Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Punden atau Makam? Mengungkap Asal-Usul "Kuburan Bayi" di Desa Bangi Plemahan

Diana Yunita Sari • Rabu, 21 Mei 2025 | 22:19 WIB

caption

JP Radar Kediri- Di sudut pekarangan salah satu rumah warga di Desa Bangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri terdapat satu petak tanah menyerupai kuburan. Lahan kecil itu dikelilingi pagar bata rendah dan ditandai dengan batu dan papan nisan, layaknya sebuah makam. Warga sekitar menyebutnya dengan “Kuburan Bayi.”

Meskipun disebut kuburan, tak ada satu pun warga desa sekitar yang benar-benar tahu siapa yang dikubur di sana, atau apakah itu benar-benar kuburan.

“Tapi itu bukan kuburan, itu punden,” Ucap Dikan Santoso (65) seorang warga yang sejak kecil tinggal di sekitar lokasi. “Sama orang-orang sini dikasih papan nisan, jadi kelihatannya kaya kuburan. Dulu cuma ada satu batu begitu saja.” tambahnya. 

Baca Juga: Demi Hal Ini Pemdes Sumbercangkring Gurah Kediri Berikan Fasilitasi Pelatihan Green House

Cerita soal “Kuburan Bayi” telah menjadi bagian dari kisah turun-temurun di Desa Bangi. Nama itu muncul bukan karena ditemukan jasad bayi, melainkan karena masyarakat setempat mengaitkannya dengan seorang dukun bayi yang dipercaya sebagai orang pertama yang “babat alas” dan membuka wilayah desa itu. Namun, ini pun masih berupa dugaan semata.

“Orang-orang menyebutnya ‘kuburan bayi’, tapi sebenarnya tidak ada yang tahu itu kuburan atau bukan, warga sini percayanya itu tempat dukun bayi pertama atau yang babat alas di sini.” ucap Siti (60) salah satu warga yang tinggal di dekat punden.

Menurut Dikan dan Siti, punden semacam ini tidak hanya satu, ada lagi yang letaknya di dekat sumber mata air. Kedua tempat tersebut dianggap punya nilai sejarah meski tak tercatat resmi dalam dokumen pemerintah atau desa.

Baca Juga: Obituari Wali Kota Kediri Wijoto, Sosok Birokrat Disiplin dan Sederhana Itu Berpulang

Meski tidak jelas asal-usulnya, tempat ini tetap dijaga dan dirawat. Bukan karena kewajiban, tapi lebih karena kesadaran dan rasa hormat.

“Yang merawat ya orang yang punya tanah, juga orang-orang yang mau aja, Biasanya pas ada acara bersih desa, tempat itu kan dikondangi (berdoa sambil membawa berkat/makanan)" lanjut Siti.

Dalam tradisi kondangan itu, masyarakat berkumpul, berdoa, dan makan bersama di sekitar punden. Acara ini menjadi ajang mempererat hubungan warga, sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur atau tokoh-tokoh desa. 

Baca Juga: Usaha Pembuatan Sepatu Asal Desa Dayu Purwoasri Kediri Ini Laku Keras Diburu Pembeli

Menurut warga, dulu lokasi di sekitar punden dianggap menyeramkan sehingga banyak warga desa yang enggan membangun rumah di sekitar punden, harga tanahnya juga murah. Tetapi sekarang kondisinya sudah jauh berbeda, masyarakat sudah tidak menganggap seram tempat tersebut.

“Dulu gak ada yang mau bangun rumah dekat punden. Banyak barongannya (kebun bambu lebat) tapi sekarang kiri kanan sudah rumah semua, bahkan kadang orang lupa kalau di situ ada ‘kuburan’.” pungkas laki-laki yang akrab dipanggil Mbah Breng tersebut.

Kini, di tengah padatnya pemukiman dan berkembangnya Desa Bangi, “Kuburan Bayi” tetap menjadi penanda kecil dari sebuah jejak sejarah yang belum sepenuhnya terungkap.

Baca Juga: Warga Desa Jajar Wates Kediri Ini Geluti Usaha Pembuatan Sari Kedelai selama Puluhan Tahun

Editor : Jauhar Yohanis
#kediri #Plemahan kediri #Punden #makam #kuburan #plemahan