JP Radar Kediri- Masyarakat Manggarai Nusa Tenggara Timur memiliki tradisi istimewa saat menyambut kelahiran seorang anak. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Sea Rengka, sebuah upacara adat pemberian nama yang sarat akan makna spiritual dan sosial.
Apa Itu Sea Rengka?
Sea Rengaka merupakan upacara pemberian nama bagi bayi yang baru lahir dalam budaya Manggarai. Secara harfiah, kata “sea” berarti Tarik atau ambil, sedangkan “rengka” berarti ranting. Jadi, Sea Rengka dapat diartikan sebagai ritual mengambil ranting, yang menandakan berakhirnya masa pantang bagi ibu dan bayi.
Menurut cerita orang tua zaman dahulu, upacara ini biasanya dilaksanakan Ketika bayi telah berusia satu minggu. Tradisi ini bukan sekadar pemberian nama, tetapi juga menjadi tanda penerimaan resmi sang bayi dalam komunitas keluarga dan masyarakat.
Simbolis Sea Rengka di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, banyak ibu yang melahirkan di rumag sakit. Namun, masyarakat manggarai tetap mempertahankan aturan adat terkait Sea Rengka. Setelah pulang dari rumah sakit, bayi tidak boleh langsung dibawa berkunjung ke rumah kerabat. Bayi harus tetap berada di rumahnya sendiri sampai upacara Sea Rengka dilaksanakan.
Kepercayaan masyarakat setempat menyebutkan bahwa jika bayi dibawa keluar sebelum Sea Rengka dilakukan, maka bayi tersebut bisa jatuh sakit. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya nilai-nilai tradisi yang masih dipegang teguh hingga kini.
Prosesi Upacara Sea Rengka
Dalam pelaksanaan ritual Sea Rengka, keluarga menggunakan seekor ayam berbulu putih yang disebut manuk bakok sebagai bahan uatama upacara. Ayam ini memiliki nilai simbolis tersendiri dalam tradisi masyarakat Manggarai.
Namun, tidak semua keluarga dapat langsung melaksanakan Sea Rengka karena berbagai alasan, misalnya belum mendapatkan bahan yang diperlukan. Untuk kondisi seperti ini, ada ritual alternatif yang disebut Baro Tuak Laing.
Baca Juga: Tradisi Mora Wae Rebo di NTT: Cara Warga Mangarai Mengormati Leluhur lewat Upacara Adat
Ritual Baro Tuak Laing sebagai Alternatif Sementara
Baro Tuak Laing adalah ritual sederhana yang dilakukan sebagai solusi sementara sebelum pelaksanaan Sea Rengka. Ritual ini dilakukan di bawah kolong rumah, tepat di tempat ranting pohon sebelumnya disimpan.
Dalam Baro Tuak Laing, keluarga hanya menggunakan satu butir telur ayam kampung sebagai simbol. Tujuan dari ritual ini adalah agar rengka tidak terus menerus di simpan di bawah rumah, sekaligus sebagai bentuk izin simbolis agar bayi tetap sehat meskipun Sea Rengka belum dilakukan.
Saat melakukan Baro Tuak Laing, masyarakat biasanya mengucapkan kalimat adat yang berbunyi “Ho de tuak laing lami ge kudut aa adat norit de ngahang rengka, porong neka ya sumang dungka neka pala ranga, ho tuak laing kuta dak norit rengka hitu gah.”
Setelah upacara ini dilafalkan, ranting akan diambil. Kemudian, upacara Sea Rengka atau pemberian nama bayi dapat dilakukan satu hingga dua bulan kemudian, tergantung kesiapan keluarga.
Makna Mendalam di Balik Tradisi Sea Rengka
Tradisi Sea Rengka merupakan ceminan kearifan lokal masyarakat manggarai yang kaya akan simbol dan makna. Upacara ini menunjukkan rasa hormat yang penting. Selain sebagai pemberian nama, upacara ini juga menjadi momen penerimaan resmi sang bayi dalam lingkunga keluarga dan masyarakat. Dalam setiap ranting yang diambil, tersimpan harapan dan doa agar anak yang baru lahir tumbuh sehat, kuat, dan selalu mendapat berkah.
Di tengah arus modernisasi, tradisi Sea Rengka tetap dipertahankan oleh masyarakat Manggarai sebagai wujud pelestarian budaya leluhur. Keberadaan ritual alternatif seperti Baro Tuak laing juga menunjukkan fleksibilitas tradisi dalam menyesuaikan diri dengan kondisi zaman, tanpa menghilangkan esensi dan makna yang terkandung di dalamnya.
Tradisi Sea Rengka bukan hanya warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga menjadi bukti bahwa masyarakat Manggarai memiliki cara tersendiri dalam merayakan dan menghormati kehidupan baru yang hadir di tengah-tengah mereka.
Artikel ini ditulis oleh Emerensiana Jufianti Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian