KEDIRI, JP Radar Kediri– Ritual upacara adat tahunan Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri kembali hadir dengan agenda pencucian batu manik Sri Aji Jayabaya. Kegiatan ini dilaksanakan di Petilasan Sri Aji Jayabaya, Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, pada Kamis pagi (26/6).
Agenda budaya ini digelar dalam rangka untuk memperingati pergantian tahun yang jatuh pada Jumat Kliwon, 27 Juni 2025. Selain itu, pencucian batu manik dilaksanakan sebagain penghormatan Agung Sang Prabu Sri Aji Jayabaya.
Diketahui, ritual ini merupakan mandat dari leluhur juru kunci bangunan sakral tersebut. Mbah Gaping dengan nama asli Sunardi, 60, menjelaskan esensi dan makna tradisi tersebut.
“Pamuksan memang dicuci setahun sekali dan dilaksanakan setiap Suro, Suro di mata masyarakat Jawa itu berarti hari berkah dan hari keramat, jadi agenda ini sebagai penghormatan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya” jelas Mbah Gabing, saat diwawancarai Radar Kediri, Kamis, (26/6).
Pencucian bangunan batu manik Pamuksan Sri Aji Jayabaya dilakukan dengan air bersih mengalir dan sabun deterjen. Setelah pembersihan selesai dilakukan, seluruh bangunan Pamuksan diolesi dengan minyak wangi melati keratonan.
Salah satu peserta pencucian Pamuksan, yakni Yudi Sarwono, 52, warga setempat Desa Menang turut buka suara menjelaskan pentingnya tradisi ini. Menurut Yudi, gelaran ini adalah adat dan tradisi, yang sudah menjadi nafas kewajiban masyarakat setempat untuk melaksanakan wasiat dari leluhur sebagai proses penghormatan dan pelestarian budaya.
Baca Juga: Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud: Warisan Budaya Sakral Peringatan Satu Suro di Kediri
Di akhir sesi prosesi ritual, Mbah Gabing membagikan beberapa helai kain putih polos dengan ukuran sekitar 1 meter kepada masyarakat peserta pencucian Pamuksan.
“Kain putih ini merupakan bentuk dan simbol kehidupan. Kain ini sebagai pengingat kematian, dibagikan dengan tujuan untuk mengingatkan kepada ajal setiap manusia. Selain itu, sebagai wujud pergantian tahun baru Jawa yang bersih” ungkapnya menjelaskan.
Baca Juga: Weton Tulang Wangi, Lahir dengan Aura Gaib? Ini Ciri-ciri dan Pengaruhnya Saat Malam 1 Suro
Menurut keterangan Mbah Gabing, Pamuksan Sri Aji Jayabaya adalah tempat sakral leluhur. Tempat ini juga menjadi tempat utama Prabu Jayabaya mengalami muksa dari duniawi.
Pamuksan Sri Aji Jayabaya terdiri dari 3 sub-bangunan. Bangunan utama adalah Loka Muksa, dipercaya sebagai tempat muksa Sang Prabu. Di samping bangunan utrama, terdapat loka busana yang diyakini sebagai tempat berbusana Sang Prabu.
Sedangkan bangunan terakhir adalah Loka Mahkota, tempat peristirahatan Mahkota Sang Prabu Sri Aji Jayabaya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian