Ketua Harian Situs Rumah Persada Soekarno, Kushartono, mengatakan dasar ruwatan negara ini juga merujuk pada peringatan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidatonya, Presiden menyinggung analisis dunia tentang kemungkinan pecahnya perang dunia mencapai 17 persen. Bahkan ada potensi perang nuklir.
“Dengan ruwatan ini, kami berharap Indonesia bisa menjadi mercusuar perdamaian dunia. Memang tampak mustahil tapi bangsa ini percaya kekuatan terbesar adalah berkat rahmat Allah yang maha kuasa,” ujar Kushartono.
Dia menegaskan, keyakinan itu selaras dengan alinea ketiga pembukaan UUD 1945 yang menegaskan kemerdekaan bangsa lahir atas berkat rahmat Tuhan. Sebelum prosesi doa bersama, ada kirab wayang mbah gandrung dari Balai Desa Pagung, Kecamatan Semen.
Rombongan berjalan kaki sejauh 45 kilometer sambil mengusung gamelan dan perangkat wayang khusus ruwatan, hingga akhirnya tiba di Situs Persada Soekarno. Dalam kesempatan itu, Kushartono juga menyuarakan pentingnya penetapan 18 Agustus sebagai hari berdirinya negara Republik Indonesia.
Menurutnya, tanggal 17 Agustus memang sah sebagai hari kemerdekaan bangsa, namun sehari setelahnya lahirlah negara Indonesia melalui sidang PPKI. “Pada 18 Agustus 1945, Bung Karno diangkat sebagai presiden, UUD disahkan, Pancasila ditetapkan, dan delapan wilayah gubernur dibentuk. Jadi saat itulah NKRI resmi berdiri,” jelasnya.
Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan petisi agar pemerintah menetapkan 18 Agustus sebagai Hari Berdirinya NKRI. Kushartono mencontohkan, Hari Lahir Pancasila baru ditetapkan pada 2015 dan Hari Santri pada 2016, padahal peristiwanya terjadi sejak 1945.
“Sudah 78 tahun bangsa ini berdiri, tidak mustahil jika penetapan hari berdirinya negara akhirnya diakui. Petisi ini segera kita ajukan,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian