Indonesia memiliki banyak tradisi lokal yang masih dilestarikan masyarakat. Seperti acara Barikan yang digelar warga RT 01 Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri saat memperingati 1 Muharram. Warga berkumpul dengan membawa nasi beserta lauk-pauknya dalam wadah tradisional yang disebut Lengkong.
Lengkong adalah benda berbentuk kotak dari gedebog pisang. Dirangkai menggunakan bambu sebagai kerangka dan pengikatnya agar tak lepas. Kemudian alasnya ditutup dengan daun pisang. Lengkong berfungsi untuk wadah makanan. Digunakan saat ada kegiatan seperti bersih desa, barikan, atau tahlilan.
Bukan hanya sebagai wadah tetapi juga mengandung filosofi luhur. Yakni tentang kebersamaan dan kearifan lokal. Berikut adalah makna dan filosofi dari wadah tradisional ini.
Sejarah Lengkong: Wadah Makanan dalam Tradisi Masyarakat Jawa
Penggunaan lengkong dalam tradisi masyarakat Jawa telah berlangsung sejak lama, jauh sebelum hadirnya piring dan wadah makan modern. Dibuat dari gedebog (batang pisang), dengan kerangka bambu dan alas daun pisang, lengkong menjadi simbol masyarakat lokal dalam memanfaatkan alam sekitar secara berkelanjutan.
Fungsinya tak hanya sekadar sebagai tempat menyajikan makanan, tetapi juga sebagai elemen penting dalam berbagai acara adat seperti barikan, bersih desa, hingga tahlilan. Di dalamnya, disajikan berbagai lauk-pauk seperti nasi, ayam, sambal goreng tahu kentang, mie, serundeng, dan pisang. Yang menjadi representasi nyata dari hasil bumi masyarakat sekitar
Filosofi Lengkong: Simbol Kebersamaan dan Syukur
Bentuk lengkong yang besar dan mampu menampung aneka makanan bukan tanpa makna. Ia melambangkan semangat gotong royong dan kebersamaan warga. Makanan yang dibawa dari rumah masing-masing kemudian disantap bersama, memperkuat ikatan sosial dan rasa saling peduli di antara sesama.
Selain itu, pemakaian lengkong adalah wujud nyata rasa syukur atas rezeki yang diperoleh masyarakat. Filosofi ini begitu penting di tengah masyarakat yang semakin modern, di mana nilai-nilai tradisi dan kebersamaan kerap tergerus oleh individualisme.
Baca Juga: Tak Sekadar Bela Diri, Inilah Makna Falsafah dan Semboyan PSHT
“Momen makan bersama bawa lengkong sesama warga seperti ini kan menjadi momen kebersamaan dan mempererat hubungan” ujar Naim Ketua RT dalam sambutannya.
Edukasi dan Pelestarian: Menghidupkan Tradisi untuk Generasi Muda
Ketua RT 01 Mojoroto, Naim, mengatakan, penggunaan lengkong pada acara barikan juga menjadi cara mengenalkan alat makan tradisional kepada generasi muda. “Banyak anak muda yang bahkan tidak tahu apa itu lengkong. Padahal ini bagian dari tradisi yang dari dulu sudah dilakukan” ujarnya.
Dalam perayaan barikan warga RT 01 tahun ini, sebanyak 150 lengkong dibuat sendiri oleh anak-anak muda setempat. Meski sempat kesulitan saat pembuatannya, mereka tetap bersemangat. Itu karena sadar bahwa pelestarian budaya harus dimulai dari keterlibatan aktif generasi penerus.
Baca Juga: Mitos Hewan di Malam 1 Sura, Pertanda Alam dari Dunia Leluhur
Menariknya, semua bahan untuk membuat lengkong, seperti gedebog pisang, daun pisang, dan bambu berasal dari kebun warga sendiri. Hal ini dikarenakan kawasan RT 01 Mojoroto masih memiliki banyak ruang terbuka hijau. Inisiatif ini sekaligus mendukung tema zero waste dalam pelaksanaan acara, karena lengkong sepenuhnya ramah lingkungan dan dapat terurai secara alami.
Baca Juga: Teliti Arca Gayam, Kediri, Bagian yang Hilang Penting untuk Tentukan Sosok dalam Patung Kuno
Lengkong: Bukan Sekadar Wadah
Apa yang dilakukan warga RT 01 Kelurahan Mojoroto bukan hanya perayaan tahunan biasa. Ini adalah contoh konkret bagaimana masyarakat bisa merawat budaya, memperkuat jalinan sosial, dan hidup selaras dengan alam melalui hal sederhana seperti lengkong. Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi seperti ini menjadi oase yang mengingatkan kita akan akar, nilai, dan identitas bersama.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian