Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Disaksikan Ratusan Pengunjung, Begini Hebohnya Suasana Larung Sesaji di Kawah Gunung Kelud

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 7 Juli 2025 | 15:03 WIB

 

Warga beebut sesajen saat larung sesaji di Gunung Kelud.
Warga beebut sesajen saat larung sesaji di Gunung Kelud.

JP Radar Kediri-Perayaan larung sesaji di Gunung Kelud kemarin disambut antusias ratusan pengunjung. Mereka menyebut di pelataran parkir atas untuk mengikuti rebutan gunungan sayuran dan buah-buahan setelah pelaksanaan larung. 

Pantauan koran ini, ritual larung sesaji dimulai sekitar pukul 06.30. Sejumlah sesepuh desa di lereng Gunung Kelud yang memakai baju serbahitam menggelar doa sebelum melarung sesaji.

Setelah doa selesai, sejumlah sesaji yang diletakkan di nampan langsung dibawa ke kawah. Mulai dari aneka tumpeng, buah-buahan, pala pendem, hingga dua ekor ayam yang ikut dilepas di kawah.

Ritual larung sesaji yang digelar di area kawah ini tidak bisa disaksikan langsung oleh warga. Melainkan hanya dilakukan oleh perwakilan sesepuh desa saja.

Begitu larung sesaji selesai, panitia langsung mengarak gunungan. Rupanya, sebelum doa bersama pengarakan gunungan selesai, warga sudah menghambur berebut isi gunungan yang ada di depan mereka.

“Luar biasa. Ini lebih ramai dari tahun sebelumnya,” kata Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi.

Melihat persiapan warga yang sudah membawa tas kresek untuk wadah gunungan, Mustika langsung tertawa. “Belum selesai aba-aba, mereka sudah ‘menyerang’ duluan,” lanjut Mustika saat melihat warga sudah menyerbu mengambili isi gunungan meski doa belum selesai.

Lebih jauh Mustika menyebut, ritual larung sesaji kemarin merupakan wujud syukur masyarakat. Keberadaan Gunung Kelud dianggap membawa berkah bagi warga yang tinggal di lereng gunung aktif itu.

Pria yang secara definitif menjabat kabag umum ini menyebut Pemkab Kediri tengah berupaya agar Gunung Kelud bisa menjadi wisata nasional atau internasional. Karenanya, mereka berupaya meramaikan kembali Kelud.

“Itu adalah tantangan bagi kita. Kita sudah punya Gunung Kelud. Tinggal dalam prinsip bagaimana pengelolaan wisatanya,” jelas Mustika.

Untuk meramaikan Kelud, pihaknya akan memenuhi unsur 3A. Mulai atraksi, aksesibilitas, hingga amenitas. Larung sesaji menurutnya jadi salah satu bagian atraksi yang akan terus digelar secara kontinyu.

Terkait aksesibilitas, Mustika menyebut pemkab akan terus memperbaiki akses menuju ke Gunung Kelud. “Jalan kami perbaiki. Mungkin pengaman-pengaman. Lampu-lampu, penanda dan lain-lain. Sehingga kalau itu sudah tercukupi wisatawan bisa aman naik,” paparnya.

Untuk amenitas, menurut Mustika sebenarnya homestay atau hotel di sekitar Kelud sudah ada. Meski, diakuinya pengelolaan tempat-tempat tersebut harus lebih baik lagi.

“Wisata Kabupaten Kediri harus naik kelas. Itu PR kami. Bukan hanya dinas pariwisata. Harus semuanya ikut terlibat,” tandasnya.

Sementara itu, ratusan warga yang antusias mengikuti larung sesaji di Gunung Kelud kemarin mengaku sengaja datang ke lokasi sejak pagi. Seperti yang dilakukan Nuryani, 53, asal Desa Sumberagung, Wates.

 Dia mengaku sengaja menyaksikan larung sesaji bersama teman dan kerabatnya. Perempuan paruh baya itu juga antusias ikut berebut isi gunungan dengan pengunjung lain.

“Sebenarnya di rumah beli juga bisa. Tapi ada kesenangan tersendiri. Ada keseruannya. Kan gak setiap hari ada,” tuturnya sambil tersenyum menunjukkan sayur dan buah-buahan di plastik warna merah miliknya. (sad/ut)

Editor : Mahfud
#pemkab kediri #gunung kelud #Kawah #larung sesaji