Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Redefinisi Lambang Kota Kediri, Memaknai Ulang Simbol Buto Locoyo dan Macan Putih

rekian • Minggu, 27 Juli 2025 | 07:40 WIB

PROFIL: Zainal Afandi, Rektor Universitas Nusantara PGRI Kediri sekaligus sebagai dosen sejarah.
PROFIL: Zainal Afandi, Rektor Universitas Nusantara PGRI Kediri sekaligus sebagai dosen sejarah.
KEDIRI, JP Radar Kediri- Perayaan Hari Jadi Kota Kediri diperingati setiap 27 Juli. Tahun ini, usianya sudah memasuki angka 1.146 tahun. Usia yang sangat tua. Karena jauh melampaui hari lahir Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Agustus nanti baru menginjak usia ke-80 tahun. 

Usia kota yang sangat tua itu bukan tanpa landasan. Penetapan Hari Jadi Kota Kediri ini didasarkan pada penanggalan Prasasti Kwak. Yang memuat anasir penanggalan “tahun Saka 801, bulan Srawana, tanggal 5 paroh terang (pancamisuklapakso)”. Jika dikonversikan ke dalam tarikh Masehi bertepatan pada Senin Legi, 27 Juli 879 Masehi.

Hari Jadi Kota Kediri secara resmi dirayakan Pemerintah Kota Kediri pada 2002 ketika berusia 1.123 tahun. Perayaan Hari Jadi untuk pertama kali itu dilaksanakan setelah DPRD Kota Kediri memilih dan menetapkan pertanggalan pada Prasasti Kwak 27 Juli 879 Masehi.

Waktu itu tema yang diusung “Menelusuri Jejak-Jejak Kejayaan Kota Kediri”. Tidak terasa tahun ini, 23 tahun sudah Pemerintah Kota dan masyarakat Kota Kediri merayakan hari jadinya. Selama itu pula sudah ratusan acara digelar untuk merayakan hari jadi. Mulai hiburan hingga acara penuh makna yang digelar untuk merayakan Hari Jadi Kota Kediri.

Sebagai warga Kota Kediri yang peduli dengan dinamika kotanya, ada satu hal yang masih mengusik pikiran saya. Rasa itu muncul setiap Juli, saat warga Kota Kediri akan merayakan hari jadinya.

Hal yang mengganggu itu berkaitan dengan Lambang Kota Kediri yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan DPRD sementara Kota Besar Kediri Nomor 22/DPRD-S/52, 30 Maret 1952. Penjelasan lambang Kota Kediri itu ada di Website Resmi Pemerintah Kota Kediri.

1) Buta Locoyo -Ki Ageng Dhoho- patih dari Sri Aji Joyoboyo yang setia, teguh dan jujur, penjaga Kota Kediri, lambang kesetiaan, keteguhan, dan kejujuran;
2) Perisai-lambang pertahanan;
3) Macan Putih (Sri Aji Joyoboyo-Raja Pujangga ahli nujum ternama dari Kediri-lambang waspada;
4) Bunga Melati-Bunga Nasional (Bunga Pusaka Indonesia) berdaun lima lambang Pancasila;
5) Padi dan Kapas-lambang kemakmuran;
6) Dewi Kilisuci-Namanya sesuai dengan jiwanya. Ia bertapa untuk kepentingan saudaranya yang diberi haknya untuk memimpin rakyatnya, lambang tidak mementingkan diri sendiri;
7) Pita “Djojo ing Bojo”-bahan pengikat atau mempersatukan, lambang persatuan; dan
8) Sayap berbulu 17 dan 8 dan ekor berbulu 4 dan 5-17-8-1945, lambang Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Saya tidak punya pemikiran agar logo dan lambang diganti. Tetapi apa tidak sebaiknya dilakukan redefinisi karena tafsir makna yang berbeda dan sangat mendasar. Ada dua hal yang perlu diredefinisi, yakni perubahan nama Buto Locoyo dan perubahan pengertian Macan Putih.

Buto Locoyo, buto/buta, merupakan makhluk mitologis yang dalam dunia pewayangan sering digambarkan sebagai tokoh antagonis, memiliki ukuran tubuh besar, kekuatan fisik yang luar biasa, dan seringkali jahat. Di berbagai daerah, buta atau raksasa ini dipahami sebagai makhluk besar yang seringkali jahat.

Menurut cermatan saya, Buto Locoyo yang terdapat pada Lambang Kota Kediri itu sebenarnya adalah Narasingha. Merupakan satu di antara 10 macam penjelmaan Dewa Wisnu ke dunia (dasawatara Wisnu). Wujudnya manusia (nara) setengah singa (singha). Turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari keangkaramurkaan (Hiranyakasipu). Dewa Wisnu adalah dewa yang dipuja Raja Jayabaya.

Baca Juga: Bersih Desa Gampeng, Jadi Momentum Penjual Kuliner Tradisional di Kediri Berburu Cuan  

Dalam beberapa prasasti, Raja Jayabaya disebut sebagai madhusudana awatara atau titisan Dewa Wisnu. Raja Jayabaya juga menjadikan Narasingha ini sebagai lancana atau cap kerajaan. Pada masa berikutnya, Narasingha tetap dianggap penting bagi raja-raja Kediri. Raja-raja Kediri tetap menganggap dirinya sebagai titisan Dewa Wisnu. Terbukti ketika Kediri di bawah kekuasaan Kerajaan Singhasari, raja yang berkuasa di Kediri adalah Mahesa Cempaka yang bergelar Bhatara Narasinghamurti. Dengan demikian Buto Locoyo sebenarnya adalah Narasingha. Bukanlah Patih Raja Jayabaya tetapi adalah Raja Jayabaya itu sendiri. Raja yang berhasil menyatukan Bhumi Kadhiri.

Selanjutnya adalah Macan Putih. Dikenal sebagai julukan tim Persik Kediri. Dalam konteks Kota Kediri, sangat mungkin dikaitkan dengan Kisah Bubuksah Gagangaking. Setting ceritanya ada di Gunung Klotok. Macan Putih merupakan binatang mitologi yang muncul pada kisah Bubuksah-Gagangaking. Dalam kisah ini dijelaskan ada dua orang saudara kakak beradik. Yang gemuk bernama Bubuksah dan yang kurus bernama Gagangaking.

Kedua saudara yang memiliki keyakinan berbeda ini sama-sama lelaku untuk mencapai kesempurnaan hidup. Bubuksah bertapa di Goa Selomangleng sementara Gagangaking bertapa di Goa Selobale. Pada suatu hari, lelaku kakak beradik ini diuji oleh Dewa Siwa. Dewa Siwa menjelma sebagai Kalawijaya dalam wujud Macan Putih. Mula-mula Macan Putih menemui Gagangaking lalu ditanya apakah ia bersedia dimangsa untuk menghilangkan rasa lapar. Gagangaking serta merta menolak, karena badannya kurus tidak berdaging. Ia menganjurkan agar Macan Putih memangsa adiknya yang berbadan gemuk karena suka makan.

Ketika Macan Putih bertanya kepada Bubuksah, apa ia bersedia dimangsa, ternyata Bubuksah dengan ikhlas hati menyerahkan tubuhnya untuk menjadi santapan Macan Putih. Karena hanya untuk menguji lelaku, Bubuksah tidak dimangsa Kalawijaya (macan Putih) tetapi malah dinyatakan lulus dalam melakukan lelaku.

Dengan melakukan redefinisi maka Lambang Kota Kediri terdapat dua unsur kekuatan yang maha hebat. Yaitu pada Narasingha yang merupakan awatara Dewa Wisnu dan Macan Putih yang merupakan emanasi Dewa Siwa. Gabungan dua kekuatan ini, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa akan menjadi Harihara (Shankaranarayana) yang merupakan simbol kekuatan Yang Maha Kuasa.
Demikian sedikit urun pemikiran untuk Warga Kota dan Pemerintah Kediri. Saya berharap setitik pemikiran ini tidak akan menimbulkan polemik karena tujuannya semata-mata hanya untuk memberikan pemahaman yang bersifat positif terhadap Lambang Kota Kediri. Lambang Kota tentu tidak hanya sekedar simbol yang menjadi penciri tetapi juga mengandung harapan akan tercapainya cita-cita bersama. Dirgahayu Kota Kediri – MAPAN - Kediri Maju dan Bersinergi. Semoga bermakna. (penulis adalah Zainal Afandi, penulis adalah dosen sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri)

Editor : rekian
#unp kediri #lambang #persik #Redefinisi #macan putih #Buto Locoyo #simbol #kota kediri