JP Radar Kediri – Pencak silat di Indonesia memiliki banyak aliran dan gaya. Namun, dua nama yang sering terdengar di tengah masyarakat adalah pencak silat IPSI dan pencak dor. Keduanya sekilas tampak serupa, tapi sejatinya sangat berbeda, terutama dari gaya pertandingan dan sistem pertarungannya.
Ketua Umum IPSI Kota Kediri, Siswanto (66), menegaskan bahwa perbedaan paling mencolok terletak pada aturan dan gaya tanding. Dalam pertandingan resmi pencak silat yang berada di bawah naungan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), seluruh gerakan dan penilaian sudah diatur secara ketat.
“Kalau pencak silat IPSI itu jelas aturannya. Ada wasit, sistem nilai, batas teknik, dan pelindung yang lengkap. Tidak bisa bertarung sembarangan,” ujar Siswanto.
Pencak Silat IPSI: Terukur dan Kompetitif
Dalam pertandingan resmi IPSI, atlet diwajibkan mengenakan perlengkapan standar seperti pelindung badan (body protector), head guard, dan sarung tangan. Pertandingan dipimpin oleh wasit utama dan juri, dengan sistem nilai berdasarkan teknik, ketepatan serangan, dan sportivitas.
Pertarungan juga dibatasi oleh waktu dan ronde, sesuai regulasi nasional maupun internasional.
Pencak Dor: Bebas Tapi Tetap Punya Batas
Berbeda dengan sistem di IPSI, pencak dor dikenal sebagai pertarungan bebas yang kerap dijumpai di acara-acara rakyat seperti pasar malam atau hajatan. Meski disebut bebas, pencak dor tetap memiliki aturan dasar yang harus dipatuhi.
Dilansir dari laman resmi pagarnusa.or.id, pencak dor memungkinkan peserta menggunakan jurus dan gaya bertarung masing-masing secara bebas dan tanpa batas teknik khusus. Namun, terdapat aturan dasar yang menjadi pedoman agar pertarungan tetap terkendali.
Aturan Dasar Pencak Dor:
- Dilarang meludahi lawan.
- Dilarang menyerang saat lawan sudah terjatuh.
- Dilarang menyerang bagian vital seperti kemaluan.
Pertandingan diawasi oleh dua orang wasit yang biasanya merupakan pendekar senior. Mereka bertugas menjaga jalannya laga tetap aman dan memisahkan jika peserta bertarung terlalu brutal.
Yang menarik, dalam kegiatan pencak dor, umumnya tidak ada tenaga medis profesional. Jika terjadi cedera, peserta hanya ditangani oleh tukang urut atau sangkal putung (tabib tulang) yang disiapkan panitia.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Jauhar Yohanis