JP Radar Kediri- Di tengah pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Adat Wae Rebo, terdapat sebuah tradisi unik yang di sebut Mora. Secara harfiah Mora berarti kehilangan. Namun bagi masyarakat setempat, Mora bukan sekadar mengenang kehilangan. Tapi juga bentuk penghormatan kepada leluhur. Upacara ini juga di kenal sebagai nama Takung Wolo Sebong, memiliki makna dan aturan adat yang sakral.
Tradisi Mora merupakan bagian dari upacara adat Teing Hang, yang secara harfiah berarti “memberi makan kepada kakek-nenek yang telah meninggal”. Ritual ini dilakukan sebagai tanda bakti dan pengingat hubungan antara keluarga yang masih hidup dengan leluhur yang telah tiada.
Disebut Takung Wolo Sebong karena upacara ini dilakukan untuk pasangan suami-istri sekaligus, bukan hanya salah satu di antaranya. Dalam kepercayaan adat Manggarai, tidak ada sejarah yang menyebutkan bahwa ritual ini dilakukan untuk salah satu pihak saja. Keduanya harus dihormati bersamaan sebagai bentuk keseimbangan dan kesatuan dalam kehidupan rumah tangga.
Saat pelaksanaan Mora, pihak kelurga menyiapkan berbagai bahan dan hewan persembahan. Perlengkapan tersebut antara lain manuk bakok (ayam berbulu putih), manuk rae, lalong rasi, lalong sepang, seekor babi kecil, dan seekor kambing yang disebut “kambing rusa.”
Istilah kambing rusa bukan berarti hewan persilangan, melainkan jenis kambing yang memiliki bulu menyerupai bulu rusa, sehingga dinamakan demikian. Semua bahan tersebut menjadi simbol pemberian terbaik bagi leluhur yang dihormati.
Menariknya, dalam upacara Mora, ana kwai (anak perempuan yang sudah menikah) juga memiliki peran penting. Mereka diwajibkan ikut serta dan menyumbangkan dana atau bantuan sebagai bentuk tanggung jawab dan bakti terhadap keluarga besar. Hal ini memperlihatkan kuatnya nilai kekeluargaan dan gotong royong dalam masyarakat adat Wae Rebo.
Tidak ada waktu khusus untuk melaksanakan Mora. Masyarakat dapat menggelarnya kapan saja, asalkan semua bahan dan syarat upacara sudah lengkap. Namun, tradisi ini memiliki makna spiritual yang dalam—jika tidak dilakukan, dipercaya aka nada akibat atau tanda-tanda gangguan dalam keluarga, seperti datangnya penyakit.
Baca Juga: Sanggar Tari Prameswari di Desa Papar Kediri Ini Jadi Wadah Kreativitas dan Pelestarian Budaya
Jika ada anggota kelurga yang sakit dan dibawa ke Pendoa, dan diketahui bahwa keluarga tersebut belum melaksanakan upacara Mora, maka penyakit itu bisa sembuh setelah upacara adat dilakukan, selama keluarga tersebut jujur dan tulus menjalankan adat.
Hingga kini, masyarakat Wae Rebo masih menjaga kuar tradisi Mora sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur dan keseimbangan hidup. Tradisi ini bukan hanyaritual, tetapi juga cermin dari nilai-nilai luhur masyarakat Manggarai—tentang kebersamaan, rasa hormat, dan kejujuran yang diwariskan turun-temurun.
Keberadaan upacara Mora menjadi bukti bahwa masyarakat Wae Rebo tetap memegang teguh warisan budaya nenek moyang mereka. Di tengah modernisasi, tradisi ini terus hidup dan menjadi identitas kuat dari masyarakat adat Manggarai yang patut dilestarikan.
Baca Juga: Wayang Krucil Kediri: Dari Kayu Mentaos Menjadi Panggung Sejarah Panji
Penulis adalah Emerensiana Jufianti Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian