Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Tradisi Wagal di NTT: Ritual Sakral Pengukuhan Perempuan dalam Budaya Manggarai

rekian • Rabu, 5 November 2025 | 12:26 WIB

Perjalanan menuju kehidupan baru. Keluarga besar turut melepas dan mendoakan sang pengantin dalam prosesi podo tradisi Wagal.
Perjalanan menuju kehidupan baru. Keluarga besar turut melepas dan mendoakan sang pengantin dalam prosesi podo tradisi Wagal.

JP RADAR KEDIRI- Masyarakat Manggarai di Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki satu tradisi istimewa yang bernama Wagal. Tradisi ini tidak hanya sekadar rangkaian upacara adat biasa, melainkan momen sakral yang menandai perjalanan hidup seorang perempuan setelah menikah. Melalui wagal, seorag istri secara resmi diakui sebagai bagian dari keluarga suaminya dan menjadi warga sah di kampung tempat tinggal baru mereka.

Tradisi Wagal telah ada sejak lama. Tidak ada catatan resmi kapan tradisi itu mulai berlaku. Namun dipercaya sudah ada sejak para leluhur menetap di sana. Hingga kini, tradisi ini masih terus dilestarikan. 

Upacara ini juga dikenal dengan sebutan “sikat kina wagal kaba”“kina” artinya babi, sedangkan “kaba” berarti kerbau. Penamaan ini merujuk pada kedua hewan yang menjadi unsur utama dalam pelaksanaan ritual. Babi digunakan dalam upacara adat yang disebut Tura, sementara kerbau disembelih sebagai hidangan untuk jamuan makan bersama.

Meskipun babi sudah dipakai untuk ritual Tura, hewan tersebut tetap disembelih dan disantap setelah upacara selesai. Kedua hewan ini dibawa oleh pihak keluarga laki-laki (woe) sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan terhadapa keluarga perempuan.

Baca Juga: Lestarikan Tradisi dan Budaya, Pemdes Janti Kediri Rangkul Generasi Muda melalui Jaranan Turonggo Seto

Tujuan utama dari tradisi Wagal adalah memohon berkat, kesehatan, serta keharmonisan bagi pasangan yang baru menikah. Masyarakat Manggarai meyakini bahwa jika tradisi ini tidak dilaksanakan, akan muncul konsekuensi yang disebut itang. Kondisi itang ini dipercaya dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit, dan penyakit itu tidak akan sembuh sampai upacara Wagal ini benar-benar dilakukan.

Tahapan Pelaksanaan Proses Wagal terdiri dari beberapa tahapan penting yang harus dijalani. Tahap pertama adalah reke atau bantang, yaitu pertemuan awal antara kedua keluarga untuk membicarakan rencana pelaksanaan. Mulai dari jumlah babi yang akan disiapkan, hingga besaran uang belis atau mahar, semuanya dibahas dalam tahap ini.

Setelah kesepakatan tercapai, dilanjutkan dengan tahap riket wie rekot leho, yakni penentuan tanggal pelaksanaan upacara. Perlu diketahui bahwa tradisi Wagal bisa dilakukan sebelum atau setelah pernikahan, tergantung kesiapan pihak keluarga laki-laki.

Baca Juga: Pentas Seni Budaya dan Bazar Meriahkan Peringatan HUT Ke-80 RI di Desa Papar Kediri

Ketika hari pelaksanaan tiba, kelurga laki-laki akan datang ke rumah keluarga perempuan untuk melakukan baro sai one ine ame. Istilah ini berarti “memberi tahu kepada keluarga perempuan bawhwa mereka telah tiba”. Pada tahap ini, keluarga laki-laki memberikan uang sebesar seratus ribu rupiah sebagai tanda penghormatan. Setelah itu, uang belis atau mahar bisa langsung diserahkan.

Tahap berikutnya adalah tekal ta`a, yaitu pemberian uang tambahan yang diminta saat keluraga laki-laki sudah berada di rumah keluarga perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan tahap karong, dimana perempuan secara resmi  dinyatakan sah menjadi bagian dari keluarga laki-laki. Biasanya, uang karong berkisar antara satu juta lima ratus ribu rupiah, tergantung kesepakatan dan kemampuan dari pihak keluarga laki-laki.

Setelah karong selesai, dilanjutkan dengan tala wida. Dalam ritual ini, orang tuaa perempuan memberikan sarung khas Manggarai lipa songke atau lipa curak kepada anak perempuan mereka. Aad tujuh lipa wida yang diberikan, dan masing-masing memiliki makna simbolis yang mendalam:

Baca Juga: Tari Dolalak Diselingi Ritual untuk Sembuhkan Penyakit dan Temukan Orang Hilang

Setelah pemberian tala wida, dilakukan ritual Tura menggunakan seekor babi berwarna hitam. Warna hitam dipilih karena dianggap suci dan menjadi simbol ketulusan doa kepada Tuhan dan para leluhur. Setelah ritual dan makan bersama selesai, perempuan siap diantarkan ke kampung suaminya dalam prosesi yang disebut podo atau padong.

Dalam perjalanan podo ini, keluarga perempuan kembali memberikan tiga wida tambahan:

Setibanya di kampung suami, dilakukan ritual dara wa`i, yaitu meneteskan darah ayam di kaki pasangan. Ritual ini bertujuan untuk menandakan bahwa perempuan tersebut sudah sah menjadi warga kampung suaminya. Ayam yang digunakan disebut manuk bakok, yaitu ayam berbulu putih yang melambangkan kesucian dan awal kehidupan yang baru.

Sebagai penutupan rangkaian upacara, keluarga laki-laki memberikan uang padong kepada keluarga perempuan. Jumlahnya bisa mencapai lima juta rupiah, tergantung kesepakatan dan kemampuan dari keluarga laki-laki (bisa dinego).

Dalam keseluruhan proses Wagal, ada sosok penting yang disebut tongka. Ia adalah utusan atau juru bicara yang bertugas mengatur jalannya komunikasi antara kedua keluarga, termasuk soal uang karong dan hal-hal adat lainnya. Keberadaan tongka sangat krusial untuk memastikan semua tahapan berjalan lancar dan sesuai dengan adat yang berlaku.

Tradisi Wagal bukan hanya sekadar upacara adat untuk mengesahkan pernikahan secara budaya. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi wujud penghirmatan terhadap leluhur, memperkuat ikatan sosial antara dua keluarga besar, serta melestarikan nilai-nilai kekeluargaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Manggarai tetap menjaga dan melestarikan tradisi ini sebagai bagian penting dari identitas budaya setempat.

Artikel ditulis oleh Emerensiana Jufianti, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#ritual sakral #keharmonisan #flores ntt #manggarai #wae rebo #adat dan budaya #tradisi