Tidak jauh dari pohon raksasa itu, di sisi sebelah Utara, ada prasasti yang dibubuhi tanda tangan Drs. H. A. Maschut, Wali Kota Kediri ke-13. Pohon Beringin itu menjadi bukti perjalanan sejarah Indonesia di Kota Kediri. Menurut Pengamat Sejarah Kediri Achmad Zainal Fachris,menjadi salah satu simbol penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia pada 1949 lalu.
“Kalau di Jakarta, (penyerahan kedaulatan, Red) oleh wakil tinggi mahkota Belanda A.H.J. Lovink kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Termasuk di Kediri, untuk wilayah Kediri dan Madiun diserahkan dari pimpinan Belanda Kolonel Paulisen kepada Letkol Soerachmad,” ujar pria yang akrab disapa Fachris itu.
Sebagai simbol penyerahan kedaulatan, ditanamlah pohon beringin di halaman SD Pawyatan Daha. Sebelumnya, kawasan itu juga merupakan kompleks sekolah. Yakni, bekas sekolah Froebel yang didirikan pemerintah kolonial Belanda.
Baca Juga: Cari Temuan Baru, Situs Tondowongso Kembali Di-ekskavasi
“Dulu, sekolahan itu miliknya perkumpulan, jadi sekolah swasta sejak dulu,” ungkap Fachris sembari menyebut, pemilihan pohon beringin itu ditujukan sebagai simbol kedaulatan yang kini dimiliki bangsa Indonesia.
Hingga saat ini, pohon berdiameter lebih dari 2 meter itu masih berdiri kokoh. Di depannya terdapat prasasti yang ditandatangani wali kota Kediri pada 27 Juli 2003 lalu. Atau, bertepatan pula dengan hari jadi Kota Kediri.
Dalam prasasti terdapat keterangan bahwa pohon itu ditanam sebagai lambang penyerahan kembali kedaulatan atas nama Kota Kediri dari Pemerintah Pendudukan Belanda kepada Indonesia. Penyerahan kedaulatan itu terjadi pada 27 Desember 1949 di bawah kesaksian Komisi Tiga Negara (KTN). Yaitu Australia, Belgia, dan Amerika.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian