“Larung sesaji ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME),” ujar Plt Camat Ngancar, Moh Muthoin.
Dia mengatakan, bahwa kehidupan masyarakat Ngancar sangat bergantung pada alam di Gunung Kelud. Mulai dari sektor pertanian, perkebunan, hingga usaha lainnya yang menopang ekonomi warga.
Karena itu, tradisi larung sesaji menjadi momen sakral yang terus dilestarikan setiap tahun. Sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, saat pelaksanaan prosesi larung sesaji itu, para sesepuh dan juru kunci Gunung Kelud berangkat dari area parkir sekitar pukul 06.00 menuju ke puncak.
Dalam ritual aneka sesaji seperti pisang, sekul suci ulam dari cok bakal, polo pendem, ayam jawa, dan ayam cemani, dibawa ke puncak. Berikutnya sesaji tersebut dilarung ke kawah Gunung Kelud sebagai simbol persembahan kepada alam.
“Ayam cemani dan ayam jawa tadi juga kita lepas di kawasan kawah sebagai bagian dari ritual. Semua ini wujud syukur atas penghidupan yang baik selama ini,” terang Muthoin.
Dalam ritual itu, warga berharap keberkahan terus mengalir untuk warga Ngancar dan kawasan Gunung Kelud tetap aman dari bencana.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian