KEDIRI, JP RADAR KEDIRI-Di tengah modernisasi yang semakin kuat, banyak orang yang kembali mencari ketenangan jiwa melalui jejak-jejak spiritual dari masa lalu.
Salah satu contohnya adalah Sendang Tirto Kamandanu yang terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Lokasi yang menyimpan sejarah, kepercayaan, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun masyarakat Jawa.
Tempat ini dikenal sebagai situs suci yang dipercaya sebagai petilasan Prabu Jayabaya. Seorang raja legendaris yang terkenal dengan ramalannya mengenai masa depan Nusantara.
Di sendang ini, para pengunjung datang untuk membersihkan diri, melakukan semedi, berziarah, serta mencari ketenangan jiwa di tengah kesibukan dunia modern.
Sebagian masyarakat menyebut area ini sebagai tempat untuk menyucikan diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, mengikuti jejak spiritual para leluhur.
Pada hari Kamis, 26 Juni 2025, suasana di sekitar sendang semakin terasa khidmat. Beberapa peziarah terlihat duduk dengan tenang di pendopo kecil, sementara yang lainnya menimba air dari sendang untuk membasuh wajah dan kaki sebelum melakukan semedi atau menaburkan bunga di petilasan.
Ali, peziarah asal Ngadiluwih, mengaku rutin datang ke Sendang Kamandanu sejak 2013. Baginya, ziarah bukan sekadar ritual wajib, tapi bentuk penghormatan terhadap para leluhur.
“Saya ke sini cuma ziarah. Nggak harus bawa dupa, yang penting niatnya. Seperti silaturahmi ke orang tua, kita menghargai yang lebih tua, meminta restu. Kalau ada waktu dan kesempatan, saya datang. Kadang seminggu dua kali, kadang sebulan sekali,” ujarnya.
Ali menambahkan, suasana di sekitar sendang sangat mendukung untuk mencari ketenangan. “Penat kerja, sore hari ke sini itu rasanya adem. Zaman sekarang cari tempat tenang di kota makin sulit. Di sinilah orang mencari kenyamanan,” tuturnya.
Ali menambahkan bahwa Sendang Tirto Kamandanu adalah tempat Prabu Jayabaya menyucikan diri sebelum mencapai muksa, yaitu bersatunya raga dan jiwa dengan Tuhan. Proses ini tidak sembarangan.
Orang Jawa percaya, sebelum menyatu dengan Sang Pencipta, seseorang harus membersihkan diri, baik lahir maupun batin.
“Orang Jawa itu semedi untuk mengangkat keinginan dan nafsu. Intinya menghilangkan sifat-sifat duniawi. Baru setelah itu bisa mencapai muksa,” kata Ali.
Peziarah lain, Rizal dari Ngadiluwih, juga membagikan pandangannya. Ia mengaku sudah rutin datang sejak tahun 2013, sama seperti Ali.
“Saya juga ziarah dan menghormati orang yang lebih tua.Tempat ini bagi saya adalah petilasan, yaitu tempat yang pernah disinggahi seseorang dan diyakini sebagai jejak spiritual sesepuh, seperti Eyang Srigading,” jelasnya.
Bagi Rizal, menyambangi tempat ini bukan hanya bentuk penghormatan pada leluhur, tetapi juga usaha mencari arah dan ketenangan batin dalam hidup.
Menjelang dan selama bulan Suro, banyak peziarah menjalani puasa tradisional Jawa sebagai bentuk penyucian diri. Di antaranya:
Puasa Mutih: hanya makan nasi putih dan air, biasanya selama 7 hari. Hari pertama makan 7 kepalan, dan dikurangi satu setiap harinya.
Puasa Ngerowot: hanya mengonsumsi sayur dan buah tanpa nasi.
Puasa Pati Geni: menyendiri dalam gelap selama beberapa hari, tanpa makanan dan suara, untuk menenangkan jiwa.
“Bulan Suro bagi orang Jawa itu bukan sekadar penanggalan, tapi momentum spiritual. Lebih ke rasa. Tahun baru Jawa adalah waktu yang tepat untuk menyucikan diri,” jelas Rizal.
Sendang Tirto Kamandanu bukan sekadar destinasi wisata religi, melainkan juga warisan spiritual dan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Setiap langkah di tempat ini mengandung makna penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai luhur bangsa.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian