Di tengah gempuran budaya modern, Pemdes Janti memiliki cara tersendiri untuk menjaga warisan seni tradisi. Yaitu melalui kelompok tari Jaranan Turonggo Seto. Jaranan tersebut diketahui sudah berdiri sejak tahun 90-an dan dikelola langsung oleh pemdes.
Hal tersebut dilakukan dengan tujuan merangkul generasi muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan positif sekaligus melestarikan budaya. Kesenian Jaranan beranggotakan sekitar 25 pemuda karang taruna desa. Mulai dari rentang usia SMP hingga SMA.
“Sekarang latihan rutinnya paling setiap malam minggu atau tanggal merah di halaman rumah saya, alat musiknya juga di sana semua,” ucap Kepala Desa Janti Didik Sujatmiko.
Peralatan yang dimiliki kelompok tari tersebut tergolong lengkap mulai dari kendang, gong, terompet, hingga salon (pengeras suara). Semuanya tersimpan di rumah Didik dan digunakan saat pentas berlangsung.
Didik mengatakan bahwa, proses regenerasi anggota dilakukan secara alami. Yaitu ketika anggota senior mulai disibukkan dengan pekerjaan, posisi mereka akan digantikan oleh anggota yang lebih muda.
“Pelatihnya ya dari seniornya sendiri, baru kalau mau tampil latihannya jadi lebih sering,” ungkapnya.
Jaranan Turonggo Seto tidak hanya tampil di tingkat desa. Tetapi juga sering diundang untuk pentas di luar kota. Seperti Tuban dan Bojonegoro. Untuk setiap penampilan, peralatan musik disediakan oleh desa. Sementara kostum tari diputuskan untuk menyewa. Hal ini dilakukan karena busana Jaranan yang dimiliki sudah lawas dan tidak layak pakai.
Didik menjelaskan bahwa keputusan menyewa kostum lebih praktis dan efisien. “Kalau buat kan mahal, terus karena tren baju jaranan itu ganti-ganti terus jadi diputuskan sewa aja setiap mau tampil,” jelasnya.
Selain untuk melestarikan budaya, Pemdes Janti juga melihat komunitas ini sebagai wadah positif bagi para pemuda. “Daripada jogrokan enggak jelas lebih baik kalau mereka kumpul untuk belajar hal positif, melestarikan kebudayaan kita juga,” pungkas Didik.
Editor : Andhika Attar Anindita