besar di Jawa, termasuk Perang Diponegoro (1825-1830). Fokus pemerintahannya lebih diarahkan pada pengembangan budaya dan kesejahteraan rakyat. Pada periode ini, Kasunanan Surakarta mencapai puncak kejayaan sastra, ditandai lahirnya tokoh dan pujangga besar seperti Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito.
Paku Buwono VIII (1858-1861)
Sri Susuhunan Pakubuwono VIII dengan nama Raden Mas Kuseni. Ia naik takhta pada menggantikan saudara tirinya, Pakubuwono VII, yang tidak memiliki putra mahkota. Karena usianya sudah mencapai 69 tahun saat dinobatkan, masa pemerintahannya berlangsung singkat dan relatif tenang dibanding pendahulunya.
Sepanjang pemerintahannya, Pakubuwono VIII dikenal sebagai salah satu susuhunan yang memiliki gaya hidup sederhana dan kebijakan yang lebih terbuka. Misalnya, ia tercatat sebagai raja keturunan Mataram pertama yang hanya memiliki satu istri, berbeda dengan tradisi poligami yang umum pada keraton waktu itu. Meskipun tidak banyak lonjakan kebijakan besar yang tercatat, ia dianggap berhasil menjaga stabilitas internal keraton selama masa takhtanya hingga wafat.
Paku Buwono IX (1861-1893)
Sri Susuhunan Pakubuwono IX lahir dengan nama Raden Mas Suryo Duksina, putra dari Pakubuwono VI. Masa pemerintahannya dikenal sebagai periode stabilisasi dan renovasi besar di Keraton Surakarta, setelah melalui masa-masa konflik yang berat sebelumnya.
Dalam pemerintahan Pakubuwono IX, ia memperoleh julukan “Sinuhun Bangun Kedhaton” karena upayanya memperbaharui fisik kedaton dan bangunan istana di Surakarta.
Paku Buwono X (1893-1939)
Sri Susuhunan PakubuwonoX di Surakarta dengan nama kecil Raden Mas Sayyiddin Malikul Kusno, putra dari Pakubuwono IX. Ia secara resmi mulai memerintah keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 30 Maret 1893 setelah pengangkatan langsung menggantikan ayahandanya. Masa pemerintahannya mencapai 46 tahun.
Di bawah kepemimpinan Pakubuwono X aktif mendorong pendidikan, dakwah Islam, serta mendukung aktivitas organisasi pergerakan nasional, termasuk memberikan fasilitas untuk Sarekat Islam dan Budi Utomo.
Secara infrastruktur, ia membangun banyak fasilitas publik seperti Pasar Gede, Jembatan Jurug di atas Bengawan Solo, dan sarana listrik modern yang menjadikan Surakarta kota pionir listrik di Jawa.
Paku Buwono XI (1939-1945)
Sri Susuhunan Pakubuwono XI lahir pada 1 Februari 1886 di Surakarta dengan nama Raden Mas Ontoseno. Ia naik takhta sebagai penguasa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 26 April 1939, menggantikan ayahnya, Pakubuwono X.
Masa pemerintahannya bertepatan dengan krisis global dan perubahan besar di Nusantara, termasuk jatuhnya kekuasaan Jepang dan transisi kolonial.
Selama memerintah, Pakubuwono XI menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari tekanan administratif Belanda hingga pendudukan Jepang yang menguasai Jawa sejak 1942 dan menerapkan kebijakan yang melemahkan ekonomi keraton.
Akibatnya, keuangan keraton sangat terbebani, dan status kerajaan mengalami penurunan. Pakubuwono XI wafat pada 1 Juni 1945, beberapa bulan sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Paku Buwono XII (1945-2004)
Sri Susuhunan Pakubuwono XII lahir pada 14 April 1925 di Surakarta dengan nama asli Raden Mas Suryo Guritno. Ia naik takhta sebagai Susuhunan Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 11 Juni 1945, hanya dua bulan sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Masa pemerintahannya berlangsung selama 59 tahun. Menjadikannya raja dengan masa takhta terpanjang dalam sejarah Surakarta.
Paku Buwono XIII (2004-2005)
ri Susuhunan Pakubuwono XIII lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948 dengan nama kecil Gusti Raden Mas Suryo Partono (KGPH Hangabehi). Ia resmi menjadi Susuhunan ke-13 Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 10 September 2004, menggantikan ayahnya, Pakubuwono XII, yang wafat.
Selama memimpin, Pakubuwono XIII dikenal aktif melestarikan adat dan tradisi keraton, termasuk prosesi jumenengan, grebeg, labuhan, serta pemeliharaan naskah dan seni klasik Jawa. Namun, kepemimpinannya juga diwarnai tantangan internal, terutama dualisme suksesi setelah wafatnya Pakubuwono XII, antara dirinya dan adiknya, KGPH Tejowulan.
Pakubuwono XIII meninggal pada Minggu pagi, 2 November 2025, pada usia 77 tahun setelah menjalani perawatan intensif. Jenazah beliau dijadwalkan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri.
Editor : Shinta Nurma Ababil