Moestopo merupakan tokoh militer, dokter gigi, dan juga pendidik yang lahir di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri pada 13 Juli 1913. Sebagai penghargaan terhadap segala jasa dan perjuangannya, pemerintah mendirikan monumen Moestopo pada 2017 silam.
“Banyak sekali jasanya. Baik perjuangan melawan penjajah, jasanya dalam ilmu kedokteran gigi dan juga pendidikan,” terang Muhammad Tantowi sebagai anggota Pasak Kadiri yang menjadi pemandu di tour gratis tersebut.
Laki-laki yang kerap disapa Tantowi menjelaskan alasan Moestopo disebut memiliki jasa dalam pendidikan. Itu karena dia pernah mendirikan sebuah kampus di Jakarta. Kampus tersebut bernama Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).
Pada masa penjajahan Jepang, Moestopo pernah menjadi anggota PETA. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Moestopo dipilih menjadi kepala BKR Karesidenan Surabaya. Tidak lama menjabat menjadi kepala BKR, ia diangkat Presiden Soekarno menjadi penasehat agung presiden.
Ketika masih menjabat sebagai kepala BKR Karesidenan Surabaya usai Indonesia merdeka. Pasukan Belanda hendak datang kembali ke Indonesia. Saat itu, tentara Belanda dipimpin jenderal AWS Mallaby.
“Karena Moestopo yang pada saat itu menjadi kepala BKR, mendengar Mallaby mau mendarat ke Surabaya, dia berulang kali memperingatkan agar tidak mendarat di Surabaya,” ucap Tantowi. Hingga akhirnya meletus pertempuran 10 November di Surabaya. Pertempuran itu berhasil mengusir penjajah dan kini diperingati sebagai hari pahlawan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian